Masyarakat di Sejumlah Tempat di Kulon Progo Menggunakan Sarangan untuk Membagikan Daging Qurban

Lalu warga Granti Kulon, Ngestiharjo, Kapanewon Wates, Kulon Progo.(foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News – Di sejumlah tempat di Kabupaten Kulon Progo, masyarakat membagikan daging qurban dengan menggunakan Sarangan, pada Idul Adha Rabu (27/5/2026) kemarin.

Salah satunya Wonopeti, Sewugalur, Kapanewon Galur, Kapubaten Kulon Progo.

Lalu warga Granti Kulon, Ngestiharjo, Kapanewon Wates, Kulon Progo.

Warga memilih menganyam daun kelapa ( blarak) untuk dibuat wadah (sarangan) sebagai tempat membagi daging karena plastik mahal.

Selain itu tradisi ini kembali diterapkan sebagai upaya mengurangi penggunaan plastik sekaligus melestarikan budaya lokal yang pernah hidup di tengah masyarakat.

Setiap RT di Padukuhan Granti Kulon menyiapkan sekitar 100 buah sarangan.

Proses pembuatannya dilakukan secara gotong royong oleh warga dengan memanfaatkan daun kelapa yang diambil langsung dari pohon di sekitar lingkungan desa.

Selain lebih ramah lingkungan dan menekan biaya kemasan, proses pembuatan sarangan juga menjadi ruang kebersamaan bagi warga.

Warga di Dusun Kopat, Kalurahan Karangsari, Kapanewo Pengasih, Kulon Progo, juga menggunakan sarangan untuk membagikan daging kurban dalam perayaan Idul Adha 2025.

Langkah ini ditempuh untuk menjaga alam dari sampah plastik yang tidak ramah lingkungan.

Sarangan, digunakan warga Kopat dalam pendistribusian daging kurban di Masjid Al-Ikhlas dusun setempat.

Satu sarangan bisa memuat hingga 2 kg daging. Adapun jumlah penerima daging kurban di sini mencapai 300 kepala keluarga, yang tersebar di Kopat, Cekelan, Dukuh dan Sendang.

BACA JUGA  Mutasi Kejagung: Kajari Lombok Tengah Putri Ayu Wulandari Digeser ke Kulon Progo

Masjid Al-Ikhlas sendiri menyembelih 4 ekor sapi dan 8 ekor kambing, dengan 2 di antaranya ditujukan untuk keperluan akikah salah satu warga.

Ketua Panitia Kurban Masjid Al-Ikhlas, Saleh Riyadi, mengatakan dipilihnya sarangan sebagai wadah daging kurban salah satunya untuk melestarikan tradisi leluhur, di mana sarangan dulunya sering digunakan sebagai pembungkus makanan dalam acara kenduri.

“Sarangan itu kalau dulu sebenarnya wadah untuk gendurenan (kenduri). Jadi dulu itu genduren menggunakan sarangan ini, diambil dari daun kelapa, dan daun jati. Daun kelapa yang digunakan untuk sarangan itu 12-14 (lembar) nanti sudah bisa jadi agak besar. Kalau kecil, jumlah daunnya dikurangi,” ujarnya ditemui di lokasi.

Saleh mengemukakan penggunaan sarangan sebagai bentuk kepatuhan warga Kopat terhadap surat edaran Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan.

Sebelumnya bupati telah mengeluarkan imbauan kepada warga untuk tidak menggunakan kantong plastik sebagai wadah daging kurban selama perayaan Idul Adha.

“Ini sesuai dengan instruksi Bupati Kulon Progo, bahwa kita untuk zero plastik dalam pembagian daging kurban ini,” ucapnya.

Penggunaan sarangan baru pertama kali ini. Ini memang penting dukungan dari pengambil kebijakan ke masyarakat untuk bisa memanfaatkan lingkungan yang ada, dalam rangka juga ramah lingkungan.

“Kalau kita menggunakan plastik, nanti plastiknya perlu kita bakar, kalau dibakar itu tidak baik untuk udara, menimbulkan polusi,” imbuhnya.

Warga di lingkungan Mushola Tirto Rohso di Padukuhan Giling, Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, juga menggunakan sarangan untuk pembagian daging kurban hasil penyembelihan satu ekor sapi dan lima ekor kambing.

BACA JUGA  Polres Kulonprogo Gelar Bhakti Religi di Tempat Ibadah Sambut Hari Bhayangkara ke-80

Ketua Panitia Mushola Tirto Rohso Muhammad Khoirudin di Kulon Progo, Rabu (27/5/2026), mengatakan, keputusan tersebut diambil bukan sekadar untuk menekan pengeluaran di tengah fluktuasi harga kemasan plastik, melainkan sebagai bentuk aksi nyata dalam mengurangi timbulan sampah plastik di lingkungan masyarakat.

“Penggunaan wadah alami ini merupakan upaya kita untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus melestarikan kearifan lokal,” kata Muhammad Khoirudin.

Selain ramah lingkungan, kata dia, penggunaan wadah anyaman kelapa dinilai memiliki keunggulan teknis dibandingkan plastik. Anyaman daun kelapa memiliki sirkulasi udara yang lebih baik, sehingga daging yang dikemas tetap segar dan tidak cepat mengalami degradasi kualitas akibat suhu panas yang terperangkap dalam kemasan kedap udara.

Inisiatif kreatif tersebut tercetus melalui diskusi warga di Bale Nugraha, sebuah pendopo yang menjadi pusat aktivitas sosial di kompleks Mushola Tirto Rohso.

Sejak diresmikan pada 2018, mushola yang memiliki arsitektur bata ekspos tersebut memang kerap menjadi pusat pengembangan tradisi dan gotong royong warga setempat.

“Aksi warga Padukuhan Giling ini diharapkan dapat menjadi percontohan bagi wilayah lain dalam mengimplementasikan praktik berkurban yang ramah lingkungan, sehat, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal​,” kata Muhammad Khoirudin.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kulon Progo Duana Heru aksi warga ini sesuai sesuai Surat Edaran Nomor 600.4.1/1166/2026 tentang Pelaksanaan Hari Raya Idul Adha tanpa Plastik.

BACA JUGA  Joko Mursito: Motif Batik Binangun Kertoraharjo Tidak untuk Menggantikan Geblek Renteng, Begini Prosesnya !

DLH Kulon Progo sangat mengapresiasi inisiatif ini sebagai wujud dukungan terhadap Kulon Progo Berkelas “Bersama Kelola Sampah” dan SE Bupati untuk tidak memakai plastik kresek karena tidak higienis serta menambah timbulan sampah di TPA.

Panitia sudah banyak yang beralih ke wadah ramah lingkungan seperti besek, daun jati, daun pisang, dan daun kelapa.

“Semoga kurban asyik tanpa plastik ini menjadi amal jariyah bagi kita semua. Sehingga banyak panitia kurban menggunakan bahan yang ramah lingkungan dalam mendistribusikan daging kurban,” kata. Duana Heru.

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *