Yogyakarta, Proliman News – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mengimbau masyarakat mewaspadai erupsi Gunung Merapi seiring meningkatnya aktivitas vulkanis sepekan terakhir.
“Kadang-kadang guguran letusan yang ratusan kali per hari itu diselingi dengan awan panas. Sebelumnya pada Kamis kemarin, awan panas terjadi pada pukul 11.41 WIB. Dengan jarak sekitar 2 km,” kata Kepala BPPTKG Yogyakarta, Agus Budi Santoso dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Jumat (19/9/2025).
Agus mengatakan pihaknya telah memasang alat peringatan dini erupsi Merapi yang mencakup pemantauan aktivitas gunung itu. Nantinya, informasi dari alat peringatan dini itu bisa dilihat langsung oleh masyarakat sekitar merapi.
“Gunung api ini yang paling aktif dibandingkan gunung api yang lain. Karena memang perhatian Pemerintah sangat serius untuk mencegah erupsi gunung berapi ini,” ujarnya.
Kemudian, ia menjelaskan, peralatan pemantauan gunung berapi ini terbilang lengkap. Dari data yang masuk setelah dilakukan pemantauan, pihaknya langsung melakukan analisis secara tepat.
“Data itu kita kumpulkan apakah kejadian ini membahayakan atau tidak. Kalau membahayakan kita berikan notifikasi darurat kepada masyarakat melalui pesan singkat,” ujar Agus.
Ketika membutuhkan respons untuk evakuasi, kata Agus, sirine di sekitar Gunung Merapi akan dibunyikan. Sehingga, dapat diketahui daerah mana yang terancam erupsi Gunung Merapi ini.
“Protokol seperti itu sudah disiapkan kalau terjadi erupsi sewaktu-waktu. Alat ini dapat merekam getaran yang sangat lemah yang ditimbulkan aktivitas magma di dalam gunung,” kata Agus.
Sementara, melansir laman Magma ESDM, Gunung Merapi memiliki potensi bahaya. Seperti, potensi bahaya guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya.
Kondisi itu, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km. Pada sektor tenggara, meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km.
Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak. Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
Masyarakat diimbau agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya. Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar dan awanpanas guguran (APG) terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
Liputan : Tim Proliman



