Takut Stok Pertalite Tidak Sampai Akhir Bulan SPBU lakukan Pelayanan Pembelian Satu Jalur

Dengan pengelolaan tersebut, pengelola berharap distribusi Pertalite tetap berjalan normal hingga akhir bulan tanpa menimbulkan persepsi kelangkaan di tengah masyarakat.(foto/nung)

Kulon Progo, Proliman News – berbagai upaya dilakukan SPBU untuk menjaga ketersediaan Pertalite hingga akhir bulan.

Di SPBU Kasam Beji, Wates, Kulon Progo, pengendalian penyaluran BBM bersubsidi membuat antrean kendaraan menjadi lebih panjang dibandingkan biasanya.

Pada jam-jam sibuk, pengendara harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan Pertalite karena pelayanan dilakukan melalui satu jalur pengisian.

Kondisi tersebut muncul seiring kebijakan pengelolaan kuota agar pasokan BBM bersubsidi tidak habis sebelum akhir bulan.

Aristu Tri Wibowo, salah seorang pelanggan SPBU Kasam Beji, mengaku perubahan itu sudah dirasakannya dalam sekitar satu bulan terakhir.

Menurut dia, waktu tunggu yang sebelumnya hanya beberapa menit kini menjadi lebih lama ketika antrean kendaraan meningkat.

“Kalau dulu paling lama sekitar lima menit sudah selesai. Sekarang saat ramai bisa lebih dari 10 menit karena hanya satu jalur yang dibuka untuk Pertalite,” kata Aristu saat ditemui di SPBU Kasam Beji, Senin (1/6/2026).

Meski memahami adanya pengaturan distribusi BBM bersubsidi, Aristu berharap pelayanan dapat kembali dilakukan melalui dua jalur seperti sebelumnya sehingga antrean kendaraan tidak terlalu panjang.

“Kami berharap dua jalur pengisian bisa dibuka lagi supaya pelayanan lebih cepat dan masyarakat tidak terlalu lama mengantre,” ujarnya.

Manajer SPBU Kasam Beji dan SPBU Babarsari, Rokhim Hardiyanto, menjelaskan bahwa pengaturan penyaluran dilakukan untuk menjaga kuota Pertalite tetap tersedia hingga akhir bulan.

BACA JUGA  Dorong Ekonomi Rakyat, Pemkot Yogyakarta Jadikan HUT ke-270 Wadah Unjuk Gigi UMKM

Setiap SPBU memiliki alokasi yang harus dipatuhi dan diawasi secara ketat.

Pada Mei 2026, SPBU Kasam memperoleh kuota Pertalite sebesar 312 ton, sedangkan SPBU Babarsari menerima alokasi 248 ton.

Kuota tersebut menjadi dasar pengelolaan distribusi agar penyaluran dapat berlangsung merata sepanjang bulan.

Menurut Rokhim, SPBU dapat dikenai kewajiban mengganti kelebihan volume apabila realisasi penyaluran melampaui kuota yang telah ditetapkan.

“Karena itu kami harus mengendalikan penjualan sesuai alokasi yang diberikan. Tujuannya agar kuota tetap tersedia sampai akhir bulan dan seluruh masyarakat bisa terlayani,” katanya saat diwawancarai, Senin (1/6/2026).

Rokhim menjelaskan, pelayanan Pertalite untuk kendaraan roda dua saat ini memang difokuskan pada satu jalur.

Berbeda dengan kendaraan roda empat yang telah menggunakan sistem barcode dan pencatatan digital, penyaluran Pertalite untuk sepeda motor belum menggunakan mekanisme serupa sehingga membutuhkan pengawasan yang lebih ketat.

“Untuk sepeda motor masih menggunakan satu jalur. Kendaraan roda empat sudah menggunakan barcode sehingga lebih mudah dipantau. Sementara roda dua belum menggunakan sistem tersebut sehingga pengaturan penyaluran dilakukan lebih hati-hati,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pengaturan penyaluran bukan disebabkan oleh kelangkaan stok Pertalite.

Sebaliknya, langkah tersebut dilakukan untuk mencegah habisnya kuota lebih awal yang berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

“Kalau kuota habis sebelum akhir bulan, masyarakat bisa mengira BBM subsidi sedang langka. Padahal yang terjadi adalah alokasi yang tersedia sudah terserap seluruhnya,” kata Rokhim.

BACA JUGA  Saya Memimpikan Munculnya Kang Mursyid di Mana-mana Dalam Bingkai Nahdatul Ulama (NU)

Rokhim menambahkan, karakteristik setiap SPBU berbeda.

Di SPBU Babarsari, penjualan lebih banyak diarahkan pada bahan bakar khusus (BBK) non-subsidi seperti Pertamax.

Sementara di SPBU Kasam, permintaan Pertalite masih cukup tinggi sehingga pengaturan distribusi harus dilakukan secara lebih cermat.

Menurut dia, keseimbangan antara kepatuhan terhadap kuota dan kualitas pelayanan kepada konsumen menjadi tantangan yang harus dijaga.

Di satu sisi SPBU harus memastikan kuota tidak habis sebelum waktunya, sementara di sisi lain masyarakat tetap menginginkan pelayanan yang cepat dan nyaman.

Dengan pengelolaan tersebut, pengelola berharap distribusi Pertalite tetap berjalan normal hingga akhir bulan tanpa menimbulkan persepsi kelangkaan di tengah masyarakat.

Liputan : Anung Marganto

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *