Saptono Tanjung Diverifikasi sebagai Kandidat Kalpataru Lestari, Konsisten Kembangkan Mangrove di Pesisir Kulon Progo

Saptono Tanjung Diverifikasi sebagai Kandidat Kalpataru Lestari, Konsisten Kembangkan Mangrove di Pesisir Kulon Progo. (Foto/Dok)

Kulon Progo, Proliman News – Kiprah Saptono Tanjung dalam pelestarian lingkungan kembali mendapat perhatian. Penerima Penghargaan Kalpataru Tingkat Nasional Tahun 2017 tersebut kini diverifikasi sebagai kandidat penerima **Kalpataru Lestari** dari Kabupaten Kulon Progo.

Penghargaan Kalpataru yang diterimanya pada 2017 menjadi pengakuan atas dedikasi dan kontribusinya dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup, termasuk mendorong masyarakat untuk terlibat dalam upaya pelestarian ekosistem.

Namun, aktivitas Saptono tidak berhenti setelah menerima penghargaan tersebut. Ia tetap melanjutkan pendampingan dan pengembangan kawasan mangrove di pesisir Kulon Progo, termasuk di wilayah Bleberan.

Saptono mengatakan, keterlibatannya dalam pengembangan mangrove telah dimulai sejak sekitar 2008 melalui Kelompok Tani Hutan Wana Tirta di Jangkaran. Dari kegiatan tersebut, upaya pelestarian mangrove kemudian terus didorong dan dikembangkan ke kawasan lainnya.

“Komitmen saya terhadap mangrove, walaupun mungkin tidak bisa seintensif waktu zamannya di Wana Tirta, tetap akan mengawal di wilayah Bleberan,” kata Saptono.

Menurutnya, pengembangan mangrove dilakukan melalui proses inisiasi, pendampingan dan kolaborasi dengan masyarakat. Peran yang dijalankan tidak hanya sebatas menanam, tetapi juga mendorong kelompok masyarakat agar mampu menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.

Ia menyebut kawasan mangrove di pesisir Kulon Progo kini tersebar mulai dari kawasan Muara Progo hingga Dusun Bleberan. Untuk kawasan Bleberan, penanaman mangrove mulai dikembangkan sejak 2022.

Pengembangan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap ancaman abrasi. Saptono menilai penanaman mangrove perlu dilakukan sejak dini, terutama mengingat sejumlah kawasan pesisir memiliki kerentanan terhadap erosi dan abrasi.

BACA JUGA  15 Personil Polres Kulon Progo Purna Tugas, Kapolres: Purna Tugas Bukan Akhir Pengabdian !

“Kalau akan terjadi abrasi yang tinggi seperti wilayah Jangkaran, itu bahaya. Kita mulai dari sekarang,” ujarnya.

Saat ini, upaya pengembangan mangrove di Bleberan juga mendapat dukungan melalui program **Kebun Bibit Rakyat (KBR)** yang difasilitasi Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS).

Sebanyak **50.000 bibit mangrove** disiapkan melalui program tersebut. Bibit terdiri atas sekitar **15.000 tanaman Rhizophora** dan **35.000 tanaman Sonneratia atau bogem**.

Pembibitan dilaksanakan oleh Kelompok Tirta Manunggal di Dusun Bleberan. Bibit tersebut direncanakan ditanam di kawasan Bleberan pada Desember mendatang.

Saptono mengatakan, penanaman mangrove ke depan tidak cukup hanya dilakukan sebagai kegiatan penghijauan. Ia ingin kegiatan tersebut dikembangkan bersamaan dengan edukasi maupun potensi wisata sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang terlibat.

“Kita coba desainnya seperti apa, sehingga nanti akan memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” katanya.

Menurutnya, keberadaan kelompok masyarakat yang selama ini terlibat dalam pelestarian mangrove juga perlu mendapat dukungan. Pasalnya, para relawan tetap membutuhkan penghasilan sehingga kegiatan pelestarian lingkungan perlu dirancang agar memiliki manfaat berkelanjutan.

Di sisi lain, pengembangan mangrove di Bleberan masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar serta memberikan kepastian terkait pemanfaatan lahan untuk kegiatan penanaman.

Saptono menyebut sebagian kawasan yang akan dikembangkan merupakan lahan masyarakat. Karena itu, diperlukan pendampingan sekaligus komunikasi dengan masyarakat dan pemangku kepentingan agar upaya penanaman mangrove dapat berjalan secara berkelanjutan.

BACA JUGA  Jelang Armusna Jamaaah Mendapatkan Pembekalan Dari Sektor dan Ketua Kafilah Aisyiah DIY

“Banyak hal yang perlu dilakukan. Kita harus tetap melakukan advokasi di akar rumput, sekaligus juga nanti di tingkat kebijakan,” ujarnya.

Selain penanaman, Saptono juga mendorong pemanfaatan potensi lokal untuk mendukung kegiatan lingkungan. Salah satunya melalui pemanfaatan eceng gondok yang selama ini lebih banyak dipandang sebagai gulma.

Menurut dia, eceng gondok berpotensi diolah menjadi bahan pupuk, meskipun pemanfaatannya masih membutuhkan dukungan teknologi, termasuk mesin pencacah.

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kiprah Saptono dalam pelestarian lingkungan berlanjut setelah penghargaan Kalpataru Nasional 2017. Pengembangan mangrove, pembinaan kelompok masyarakat, penyediaan bibit hingga penguatan kesadaran lingkungan menjadi bagian dari upaya menjaga ekosistem pesisir Kulon Progo secara berkelanjutan.

Liputan: W Maryanti

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *