Kulon Progo, Proliman News – Sejumlah sumber menyebut Burung Branjangan atau bernama Latin Mirafra javanica punya empat subspesies.
Yakni Mirafra javanica javanica, Mirafra javanica parva, Mirafra javanica aliena, dan Mirafra javanica timorensis.
Dari empat jenis itu, Branjangan Jawa atau Mirafra javanica javanica yang paling banyak diburu dan harganya paling tinggi. Lantaran suaranya dinilai paling bagus, kencang, dan pintar.
Di pasaran, untuk tangkapan liar, harga Branjangan Jawa mencapai Rp 6 juta per ekor.
Sementara untuk hasil ternakan, harganya bisa lebih tinggi lagi yakni kisaran Rp 8 juta per ekor.
Hasil ternakan lebih mahal karena sifat liarnya sudah berkurang. Burung lebih jinak.
Harga Burung Branjangan yang tinggi, terutama jenis Mirafra javanica javanica, menjadi target buruan.
Di alam liar, kini populasinya makin menipis dan nyaris punah. Perburuan dilakukan masif sejak 1990-an.
Kondisi itu membuat gantangan Burung Branjangan makin sepi lantaran jumlah burung terus berkurang.
Untung, sekitar sepuluh tahun belakangan peternak berhasil mengembangbiakkan Burung Branjangan. Sehingga populasinya di alam bisa sedikit terselamatkan.
Sunarto salah seorang warga Seikayangan Sentolo Kulon Progo mengaku mempunyai 8 ekor Burung Branjangan.
Dari jumlah itu, empat di antaranya Branjangan Jawa.
Untuk Branjangan Jawa, ia punya jagoan yang kini sedang dirawat secara khusus. Namanya Maestro, pejantan berusia 16 bulan.
Penampilan Maestro, dibandingkan tiga branjangan memang tampak berbeda. Dari segi postur tubuh, perawakannya paling berisi dan besar.
Warna-warna bulunya juga lebih cerah. Didominasi warna hitam, dengan corak batik yang bulat-bulat teratur.
Saat diberi makan tiga ekor jangkrik, Maestro tampak akrab dengan sang pemilik. Berkali-kali tangan Sunarto dimasukkan ke sangkar.
Bukannya takut, Maestro malah tampak menantang. Jambul di atas kepalanya langsung berdiri. Sambil melihat gerakan tangan Sang Bos.
Lewat pemutar MP3 di handphone, dia menyetel suara branjangan. Cicicuit suara rekaman burung itu akhirnya direspons Maestro.
Mulanya ngeciwik, siul-siul kecil. Tapi, tambah lama, suaranya tambah kencang.
Liputan : Suyono Sugondo



