Kulon Progo, Proliman News – Komisi C DPRD DIY bersama Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) meninjau pemeliharaan DAS Serang di wilayah Sideman, Kalurahan Giripeni, Kapanewon Wates, Rabu (7/10/2026).
Anggota Komisi C DPRD DIY dari Dapil Kulon Progo, Lilik Syaiful Ahmad, mengatakan peninjauan dilakukan untuk memastikan aspirasi masyarakat di sepanjang DAS Serang benar-benar ditindaklanjuti.
Menurutnya, Sungai Serang memiliki panjang sekitar 28 kilometer. Jika termasuk anak sungai dan aliran lainnya, cakupan wilayah pengelolaan jauh lebih panjang.
Aspirasi terkait kondisi sungai dan tanggul, kata Lilik, datang dari sejumlah wilayah, antara lain Pengasih, Wates, Giripeni, Bendungan, Triharjo hingga Ngestiharjo.
“Keluhan dan aspirasi warga di beberapa wilayah Kali Serang ini kita tampung, kita terima, kemudian kita usulkan. Kebetulan ada juga usulan dari pemerintah kabupaten,” kata Lilik.
Ia menyebut pada 2026 terdapat empat titik pekerjaan di sekitar wilayah tersebut. Tiga titik berada di Kalurahan Giripeni dengan nilai masing-masing sekitar Rp200 juta, sedangkan satu titik di wilayah Kelurahan Wates sekitar Rp350 juta.
Namun, Lilik menegaskan pekerjaan tersebut belum berarti seluruh persoalan DAS Serang telah selesai. Perbaikan masih harus dilakukan secara bertahap, termasuk terhadap parapet yang mengalami kebocoran maupun konstruksi tanggul yang belum permanen.
“Belum semuanya terlaksana pada tahun ini,” ujarnya.
Lilik berharap dukungan anggaran dapat terus tersedia sehingga penanganan tidak berhenti pada normalisasi sungai, tetapi juga mencakup penguatan tanggul dan infrastruktur pengaman lainnya.
Petugas Operasi dan Pemeliharaan PPK OP SDA 2 BBWSO, Sutrisno, mengatakan pekerjaan di Sungai Serang dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan ketersediaan anggaran.
Di salah satu titik wilayah Giripeni, normalisasi sungai dilakukan sepanjang sekitar 557 meter dengan volume pekerjaan sekitar 28.000 meter kubik. Sebagian material hasil pengerukan dimanfaatkan untuk pengurugan area parkir Stadion Cangkring, Wates.
“Dengan adanya normalisasi ini mudah-mudahan mengurangi dampak banjir dan memperlancar debit air,” kata Sutrisno.
Ia menjelaskan, kegiatan normalisasi sebenarnya telah dilakukan sejak 2025 melalui program operasi dan pemeliharaan. Namun, keterbatasan anggaran membuat pekerjaan lebih diprioritaskan pada titik-titik yang dianggap mendesak.
“Dengan anggaran kecil, kita bisa kerjakan volume-volume yang kecil. Di mana posisi yang urgent, itu yang kita tangani dengan ketersediaan anggaran,” ujarnya.
Kondisi tersebut menunjukkan penanganan DAS Serang masih berlangsung secara bertahap, sementara sejumlah titik lain masih menunggu intervensi.
Sutrisno juga mengingatkan masyarakat agar tidak menanami bantaran atau tanggul dengan tanaman, terutama tanaman seperti pisang. Aktivitas pengolahan tanah untuk menanam dinilai dapat membuat struktur tanah menjadi lebih labil dan berpotensi mengganggu fungsi tanggul.
Lurah Giripeni, Iswanto Adi Saputra mengatakan pada 2026 sejumlah titik tanggul di wilayah Giripeni mulai mendapat perbaikan dari BBWSO.
“Tentunya terima kasih atas monitoring dari DPRD DIY Komisi C, BBWSSO. Bertahun-tahun memang kami usulkan melalui kabupaten beberapa tanggul kami bermasalah, parabet yang longsor, pecah, dan sebagainya. Jadi untungnya di tahun ini ada beberapa titik di wilayah kami sudah diperbaiki oleh BBWSSO.
Semoga ini jadi manfaat yang positif bagi warga kami sehingga saat terjadi debit air Sungai Serang tinggi saat musim hujan tidak masuk ke permukiman masyarakat sebab beberapa tanggul di berada di kawasan wates banyak longsor ini jadi solusi juga sedimentasi diangkat untuk penguatan tanggul agar nanti bisa kuat sehingga ada masalah lagi di masyarakat kami,” kata Adi.
Menurut Adi, sebelum ada perbaikan sejumlah wilayahnya terdampak banjir luapan air Sungai Serang seperti di Padukuhan Tegallembut di timur jembatan ada parabet yang sudah ambruk sehingga saat debit air sungai meningkat masuk ke lingkungan warga. Ada sekitar 24 KK yang terdampak.
Iswanto mengatakan persoalan lain yang masih membutuhkan penanganan diantaranya di Padukuhan Kedungpring, terdapat titik dengan sedimentasi cukup tebal dan perlu segera dinormalisasi.
“Ada parapetnya yang masih belum diperbaiki. Semoga selanjutnya bisa diperbaiki,” katanya.
Liputan: W Maryanti



