Pesan Gus Yusuf Chudlori: Jangan Sampai Media Sosial Kita Hanya Dipenuhi Kabar yang Menyedihkan

Pesan Gus Yusuf Chudlori: Jangan Sampai Media Sosial Kita Hanya Dipenuhi Kabar yang Menyedihkan. (Foto/Dok)

Proliman News – Jangan sampai setiap kali kita membuka media sosial, yang muncul hanya kabar-kabar yang membuat hati warga Nahdliyin sesak.

Hari ini membaca kegaduhan di kalangan elite organisasi. Besok membaca kader NU tersandung kasus korupsi. Lusa muncul berita dugaan pelecehan seksual di lingkungan pendidikan.

Di hari yang lain, terdengar kabar gedung madrasah atau pesantren yang ambruk karena keterbatasan biaya. Ada pula santri yang harus berkeliling menjual kalender demi mempertahankan keberlangsungan pendidikan. Belum lagi perdebatan, permusuhan, bahkan pertikaian antarsesama hanya karena perbedaan pandangan atau persoalan nasab.

Jika ruang publik terus dipenuhi kabar seperti itu, lalu di mana wajah NU yang selama ini dikenal sebagai rumah ilmu, rumah akhlak, rumah persaudaraan, dan rumah pengabdian?

Kita tentu tidak boleh menutup mata terhadap persoalan. Kesalahan harus dibenahi, pelanggaran hukum harus diproses, dan siapa pun yang berbuat salah harus bertanggung jawab.

Namun, NU tidak boleh berhenti hanya menjadi bahan pemberitaan ketika terjadi masalah.
Sudah saatnya kita menghadirkan lebih banyak kabar yang membanggakan. Berita tentang pesantren yang melahirkan ulama dan wirausahawan.

Madrasah yang berdiri kokoh dengan fasilitas yang layak. Santri yang berprestasi di tingkat nasional maupun internasional. LAZISNU yang semakin kuat mengentaskan kemiskinan. Rumah sakit NU yang melayani masyarakat dengan baik. Koperasi NU yang menggerakkan ekonomi umat.

BACA JUGA  Gus Yusuf Chudlori: Muktamar NU Jangan Hanya Ramai dengan Kritik, tetapi Harus Melahirkan Solusi

Para kader yang dikenal karena integritas, keilmuan, dan pengabdiannya, bukan karena perkara hukum.

NU adalah organisasi besar. Kebesarannya bukan hanya diukur dari jumlah warganya, tetapi dari besarnya manfaat yang dirasakan umat. Karena itu, energi kita jangan habis untuk kegaduhan.

Energi kita harus diarahkan untuk membangun pendidikan yang kuat, ekonomi yang mandiri, pelayanan sosial yang luas, dan akhlak yang menjadi teladan.

Mari kita jadikan media sosial bukan sekadar etalase konflik, tetapi jendela yang memperlihatkan kerja nyata, prestasi, persatuan, dan keberkahan. Sebab generasi muda Nahdliyin lebih membutuhkan inspirasi daripada sensasi, lebih membutuhkan keteladanan daripada pertengkaran.

Semoga ke depan, ketika orang membuka media sosial, yang mereka lihat tentang NU bukan lagi deretan kegaduhan, melainkan deretan karya, kemajuan, dan manfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.

Liputan : Jepp

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *