Dorong Kebangkitan NU di Indonesia Timur, Gus Yusuf Serukan Akhiri Konflik Internal

Menjelang Muktamar ke-35 NU di Jombang pada 27–31 Agustus 2026, KH. Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) menyerukan pentingnya rekonsiliasi internal organisasi saat bersilaturahmi dengan PWNU NTT di Kupang, Sabtu (25/7/2026). (Foto/Dok)

Kota Kupang, Proliman News – KH. Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) menegaskan bahwa Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) harus menjadi momentum rekonsiliasi nasional. Menurutnya, muktamar tidak boleh sekadar agenda pergantian kepemimpinan, melainkan jalan keluar atas konflik internal yang sempat menghambat laju organisasi.

​Pernyataan tersebut disampaikan Gus Yusuf saat bersilaturahmi dengan Pengurus Wilayah NU (PWNU) Nusa Tenggara Timur, PCNU se-NTT, tokoh masyarakat, dan Kerukunan Keluarga Sulawesi (K2S) di Kota Kupang, Sabtu (25/7/2026). Dalam kesempatan itu, ia juga menyerahkan bantuan pembangunan Sekretariat PWNU NTT.

​”Muktamar harus solutif, mampu mengakhiri konflik, dan mengembalikan energi NU untuk melayani umat. Selama dua tahun terakhir, terlalu banyak waktu terbuang karena persoalan internal sehingga program di daerah terhambat,” ujar Gus Yusuf.

​Muktamar ke-35 NU sendiri dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026, berdasarkan keputusan Rapat Gabungan Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU pada 7 Juli lalu.

​Memasuki abad kedua NU, Gus Yusuf mendorong organisasi untuk kembali fokus pada pelayanan umat, khususnya di kawasan Indonesia Timur melalui tiga pilar utama:

​Pendidikan Berkualitas: Membangun dan memperkuat madrasah, pesantren, hingga perguruan tinggi di luar Jawa. Ia mengusulkan pesantren besar seperti Tambakberas, Tebuireng, Lirboyo, dan Sidogiri bermitra dengan pesantren di Indonesia Timur melalui pendampingan manajemen dan pengiriman tenaga pendidik.

​Kesehatan dan Ekonomi Umat: Mengingat karakter geografis NTT sebagai wilayah kepulauan, NU diharapkan menjadi jembatan akses layanan kesehatan serta pembiayaan bagi petani, nelayan, dan pelaku UMKM.

​Keterwakilan Daerah: Mendorong keterlibatan kader-kader terbaik dari kawasan Indonesia Timur dalam struktur kepengurusan PBNU agar aspirasi daerah diperjuangkan secara langsung di tingkat pusat.

​Gus Yusuf menambahkan, nilai-nilai moderasi dan toleransi di NTT sangat sejalan dengan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

​”NU memasuki abad kedua dengan tantangan yang lebih besar. Tidak boleh lagi ada dominasi atau friksi. Yang kita butuhkan adalah kolaborasi agar NU semakin kuat dan bermanfaat bagi bangsa dan negara,” pungkasnya.

Liputan: Galang Andika Pratama

Deskripsi Banner
BACA JUGA  ​Sambut Hari Jadi ke-75 Kulon Progo, Pemkab Ajak Warga Ramaikan Malam Takbir Budaya dan Lautan Obor di Alun-Alun Wates

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *