Tradisi Sewu Kupat di Hulu Sungai Lenging Jadi Upaya Pelestarian Sumber Air

Tradisi Sewu Kupat di Hulu Sungai Lenging Jadi Upaya Pelestarian Sumber Air. (Foto/Dok)

Temanggung, Proliman News– Pelestarian lingkungan dan sumber mata air terus dilakukan masyarakat Dusun Gedongan, Desa Ngemplak, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, melalui tradisi budaya Nyadran Sewu Kupat atau 1.000 ketupat. Tradisi yang digelar di kawasan hulu Sungai Lenging, Jumat (21/8/2026), menjadi wujud syukur sekaligus pengingat pentingnya menjaga kelestarian sumber air.

Rangkaian tradisi diawali kirab ratusan warga dari tengah dusun menuju lokasi ritual yang berjarak sekitar 500 meter. Warga mengusung tiga gunungan berisi hasil bumi dan buah-buahan, sementara para pemuda memikul ratusan ketupat.

Sesampainya di lokasi, warga memasang berbagai sesaji dan melaksanakan doa bersama. Ritual kemudian dilanjutkan dengan melepas ayam ke sungai bersamaan dengan grebeg gunungan oleh warga. Rangkaian kegiatan ditutup dengan kembul bojana atau makan bersama dengan beralaskan daun pisang.

Kepala Desa Ngemplak, Sri Astuwidi Subagyo, mengatakan tradisi tersebut diwariskan secara turun-temurun dan berkaitan erat dengan keberadaan sumber air Sungai Lenging.

Menurut cerita leluhur, kawasan tersebut dahulu merupakan perbukitan yang jauh dari persawahan dan sulit mendapatkan air. Konon, Punden Kyai Lenging membuat aliran irigasi selama 1.000 hari. Setiap berangkat bekerja, ia dibekali satu ketupat.

“Setiap hari dibekali satu ketupat. Setelah 999 hari belum selesai, akhirnya Ibu Punden atau istri Kyai Lenging membantu pada hari ke-1.000. Dari situlah kemudian dipercaya terbentuk aliran sungai dari wilayah ini hingga perbatasan Kaloran,” kata Sri.

Hingga kini, keberadaan mata air di kawasan tersebut menjadi penopang kehidupan masyarakat. Mata air bagian bawah dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian, sedangkan mata air bagian atas digunakan sebagai sumber air minum.

Aliran air dari kawasan tersebut mencukupi kebutuhan masyarakat di Dusun Gedongan, Ngemplak, Kludran, Ndakaran, sebagian wilayah Kaloran di Desa Kemiri, hingga Desa Tegowanuh.

Sri mengatakan masyarakat terus diingatkan untuk menjaga kawasan hutan lindung di sekitar sumber mata air agar debit air tetap terjaga dan tidak terganggu oleh penebangan liar.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Temanggung, Supriyanto, mengatakan Nyadran Sewu Kupat tidak hanya menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas kecukupan air, tetapi juga sarana memperkuat persatuan dan kerukunan warga sekaligus melestarikan warisan budaya.

“Ini tradisi masyarakat Dusun Gedongan sebagai wujud syukur atas anugerah Allah karena sampai sekarang masih mendapatkan kecukupan air. Tradisi ini juga menjadi wujud persatuan dan kerukunan warga,” ujarnya.

Supriyanto mengatakan Pemkab Temanggung setiap tahun menginventarisasi tradisi budaya yang berpotensi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB). Setelah mengusulkan Wayang Kedu dua tahun lalu dan Bangilun pada tahun sebelumnya, tahun ini pemerintah mengusulkan tradisi Kupat Sewu.

“Kita ini kaya akan tradisi, tetapi catatannya masih minim. Paling tidak, tradisi ini diakui di masyarakat, tercatat di pemerintah, dan menjadi tantangan bersama agar tetap lestari,” katanya.

Menurut dia, tradisi budaya juga berpotensi dikembangkan menjadi daya tarik wisata. Terlebih, Pemkab Temanggung tengah mempersiapkan pengembangan sektor pariwisata dengan budaya lokal sebagai salah satu potensi yang dapat diunggulkan.

Di sisi lain, Supriyanto menekankan pentingnya konservasi sumber air. Kecamatan Kandangan secara umum tergolong wilayah yang memiliki keterbatasan air, sehingga keberadaan sumber air yang masih melimpah di kawasan Sungai Lenging perlu dijaga bersama.

“Di sini air masih melimpah karena lingkungannya terjaga. Kita harus terus mengimbau masyarakat melakukan konservasi sebelum menyesal. Debit air di beberapa tempat sudah turun 20 persen, 30 persen, bahkan sampai 40 persen,” ujarnya.

Ia berharap kawasan hulu Sungai Lenging dapat menjadi titik awal tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjaga sumber mata air melalui perpaduan antara pelestarian lingkungan dan tradisi budaya.

Tradisi Sewu Kupat pun tidak sekadar menjadi ritual tahunan, tetapi menjadi pengingat bahwa keberlangsungan budaya dan kelestarian alam memiliki hubungan erat. Melalui tradisi yang diwariskan leluhur tersebut, masyarakat diajak menjaga sumber air sebagai warisan bagi generasi mendatang.

Liputan: Nadhifa Zara

Deskripsi Banner
BACA JUGA  Pemkab Temanggung Gandeng Bentoel Grup Dorong Sektor Pariwisata dan Industri Kreatif Lewat Program Empower Academy

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *