Dimas Nur Fadhil Rizky Juara Dunia Balap Sepeda Asal Wijimulyo Nanggulan Kulon Progo

DPRD Kabupaten Kulon Progo menyampaikan keprihatinan serius atas fenomena pengunduran diri 18 guru tingkat SD dan SMP dalam waktu yang relatif berdekatan.(foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News – Dimas Nur Fadhil Rizky jadi bintang tamu pada upacara Hari Pendidikan Nasional di Alun-alun Wates Sabtu (2/5/2026).

Ia kemudian diapit Bupati Kulon Progo Agung Setayawan dan sejumlah pejabat lain usai melakukan upacara.

Ini menjadi tanda tanya banyak peserta upacara? Siapa pemuda usia 19 tahun asal Wijimulyo, Nanggulan, Kulon Progo itu, petugas, pegawai atau apa?

Belum ada yang tahu, beberapa pekan sebelumnya, ia berdiri di podium juara balap sepeda di Aljazair ribuan kilometer dari desanya.

Gelar juara umum ia pastikan dengan cara yang tidak dramatis, tetapi menentukan: bertahan di posisi teratas hingga etape terakhir.

Dimas mencatatkan total waktu 26 jam 00 menit 28 detik, unggul tipis 19 detik atas pesaing terdekatnya dari Rwanda, Vainqueur Masengesho.

Pada etape penutup rute Alger Tizi Ouzou sejauh 102 kilometer, Dimas finis di kelompok utama, cukup untuk mengunci posisi puncak klasemen.

Etape itu sendiri dimenangi pebalap Belgia, Yorben Windy B. Lauryssen, dengan catatan waktu 2 jam 27 menit 39 detik.

Perjalanan itu tidak dimulai dari lintasan internasional. Dimas memulainya dari jalan-jalan desa, dari kebiasaan mengayuh sepeda sejak usia 13 tahun.

Dari rute-rute sederhana di kampungnya, ia membangun daya tahan yang kemudian membawanya menembus kompetisi lintas negara.

“Awalnya hanya hobi,” kata Dimas.

Namun hobi itu berubah menjadi disiplin. Ia mengikuti berbagai kejuaraan, menapaki level demi level, hingga berkesempatan tampil di ajang internasional dari Turki hingga Afrika Utara

BACA JUGA  Saya Tanya, Pilih Bangun Pasar Modern di Temon atau Membangun Rumah Sakit Besar di Kulon Progo Utara ?

Kemenangan di Aljazair membawanya kembali ke Kulon Progo, bukan sebagai peserta biasa, melainkan sebagai representasi capaian yang lahir dari proses panjang.

Dalam upacara Hardiknas, kehadirannya ditempatkan di tengah barisan atlet pelajar berprestasi, memberi penanda bahwa jalur pendidikan tidak selalu tunggal.

Bupati Kulon Progo R. Agung Setyawan mengatakan, pendidikan harus memberi ruang bagi setiap anak untuk berkembang sesuai potensinya.

“Pendidikan membentuk cara berpikir generasi penerus,” ujarnya.

Bagi Dimas, pendidikan itu hadir dalam bentuk yang berbeda: ketekunan, konsistensi, dan kemampuan bertahan bahkan ketika selisih kemenangan hanya ditentukan dalam hitungan detik.

Dari desa kecil di Nanggulan, ia membuktikan bahwa jarak bukan batas tetap.

Liputan : Anung Marganto

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *