Budiman Sudjatmiko Menghilang dari Auditorium GIK UGM Semalam Mahasiswa Meneriakkan Yel Yel Revolusi !

Mahasiswa yang menggeruduk ini mengatasnamakan diri sebagai Aliansi Mahasiswa UGM. Sebagian dari mereka mengklaim telah hadir lebih dulu untuk menyaksikan acara diskusi.(foto/ist)

Sleman, Proliman News — Senin (16/6/2026) malam, Auditorium GIK UGM yang harusnya jadi ruang diskusi mendadak berubah mencekam.

Bukan cuma interupsi biasa, massa mahasiswa nekat naik ke panggung, membentangkan poster, hingga mengejar para narasumber yang merupakan pejabat negara!

Mobil mereka bahkan sempat disandera di parkiran.

Acara talkshow yang dihadiri oleh Sudaryono (Wamen Pertanian), Nusron Wahid (Menteri ATR/BPN), dan Budiman Sudjatmiko (Kepala BP Taskin) awalnya berjalan lancar. Namun di tengah acara, situasi langsung berbalik 180 derajat:

Massa mahasiswa naik ke panggung menyampaikan kritik keras terhadap kebijakan pemerintah.

Sempat terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa, panitia, dan pihak sekuriti. Hingga menimbulkan ketegangan.

Karena situasi tidak kondusif, para narasumber dievakuasi. Massa yang tidak puas mengejar hingga ke area parkir dan sempat menyandera mobil narasumber.

Kericuhan bahkan sempat menjalar hingga ke kawasan Bunderan UGM.

Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Wamen Pertanian Sudaryono sempat turun untuk berdialog langsung dengan mahasiswa.

Sayangnya, diskusi berjalan deadlock alias tidak menemui titik temu.

Situasi baru mereda setelah pihak kepolisian dan sekuriti berhasil mengevakuasi para pejabat keluar dari area kampus, diikuti pembubaran massa mahasiswa.

​Diskusi publik yang dikemas dalam acara “Kopdar Bareng Mas Dar” berjalan dinamis dan berujung tegang.

Acara yang mengusung tema besar  “Pancasila Pemersatu Bangsa” ini dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, di antaranya Budiman Sudjatmiko, dan Nusron Wahid,

BACA JUGA  Warga Tersulut Emosinya Buntut Atap Masjid Nida’ul Jannah Pasir Mendit Terkena Kentut Pesawat

Awalnya, agenda yang mempertemukan para tokoh politik dengan elemen masyarakat dan pemuda di Yogyakarta ini berjalan dengan aman, tertib, dan lancar.

Antusiasme peserta terlihat tinggi saat para narasumber memaparkan pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila di tengah polarisasi politik modern.

Situasi mulai berubah ketika politisi senior, Budiman Sudjatmiko, naik ke atas panggung untuk memberikan orasinya.

Di tengah pemaparannya, Budiman sempat melontarkan pernyataan yang secara khusus menyoroti posisi rekan sejawatnya,

“Tiyo tidak usah diganggu, apalagi memikirkan untuk melakukan hal-hal yang membahayakan,” ujar Budiman di hadapan para peserta.

Pernyataan tersebut bermaksud memberikan pembelaan atau menegaskan posisi politik rekannya agar tidak diusik oleh kepentingan-kepentingan yang dapat mengancam stabilitas.

Namun, belum sempat kalimat tersebut dijabarkan lebih jauh, suasana ruang diskusi mendadak riuh.

Secara mengejutkan, sekelompok massa yang mengidentifikasikan diri sebagai mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) langsung melakukan aksi interupsi.

Mereka menyalakan sirine dengan suara melengking yang menggema di seluruh ruangan, memotong jalannya pemaparan Budiman.

Sambil membentangkan protes, kelompok mahasiswa tersebut berteriak lantang dan menuding Budiman Sudjatmiko dengan kalimat yang provokatif.

“Budiman adalah pengkhianat bangsa! Perlu adanya revolusi di negara ini!” teriak salah seorang orator mahasiswa di tengah kegaduhan.

Aksi unjuk rasa spontan di dalam ruangan ini sempat membuat jalannya diskusi terhenti sejenak.

Para mahasiswa menilai adanya pergeseran arah perjuangan politik dari tokoh-tokoh yang hadir, sehingga memicu mosi tidak percaya yang diutarakan lewat seruan “revolusi”.

BACA JUGA  Afriansyah Noor Mantan Sekjen Partai Bulan Bintang Resmi Loncat Partai Demokrat Menjabat Wasekjen

Meskipun sempat diwarnai ketegangan dan adu argumen antara pihak keamanan acara dengan kelompok mahasiswa, panitia dan aparat keamanan setempat berhasil mengendalikan situasi agar tidak berbuntut pada kericuhan fisik.

Acara bertajuk Pancasila Pemersatu Bangsa ini menjadi refleksi nyata bahwa ruang-ruang dialog di Yogyakarta sebagai kota pelajar tetap menjadi episentrum dialektika yang keras antara kaum intelektual muda dan para politisi nasional.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi lanjutan dari Budiman Sudjatmiko maupun pihak Prasetyo Hadi terkait tudingan dan interupsi yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa UGM tersebut.

Liputan : Reinaldy Dwi

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *