Joko Mursito: Motif Batik Binangun Kertoraharjo Tidak untuk Menggantikan Geblek Renteng, Begini Prosesnya !

“Motif baru ini bukan untuk menggantikan Geblek Renteng, tetapi menambah khazanah batik Kulon Progo agar lebih variatif dan memberi ruang garapan baru bagi pembatik,” kata Joko.(foto/dok)

Kulon Progo, Proliman News – Asosiasi Batik Kulon Progo menginisiasi lahirnya motif batik baru untuk memperkuat identitas daerah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi perajin di tengah penurunan permintaan batik lama.

Ketua Asosiasi Batik Kulonprogo yang juga Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Joko Mursito, menjelaskan dirinya ditunjuk secara aklamasi sebagai ketua sejak 2017 oleh para pengrajin, pelaku usaha, hingga penyedia bahan batik di wilayah tersebut.

“Asosiasi ini wadah semua pelaku batik, bukan hanya pemilik usaha. Tugas kami lebih pada momong dan mendampingi teman-teman perajin,” kata Joko, Rabu (18/2/2026).

Pada awal masa kepengurusan, asosiasi berperan mendorong produksi massal batik Geblek Renteng untuk kebutuhan seragam pegawai dan pelajar.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, produksi motif tersebut mulai menurun seiring turunnya pesanan.

“Di perjalanan, mulai banyak pengrajin yang menghendaki motif baru karena produksi Geblek Renteng tidak lagi sebesar dulu,” ujarnya.

Menanggapi kebutuhan tersebut, Asosiasi Batik Kulon Progo menginisiasi proses kurasi desain batik baru dengan pendekatan lebih efisien dibanding lomba desain yang membutuhkan anggaran besar.

Melalui edaran kepada para penggiat batik, asosiasi mengumpulkan berbagai desain dengan tema gunungan sebagai simbol pembangunan daerah.

Dari proses kurasi yang melibatkan akademisi batik, praktisi, dan jurnalis, terpilih motif Binangun Kertaraharjo sebagai motif utama yang digunakan secara massal untuk seragam pelajar dan pegawai.

BACA JUGA  Kadiv Humas JPW: Siapapun Penganiaya Alm. Ilham Dwi Saputra Warga Pandak Bantul Harus Dihukum Berat

Motif ini merepresentasikan semangat pembangunan dan kesejahteraan (kertaraharja) masyarakat Kulonprogo dengan visual gunungan dan warna parianom yang mencerminkan optimisme pembangunan daerah.

Selain itu, kurator juga menetapkan motif pendamping Songsong Agung Ambar Arum yang memiliki karakter lebih eksklusif.

Motif ini dimaknai sebagai simbol perlindungan (songsong agung) dan keharuman nama daerah (ambar arum), serta diperuntukkan untuk penggunaan resmi dan terbatas, bukan produksi massal.

“Motif baru ini bukan untuk menggantikan Geblek Renteng, tetapi menambah khazanah batik Kulon Progo agar lebih variatif dan memberi ruang garapan baru bagi pembatik,” kata Joko.

Menurut dia, lahirnya motif baru tersebut merupakan inisiatif murni komunitas perajin batik yang ingin menjaga keberlanjutan ekonomi sekaligus memperkaya identitas budaya Kulon Progo.

Asosiasi juga telah melakukan sosialisasi melalui berbagai kegiatan, termasuk pergelaran fesyen di Taman Mini Indonesia Indah dalam ajang budaya nusantara.

Di sisi lain, perajin batik Kulon Progo menghadapi tantangan produksi dan biaya. Salah satu perajin, Bayu Permadi, menyebut kapasitas produksinya mencapai sekitar 3.000 lembar kain atau 6.000 potong per bulan dengan omzet berkisar Rp 400 juta hingga Rp 500 juta dan melibatkan sekitar 50 tenaga kerja.

“Program pemerintah membantu menstabilkan penjualan, tetapi biaya bahan baku dan tenaga kerja terus naik,” kata Bayu.

Ia menambahkan, margin keuntungan yang sebelumnya berada di kisaran 10–15 persen kini dapat mencapai sekitar 20 persen seiring stabilnya permintaan.

BACA JUGA  Jelang Hari Jadi Kulon Progo ke-72 Bupati Agung Setayawan Disertai Sejumlah Pejabat Ziarah ke Makam Imogiri

Namun, persoalan lain seperti peniruan motif masih menjadi tantangan di kalangan perajin.

“Proses jiplak-meniplak pasti ada, tinggal kembali ke etika pengrajin,” ujarnya.

Bayu menyebut pemerintah daerah telah memberikan dukungan terhadap pengembangan motif baru sekaligus perlindungannya agar tidak disalahgunakan.

Sementara itu, Joko Mursito menegaskan bahwa asosiasi tidak memiliki kewenangan dalam pelatihan maupun peningkatan kapasitas teknis perajin.

“Asosiasi Batik tidak mempunyai kewenangan untuk melakukan pelatihan atau upgrading tentang batik. Fungsi kami adalah sebagai wadah perkumpulan supaya para pengusaha batik bisa saling menguatkan,” kata dia.

Menurut Joko, peningkatan kapasitas, regenerasi pembatik, dan inovasi tetap menjadi tanggung jawab pemerintah daerah melalui program pembinaan dan pengembangan kebudayaan.

Dengan lahirnya motif baru dan penguatan ekosistem perajin, batik Kulon Progo diharapkan tidak hanya bertahan sebagai identitas budaya, tetapi juga berkembang sebagai kekuatan ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 Komentar