Ketika Kata Hanya Menjadi Bualan : Refleksi Kritis atas Tema Hari Jadi Kulon Progo ke-74

Foto Anung Marganto

Kulon Progo, Proliman News – Tujuh puluh empat tahun Kabupaten Kulon Progo berdiri menjadi bagian penting dari perjalanan panjang Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Pada peringatan tahun ini, diusunglah tema “Sinergi dan Kolaborasi untuk Kulon Progo Harmoni.”

Namun, alih-alih menginspirasi, tema tersebut justru memunculkan pertanyaan kritis: benarkah kata-kata ini disusun hanya sebagai bualan ? Karena jujur ini tanpa makna apa-apa? Tidak mendalam !

Jargon yang Kehilangan Makna

Istilah “sinergi” dan “kolaborasi” kerap terdengar dalam wacana birokrasi. Namun, penggabungan keduanya menunjukkan redundansi semantik—seperti mengulang “kerjasama dan bekerjasama.”

Sinergi seharusnya melahirkan efek lebih besar daripada sekadar penjumlahan kekuatan, sementara kolaborasi sudah memuat unsur sinergi di dalamnya.

Ketidakcermatan inilah yang menimbulkan kesan bahwa tema dibuat sekadar indah di telinga, tapi miskin makna konseptual.

Sementara itu, kata “harmoni” juga perlu ditinjau lebih kritis. Harmoni sejatinya bukanlah keseragaman atau pembungkaman perbedaan, melainkan pengakuan atas keberagaman yang dikelola secara adil.

Tanpa penjelasan yang jelas, “harmoni” dalam tema ini terasa seperti pemanis buatan yang menutupi realitas sosial.

Visi yang Absen

Seharusnya, di usia ke-74, Kulon Progo sudah melangkah pada fase transformasi, inovasi, dan penciptaan nilai baru.

Sayangnya, tema yang dipilih lebih terlihat “main aman,” tanpa keberanian merumuskan visi masa depan.

Tidak ada refleksi mendalam tentang perjalanan sejarah, tantangan yang sedang dihadapi, maupun arah untuk generasi mendatang.

BACA JUGA  Muhtarom Asrori: Warga Kulon Progo Utara Butuh Rumah Sakit Besar Oke, Tapi Perlu Kajian !

Tema peringatan idealnya menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Namun, yang kita temukan kali ini justru kesan dangkal, seolah lahir di ruang hampa tanpa pertimbangan konteks historis maupun aspirasi futuristik.

Tawaran Alternatif

Kritik tanpa solusi tentu tidak adil. Oleh karena itu, beberapa alternatif tema yang lebih kontekstual dapat dipertimbangkan, misalnya:

“Kulon Progo 74: Dari Harmoni Menuju Transformasi”

“Tujuh Dekade Berkarya, Satu Tekad Mencipta Masa Depan”

 “Refleksi 74 Tahun: Kulon Progo Mengukir Jejak Peradaban”

Tema-tema ini tidak hanya menyapa aspek emosional, tetapi juga memberi arah yang jelas: menghubungkan perjalanan sejarah dengan visi ke depan.

Penutup

Mengkritisi tema hari jadi bukanlah sikap antipati, melainkan wujud kepedulian agar Kulon Progo memiliki arah pembangunan yang lebih bermartabat.

Kabupaten ini layak memperoleh tema yang mampu menggugah jiwa, menginspirasi tindakan, dan memandu masyarakat menuju masa depan yang lebih transformatif.

Karena pada akhirnya, kata-kata bukan sekadar hiasan, melainkan cerminan pikiran yang menentukan wajah masa depan Kulon Progo.

Penulis : Anung Marganto Redaktur Senior Proliman News

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *