Prolimannews.id – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X kompak meminta wisatawan tidak melakukan pendakian karena ancaman erupsi eksplosif masih dapat terjadi sewaktu-waktu.
Imbauan tersebut semakin menguat setelah Gunung Merapi kembali memuntahkan awan panas guguran pada Kamis, 2 Juli 2026 pukul 23.58 WIB. Berdasarkan hasil pengamatan BPPTKG, guguran awan panas meluncur sejauh sekitar 1,8 kilometer ke arah barat atau menuju hulu Kali Sat/Putih. Aktivitas tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 53,05 milimeter dan berlangsung selama kurang lebih 92,91 detik.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menegaskan bahwa seluruh jalur menuju puncak Gunung Merapi masih tertutup untuk aktivitas pendakian. Pernyataan tersebut disampaikan setelah beredar video yang memperlihatkan sejumlah orang berada di kawasan Pasar Bubrah yang disebut sebagai bagian dari persiapan pembukaan jalur pendakian mandiri.
Menurut Agus, bahaya terbesar yang harus diwaspadai adalah kemungkinan terjadinya erupsi eksplosif yang sulit diprediksi.
“Ancaman terbesar bagi pendaki adalah kemungkinan terjadinya erupsi eksplosif yang dapat terjadi tanpa peringatan berarti,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa apabila letusan eksplosif terjadi, material vulkanik dapat terlontar hingga radius sekitar 3 kilometer dari kawah.
“Jangkauan ini mencakup area yang biasanya menjadi jalur maupun batas akhir pendakian, sehingga sangat mengancam nyawa siapa pun yang berada di zona tersebut,” kata Agus.
Ia menambahkan, meskipun Merapi saat ini berada dalam fase erupsi efusif yang ditandai keluarnya magma secara perlahan, kondisi tersebut tidak berarti ancaman letusan besar telah berakhir. Aktivitas guguran lava, awan panas, dan gempa vulkanik masih terus tercatat hingga akhir Juni 2026.
Pesan serupa juga datang dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Ia mengimbau wisatawan maupun pendatang agar tidak memaksakan diri mendaki Gunung Merapi selama status siaga masih berlaku.
Sultan menjelaskan bahwa warga yang tinggal di sekitar lereng Merapi telah memahami karakter gunung tersebut sehingga mengetahui wilayah yang relatif aman dari ancaman erupsi.
“Warga sekitar Merapi itu paham dan dia enggak mau turun, karena hanya mengalir saja dari atas dua kilo sampai dua setengah kilo, enggak sampai pemukiman dan mereka sudah tahu,” ujarnya.
Namun, menurut Sultan, kondisi tersebut tidak bisa disamakan dengan wisatawan yang datang hanya untuk berlibur.
“Tapi harapan saya bagi turis, bagi pendatang dalam arti dia memang mau berwisata itu saya mohon memang jangan naik ke atas,” katanya.
Ia kembali mengingatkan bahwa pendatang belum tentu memahami batas kawasan berbahaya di Gunung Merapi.
“Kalau masyarakat sekitarnya paham, tapi kalau pendatang sekadar mau berlibur, belum tentu tahu ada batas Merapi. Ya, hati-hati, sementara ini jangan naik,” pungkas Sultan.
Dengan kondisi Gunung Merapi yang masih berstatus Siaga (Level III), masyarakat diminta tetap mengikuti seluruh rekomendasi dari BPPTKG dan pemerintah daerah. Aktivitas di kawasan yang berpotensi terdampak awan panas, guguran lava, maupun material vulkanik lainnya sebaiknya dihindari hingga kondisi benar-benar dinyatakan aman.
Liputan: Bagus Aryo



