Kulon Progo, Proliman News – Markam ( 57) singa podium di kalangan nasabah korban BUKP Wates dan Galur itu tiba-tiba lemas lunglai.
Orang yang biasa dipanggil Mbah Guru itu, beberapa hari ini seperti tidak lagi memiliki gairah hidup.
Ia bahkan mengunggah sejumlah pernyataan dalam status W A – nya dengan kalimat yang memelas, satir, dan membuat orang menangis membacanya.
“Penghianatan itu teramat dalam,” ujarnya ketika dihubungi prolimannews.id, di rumahnya Beran, Bugel, Panjatan, Kulon Progo, Kamis (29/5/2025).
Siapa lagi yang ia tuding sebagai pengkhianat kalau bukan Kepala BUKP Galur, Kulon Progo.
“Kepala BUKP Galur, itu, sudah saya anggap sebagai daging dan kulit, kenapa tega berkianat,” katanya.
Markam bukanlah anak kemarin sore. Ia banyak makan asam garam dalam dunia perdagangan, retail dan menjalin persahabatan dengan tulus di mana-mana.
Termasuk kepada Kepala BUKP Galur. Hingga tahun 2012 lalu ia menitipkan uangnya dalam bentuk deposito sebesar Rp 100 juta.
“Saya juga taruh uang di BUKP Wates, dan BUKP Galur, sama besarannya,” ujarnya lirih.
Seiring perjalanan waktu, deposito miliknya ia ambil untuk biaya naik haji. Maka di BUKP Galur masih ada deposito Rp 25 juta rupiah. Dan di BUKP Wates ada Rp 17 juta.
Tiga hari lalu Markam dipanggil Kejaksaan Negeri Kulon Progo untuk diminta keterangannya terkait dugaan korupsi di BUKP Galur.
Saat itulah ia diberitahu, ternyata dalam sistem pelaporan keuangan uangnya tidak ada. Tidak masuk sistem.
“Saya tanya, apakah uang saya masuk sistem ? Subhanallah, ternyata tidak ada uang saya di sistem, saya lemas,” katanya.
Bukan soal nilai uangnya yang membuatnya menjadi hancur. Tetapi nilai kepercayaannya kepada BUKP Galur yang membuatnya hancur.
“Hati saya remuk, persahabatan yang selama ini saya jalin dengan segala ketulusan ternyata tidak dihormati, dan dicampakkan,” ujarnya.
Esuk harinya ia lalu mengunjungi BUKP Galur, dan ngoceh macam-macam hal tentang rusaknya kepercayaan, remuknya persahabatan dan sakitnya hati ketika dikhianati.
Ia menunjukkannya lewat video, saat mencaci maki mencerami semua pegawai BUKP Galur.
“Nggak enak kamu makan Mas Gandung (Kepala BUKP Galur saat ini, red), karena yang kamumakan nggak enak,” ujarnya di video.
Siapapaun pegawai BUKP Galur yang ada saat itu tidak ada yang berani menjawab.
“Saya tinggal cek di BUKP Wates, jika disana nanti ternyata uang saya yang sedikit itu juga tidak ada disistem, maka saya akan sudahi cerita BUKP Wates dan Galur,” ungkapnya.
Ia meminta semua nasabah BUKP DIY dimananpun di seluruh wilayah DIY untuk sesegera mungkin melakukan ceking dana simpanan mereka.
Jika mendapatkan jawaban mbulet, ragu-ragu, atau tidak jelas maka segera ambil sikap segere. Terserah mau sikap apa yang mereka ambil.
Intinya, amankan dana simpnanan anda sebelum suatu hari menjadi huru – hara seperti yang kini terjadi di BUKP Galur dan Wates.
“Semoga uang mereka masih ada di sistem, karena itu yang akan dibayar oleh Pemda DIY. Jika sudah tidak ada, tidak masuk sistem, ya wasalam,” katanya.
Liputan : Suyono Sugondo




Top pak markam…tetap semangat berjuang..
Aku ya percaya2 saja sama pegawe BUKP Galur, setidaknya tahu rumahnya bahkan tetangga kampung. Tiap ambil tabungan selalu buku ditinggal ya sabar2 saja, toh bisa diambil mampir pulang kerja.
Jebul ya kok urusan uang ga ada kata tetangga, kenalan… Tak serahkan semua pada Allah. Biar Allah yang bertindak…