Almarhum Sudarmaji Mantan Pegawai BUKP Wates Sampai Meninggal Belum Terima Gaji, Andri Irawan: Astagfirullah !

“Yang mengadu ini budenya Almarhum Sudarmaji. Konon selama bekerja di BUKP Wates tidak mendapat gaji, bahkan saat sakit hingga meninggal haknya tidak diberikan, astagfirullah,” ujarnya.(foto/istimewa)

Kulon Progo, Proliman News – Berbagai jenis aduan dari masyarakat terus mengalir ke Posko Aduan Nasabah BUKP Wates, Kulon Progo.

Bukan hanya tidak cairnya deposito dan tabungan nasabah selama bertahun-tahun yang mereka adukan, tetapi juga berbagai masalah terkait manajemen serta pelayanan.

“Ini tidak bisa kita hindari, karena nasabah menaruh harapan besar kepada kita. Ya mau bagaimana lagi, kita tetap dengarkan keluhan mereka. Padahal kita ini sekelompok nasabah yang jadi korban juga, “ ujar Andri Irawan, Pengurus Paguyuban Nasabah BUKP Wates, Minggu (27/4/2025).

Ia mengatakan, Pengurus Posko Aduan Nasabah BUKP Wates, di Karangwuni, Minggu (27/4/2025) dihubungi keluarga mantan pegawai BUKP Wates bermana Sudarmaji. Sudah almarhum.

“Yang mengadu ini budenya Almarhum Sudarmaji. Konon selama bekerja di BUKP Wates tidak mendapat gaji, bahkan saat sakit hingga meninggal haknya tidak diberikan, astagfirullah,” ujarnya.

Dijelaskan, dalam kondisi sakit bahkan Almarhum Sudarmaji pernah meminta gajinya di BUKP Wates, tetapi tetap tidak bisa keluar.

Sedang semasa sehat, Sudarmaji juga pernah memasukkan uang budhenya sebesar Rp50 juta untuk disimpan di sana, namun hingga sekarang tidak ada kabar beritanya.

Bahkan sesudah meninggal orang tua Alhamhum Sudarmaji juga pernah  datang ke kantor BUKP Wates meminta hak-hak anaknya, tetapi nihil. Tanpa hasil.

“Keluarga almarhum Sudarmaji ini meminta kita ikut ngurus gaji almarhum sebesar Rp 20 juta, dan deposito atas nama budhenya sebesar Rp50 juta. Ini kami dengarkan, dan kami tampung, semoga ada jalan untuk yang seperti ini,” tambahnya.

BACA JUGA  Pelapor Intimidasi Malah Jadi Tersangka, JPW Desak Polda DIY Audit Polresta Sleman

Selain itu, juga ada laporan tentang berbagai keanehan dalam pelayanan seperti ada dugaan setiap pegawai di BUKP Wates menangani nasabahnya sendiri-sendiri.

Sehingga setiap ada nasabah yang mau mencairkan tabungan atau deposito urusannya harus dengan pegawai yang bersangkutan, yang selama ini berhubungan dengan nasabah tersebut.

“Yang seperti ini ringan-ringan lah. Nah ada yang berat-berat dan rumit, seperti tidak adanya bilyet deposito bagi nasabah yang menyimpan dananya di deposito, bertahun-tahun, hingga sekarang. Ini bagaimana ? Ini urusannya rumit, sementara pegawai yang menangani tidak ada, atau sudah sakit-sakitan,” kata Andri Irawan.

Kemudian terkuak juga, ternyata banyak nasabah tidak memegang buku tabungan mereka selama bertahun-tahun, sementara nasabah setiap hari menabung dengan cara menyetor kepada pegawai yang keliling. Ini rata-rata terjadi di Pasar Bendungan, wates.

Dengan beberapa contoh kasus tersebut, menunjukkan bahwa BUKP Wates dikelola dengan cara yang tidak lazim.

“Yang rata-rata dialami nasabah itu susah mencairkan tabungan atau depositonya dengan berbagai cerita unik yang mengikutinya. Ada yang besuk mau tidur di Kantor BUKP Wates, bawa bantal dan tikar, sampai tabungan mereka bisa cair,” tambahnya.

Lalu banyak nasabah merasakan setiap butuh dana untuk keperluan mereka, mereka seperti harus marah-marah, emosi nggebrak-nggebrak meja, atau saling caci maki dengan pegawai BUKP Wates.

“Nanti akhir-akhirnya, butuh Rp 10 juta, dapatnya disangoni Rp 100 ribu, atau butuh Rp 500 ribu dapetnya Rp 50 ribu, ini paling seru dan paling banyak dialami nasabah BUKP Wates,” paparnya.

BACA JUGA  Gerakan Nasional Pendidikan Gelar Aksi di Titik Nol Kilometer, Mereka Menuntut Penghapusan Keistimewaan DIY

Andri Irawan meminta kepada Gubernur DIY Sri Sultan HB X agar segera turun tangan karena jika tidak kerugian yang dialamai nasabah di BUKP Wates akan sangat besar.

“Sampai Minggu (27/4/2025) sore kami sudah merekap jumlah dana nasabah itu mencapai Rp 4 miliar, bisa lebih karena banyak yang belum terverifikasi,” katanya.

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Yaa Alloh sayangi mereka temanku yg bekerja di BUKP Wates untuk tidak menjadi binatang buas untuk makan harus mengorbankan yg lain