Sleman, Proliman News – Ribuan warga tumpah ruah di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, demi berebut satu setengah ton kue apem gratis. Tradisi tahunan Saparan ini berlangsung sangat meriah—bahkan warga menggunakan berbagai cara unik agar bisa membawa pulang kue apem yang dipercaya membawa berkah. Simak laporan selengkapnya.
Ribuan warga tumpah ruah saling berdesakan untuk memperebutkan 1,5 ton kue apem tradisional yang dibagikan secara cuma-cuma.
Suasana berlangsung sangat seru. Demi bisa menampung apem sebanyak-banyaknya di tengah jubelan massa, sejumlah warga tak kehabisan akal dengan memanfaatkan payung yang dibalik sebagai wadah.
Aksi berebut apem ini merupakan bagian dari tradisi tahunan Saparan—memperingati bulan Safar atau bulan kedua dalam kalender Hijriah—di Sleman, Yogyakarta.
Ribuan apem disebar langsung dari atas menara setinggi beberapa meter dan ludes diserbu warga hanya dalam kurun waktu 30 menit.
Sebelum prosesi pembagian, gunungan apem terlebih dahulu dikirab sejauh 1,5 kilometer, mulai dari masjid setempat menuju lokasi Petilasan Ki Ageng Wonolelo.
Secara filosofis, kata ‘apem’ diambil dari Bahasa Arab “afwun” yang berarti pengampunan. Tradisi ini menjadi simbol saling memaafkan antar sesama sekaligus permohonan ampunan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda adat istiadat sejak tahun 2018, tradisi Saparan Ki Ageng Wonolelo tidak hanya menjadi pesta rakyat, tetapi juga momentum merawat silaturahmi yang sarat nilai moral, sosial, dan sejarah
Liputan: Galang Andika Pratama



