Temanggung, Proliman News — Semangat mewujudkan kesetaraan dan lingkungan yang inklusif bagi penyandang tuli menjadi pesan utama dalam peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional (HBII) 2026 yang digelar Komunitas Tuli Temanggung Tersenyum (TTB), Minggu (27/9/2026).
Hari Bahasa Isyarat Internasional secara resmi diperingati setiap 23 September. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tanggal tersebut untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya bahasa isyarat dalam pemenuhan hak asasi manusia bagi masyarakat tuli. Pada 2026, tema global yang diangkat adalah “Declaring Deaf People’s Human Rights” atau menegaskan hak asasi manusia masyarakat tuli.
Kegiatan di Temanggung digelar pada 27 September karena bertepatan dengan hari libur sehingga memungkinkan lebih banyak anggota komunitas dan masyarakat untuk berkumpul dan mengikuti rangkaian kegiatan.
Ketua Komunitas TTB, Dwi Kusuma Wirawan, mengatakan peringatan HBII menjadi momentum untuk memperkenalkan lebih luas bahasa isyarat sekaligus memperjuangkan akses komunikasi yang setara bagi masyarakat tuli.
“Hari ini kegiatan adalah peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional tahun 2026. Sebenarnya diperingati setiap tanggal 23 September, tetapi kesempatan hari ini dilaksanakan tanggal 27 September karena kami libur, jadi kami bisa banyak sekali berkumpul di sini,” katanya.
Berbagai kegiatan digelar dalam peringatan tersebut. Selain lomba hiburan, panitia juga mengadakan kompetisi Mobile Legends dan PlayStation 4 yang disesuaikan dengan karakteristik komunikasi visual peserta.
Tidak hanya kegiatan hiburan, acara juga diisi dengan workshop. Materi pertama membahas dunia tuli dan peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional, sedangkan materi berikutnya mengangkat literasi digital untuk memberikan pemahaman kepada teman-teman tuli mengenai perkembangan dan pemanfaatan dunia digital.
“Yang kedua workshop tentang literasi digital, dunia digital bagaimana teman-teman tuli bisa mengetahui tentang dunia digital,” ujar Dwi.
Kegiatan tersebut juga mendapat partisipasi dari masyarakat dengar dan penyandang tuli. Bahkan, peserta tuli datang dari berbagai daerah di luar Temanggung.
“Banyak sekali teman-teman tuli, ada 95. Ada yang dari Pekalongan, Bekasi, Banyumas, ada dari Purworejo. Jadi tidak hanya Kedu, tapi banyak dari kota lain juga yang berdatangan,” katanya.
Menurut Dwi, tingginya partisipasi tersebut menunjukkan pentingnya ruang pertemuan yang memungkinkan masyarakat tuli berinteraksi, belajar dan menyuarakan hak-haknya.
Ia berharap pemerintah dan masyarakat semakin memahami kebutuhan komunikasi penyandang tuli, terutama dalam mendapatkan pelayanan publik.
“Harapannya bahasa isyarat ini menjadi alat komunikasi kami dan ini sebagai hak kami agar pemerintah juga memberikan pelayanan yang setara menggunakan bahasa isyarat,” ujarnya.
Menurut dia, pelayanan yang inklusif tidak selalu harus dilakukan dengan bahasa isyarat apabila petugas belum menguasainya. Pelayanan dapat dilakukan melalui sarana komunikasi lain yang dapat dipahami penyandang tuli.
“Kalau misalnya belum bisa menggunakan bahasa isyarat, tetap memberikan pelayanan yang ramah menggunakan tulisan, karena tuli harus setara,” katanya.
PKK Dorong Keluarga Inklusif
Ketua TP PKK Kabupaten Temanggung, Panca Dewi Agus Setyawan, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menilai peringatan HBII bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi pengingat pentingnya menciptakan ruang komunikasi yang setara bagi penyandang tuli.
“Bahasa tidak hanya bersuara, bahasa juga bisa dilihat, dirasakan, dan dikerjakan dengan tangan dan hati,” kata Panca Dewi.
Menurutnya, bahasa isyarat merupakan jembatan bagi penyandang tuli untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, pekerjaan hingga kehidupan sosial.
“Bahasa isyarat adalah jembatan mereka untuk belajar, bekerja dan dicintai,” ujarnya.
Panca Dewi menegaskan bahwa semangat inklusivitas tersebut sejalan dengan peran Tim Penggerak PKK dalam memperkuat ketahanan dan kualitas kehidupan keluarga.
Ia mengatakan, 10 Program Pokok PKK tidak hanya berbicara mengenai keluarga sehat, tetapi juga mencakup pendidikan, keterampilan serta pemberdayaan keluarga.
“Dengan 10 Program Pokok PKK bicara tentang keluarga sehat, pendidikan dan keterampilan, PKK mempunyai tugas untuk memastikan tidak ada keluarga yang tertinggal,” katanya.
Ia berharap momentum HBII dapat semakin memperkuat kepedulian masyarakat terhadap hak penyandang tuli sekaligus mendorong semakin banyak orang untuk mengenal dan mempelajari bahasa isyarat.
Dengan demikian, komunikasi antara masyarakat tuli dan masyarakat dengar tidak lagi menjadi penghalang, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sosial yang inklusif.
Liputan: W Maryanti



