Bantul, Proliman News – Viral di media sosial peristiwa pembubaran ibadah syukur gedung baru Gereja Misi Sejahtera (GMS) di Panggungharjo, Sewon, Bantul, yang viral di media sosial.
Gegeran ini tak urung membuat Ngarso Dalem Sri Sultan HB X angkat bicara, baik sebagai Gubernur DIY maupun Raja Yogyakarta.
“Allah memang menciptakan ras berbeda, agama berbeda, asal-usul juga berbeda. Perbedaan itu keniscayaan… Bukan dia yang paling benar sendiri, enggak ada.”
Drmikian Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, merespons peristiwa pembubaran ibadah syukur gedung baru Gereja Misi Sejahtera (GMS) di Panggungharjo, Sewon, Bantul, yang viral di media sosial.
Kasus ini membuat gesekan soal kebebasan beragama kembali terungkit di DIY.
Berdasarkan keterangan Plt Kepala Kesbangpol Bantul, Yulius Suharta, penolakan dari sekelompok warga diduga berakar dari masalah perizinan tempat ibadah.
Padahal, pihak GMS diketahui sudah mengantongi Surat Keterangan Tanda Lapor (SKTL).
Namun, administrasi ini masih dicermati lebih lanjut oleh pemerintah setempat untuk memastikan apakah bangunan sewaan tersebut sudah sah digunakan sebagai tempat ibadah atau belum.
Di satu sisi, aturan hukum dan administrasi memang harus dihormati.
Namun di sisi lain, tindakan pembubaran paksa—terlebih jika menggunakan intimidasi—tentu mencederai nilai toleransi yang selama ini menjadi napas Yogyakarta.
Sultan mengingatkan kita semua, perbedaan adalah takdir yang mutlak.
Menuntut hak atau menegakkan aturan tidak seharusnya dilakukan dengan cara menghakimi keyakinan orang lain.
Isu rumah ibadah selalu menjadi sumbu pendek yang rawan gesekan.
Liputan : Galang Andika Pratama



