Supinatun (61) Warga Giwangan Yogyakarta Bingung Nasib Uangnya Rp 760 Juta di BUKP Galur Piye !

Ia mengaku dua kali ke Brosot, Galur, Kulon Progo karena ingin mencari kantor BUKP Galur dan mencari tahu nasib uang simpanannya sebesar Rp 760 juta. (foto/dok)

Kulon Progo, Proliman News – Raut wajah Supinatun (61) warga Giwangan, Umbulharjo XI, Yogyakarta, tampak sedih penuh kekawatiran.

Ia mengaku dua kali ke Brosot, Galur, Kulon Progo karena ingin mencari kantor BUKP Galur dan mencari tahu nasib uang simpanannya sebesar Rp 760 juta.

Pencarian pertama tidak ketemu lalu bertanya ke Polsek Galur dan diarahkan ke Markas Paguyuban Nasabah Korban BUKP Kulon Progo, di Brosot.

“Ya saat itu saya ketemu Mas Aan (Sasmito Nugroho Ketua Paguyuban Nasabah Korban BUKP Galur), dan kedua hari ini Kamis (3/7/2025) pagi, saya dipanggil Mas Aan.” katanya.

Niatnya hanya satu. Mau mencari dimana kantor BUKP Galur, dan bertemu dengan salah satu pegawai BUKP Galur yang menerima transefran uangnya selama ini.

“Saya baru tahu di sini, ini kok malah ada masalah begini. Sedih saya. Nasib uang saya gemana,” katanya menahan isak tangis.

Supinatun lalu mengatakan mengirim uang melalui pegawai BUKP Galur sejak tahun 2020 lalu.

Ia mengirimkan uang sudah tujuh kali, hingga terhimpun simpanan dalam 7 bilyet deposito Rp 769 juta di kepada BUKP Galur.

Ia mengaku mengenal BUKP Galur karena saran temannya yang juga suami salah satu pegawai BUKP Galur. Maka ia pun setuju menyimpan dana di BUKP Galur

Ia mengaku mengirim uang melalui rekening pegawai BUKP Galur itu sejak masih kerja di Singapura sebagai TKW.

BACA JUGA  AF (32) Warga Bener Purworejo Ditangkap Densus 88 Diduga Terlibat Jaringan Terorisme JAD

Tetapi sejak itu hingga sekarang ia belum pernah mendapatkan kiriman atau transferan bunga deposito sebagaimana dijanjikan oleh pegawai BUKP Galur tersebut.

Dalam buku tabungannya tercatat ada dana masuk dari bunga deposito dengan tulis tangan serta diparaf oleh pegawai BUKP Galur tersebut.

“Yang aneh, ketika saya tanya ke pegawai BUKP Galur tabungan saya belum bisa dibayarkan. Lho kenapa ini, maka saya lacak dimana kantornya,” katanya.

Yang lebih aneh lagi, beberapa waktu ini ia merasa susah menghubunginya.

Maka ia sangat kawatir, bahkan merasa sudah kena tipu oleh orang yang mengaku sebagai pegawai BUKP Galur.

Dan sesampai di Indonesia, setelah bertahun-tahun bekerja di Singapura ia kemudian berniat mencari kantor BUKP Galur.

“Lah kok di sini tidak ada kantornya, orang juga tidak tahu dimana kantornya, maka ia ke polisi dan diantar ke sini. Ini tambah merasahkan,” ujarnya lirih.

Ia mengaku kini harus merawat suaminya yang sakit, dan hidupnya seolah terjimpit karena uangnya di deposito BUKP Galur bermasalah. Bahkan tidak bisa dicairkan.

Lalu, depositonya di BUKP lain sekarang ia akan pindahkan ke bank pemerintah yang kredibel agar tidak mengalami nasib serupa dengan BUKP Galur.

Liputan : Selvie

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar