Yogyakarta, Proliman News – Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Abdul Muiz sebut peredaran miras di wilayah ini bikin miris.
Bahkan ia menyebut, levelnya sudah sangat meresahkan. Beberapa toko diantaranya bahkan berdiri dekat rumah ibadah dan fasilitas pendidikan.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa para penjual minuman beralkohol (miras, red) tidak lagi takut.
Mereka berani menjual secara terang-terangan tanpa memandang tata aturan yang berlaku di lingkungan tersebut.
“Kondisi saat ini saya rasa memang sudah sangat mengkhawatirkan,” ujarnya.
Toko-toko yang berjualan miras sekarang ini sudah berani buka secara terang-terangan.
“Dekat masjid ada, dekat madrasah juga ada, “ jelasnya saat ditemui di Ponpes Minggir Gus Muwafiq, Sleman, Minggu (3/11/2024).
Dicontohkan penganiayaan santri Krapyak beberapa hari lalu. Para pelaku ternyata mengonsumsi miras di sebuah outlet yang ada tak jauh dari pesantren.
“Kita memberikan peringatan keras jangan sampai ini terulang khususnya di Yogyakarta. Kami punya komitmen untuk mengawal keistimewaan di Yogjakarta khususnya. Ciptakan kerukunan antarsuku, ras, etnis dan agama dengan menolak miras,” katanya.
Kondisi ini pula yang mendasari kegiatan Apel Akbar 10.000 Banser DIY, hari ini. Termasuk pembentukan Satgas Khusus Banser Anti Miras.
Harapannya dapat membantu pemerintah dan kepolisian dalam mengawasi peredaran minuman beralkohol.
“Kami fokus pada generasi muda karena bonus demografi ini kalau kemudian ini tidak kita kawal maka Indonesia emas di 2045 itu tidak ada. Tinggal 21 tahun lagi, ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menyiapkan generasi muda,” ujarnya.
Sementara itu Ketua GP Ansor Sleman Ariyanto Nugroho menuturkan keberadaan toko maupun penjual miras semakin parah dalam beberapa tahun terakhir.
“Dulu relatif sembunyi-sembunyi sekarang relatif terbuka dan bisa diakses dengan gampang oleh generasi muda kita. Menurut data sebagian besar atau penjualan-penjualan terbanyak di Sleman, bahkan dekat lingkungan pendidikan,” katanya.
Secara gamblang dia mencontohkan sejumlah toko minuman beralkohol yang berdiri di daerah pendidikan.
Seperti Kapanewon Depok, Mlati, dan Gamping. Wilayah-wilayah tersebut, lanjutnya, dikelilingi oleh sekolah maupun kampus.
Liputan : Suyono Sugondo



