Temanggung, Proliman News — Dilanda kekeringan ekstrem selama lebih dari empat bulan, warga Desa Kemiriombo, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung menggelar tradisi langka Perang Cendol Dawet yang diawali dengan salat Istisqa dan doa bersama di area perkebunan kopi Bon Gede, Dusun Gabug, pada Jumat (25/11/2026) pagi.
Rangkaian ritual adat ini dimulai sejak pukul 08.00 WIB. Antusiasme warga terlihat saat mereka berbondong-bondong berjalan menuju lokasi perkebunan kopi Bon Gede. Di bawah rindangnya pepohonan, ratusan warga khusyuk menunaikan salat Istisqa dan memanjatkan doa bersama untuk memohon agar berkah hujan segera diturunkan.
Suasana khidmat mendadak riuh dan penuh keakraban usai doa bersama selesai dipanjatkan. Warga mulai saling melempar dan menyiramkan minuman cendol dawet ke badan satu sama lain. Efek cairan dawet yang manis dan bergula membuat pakaian hingga seluruh badan warga basah kuyup dan terasa lengket. Meski demikian, gelak tawa dan kegembiraan terpancar dari wajah para warga yang menyambut tradisi tersebut dengan penuh sukacita.
Kepala Desa Kemiriombo, Nurwahyu, menjelaskan bahwa kegiatan spiritual dan budaya ini digelar sebagai ikhtiar warga dalam menghadapi fenomena kemarau panjang serta dampak cuaca ekstrem.
“Pertama kita melaksanakan salat Istisqa, kita doa meminta agar diberi hujan. Karena di Desa Kemiriombo sudah sekitar empat bulan setengah tidak turun hujan. Ditambah kondisi cuaca ekstrem dan panas yang sangat menyengat, banyak tanaman serta pohon kopi warga yang kering dan mati,” ujar Nurwahyu saat ditemui di lokasi acara, Jumat (25/11/2026).
Nurwahyu menambahkan, tradisi ini merupakan warisan turun-temurun dari nenek moyang yang tidak dilaksanakan setiap tahun. Ritual ini hanya digelar pada momen tertentu ketika kekeringan parah melanda desa.
“Ini tradisi peninggalan leluhur kita, biasanya bisa 6 sampai 10 tahun sekali. Pelaksanaannya pun khusus diambil pada hari Jumat Kliwon karena dianggap sebagai hari sakral bagi warga desa kami. Mengapa menggunakan cendol dawet? Karena itu sudah menjadi amanat tradisi leluhur, tidak boleh diganti bahan lain seperti candil,” tambahnya.
Senada dengan Kepala Desa, salah seorang warga setempat, Ibu Tumini (67), mengungkapkan harapan besarnya agar tradisi perang cendol dawet dan doa bersama ini dapat membawa keberkahan bagi lahan pertanian warga.
“Perang dawet ini tujuannya untuk minta hujan dan minta berkah. Harapannya hujan segera turun membawa berkah, supaya tanaman kopi yang pada kering bisa kembali subur dan berbuah,” tutur Tumini.
Melalui tradisi dan ikhtiar bersama ini, masyarakat Desa Kemiriombo berharap ancaman kekeringan dapat segera berakhir sehingga aktivitas pertanian dan perekonomian warga yang bergantung pada komoditas kopi dapat kembali pulih.
Liputan: Nadhifa Zara



