Surabaya, Proliman News – Syaiful Rosi Abdillah (13) adalah salah satu santri Ponpes Al Khoziny yang bertahan hidup paling lama di bawah reruntuhan.
Ia bertahan hidup dibawah himpinan reruntuhan bangunan yang gelap selama tiga hari dua malam hari hanya dengan doa.
Mengalir mukjizat baginya dalam tragedi ambruknya bangunan empat lantai dan mushala di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo.
Syaiful Rosi Abdillah ternyata baru empat bulan menempuh pendidikan di Ponpes Al Khoziny. Kisahnya dukanya kini menjadi simbol ketahanan fisik dan spiritual yang luar biasa.
Sama seperti santri lainnya, Rosi sedang menunaikan salat Ashar berjemaah ketika bangunan musala ambruk menimpa dirinya.
Ia seketika terjebak di bawah himpitan beton dan puing-puing bangunan.
Rosi harus melewati penderitaan yang tak terbayangkan pedihnya. Ia terjebak di bawah reruntuhan selama tiga hari dua malam (sekitar 60 jam) tanpa makan, tanpa minum, dan tanpa tidur sama sekali.
Rosi kemudian mengungkapkan bahwa satu-satunya yang membuatnya kuat dan bertahan adalah dengan terus memohon pertolongan dan membaca doa-doa di dalam hati.
Ia hanya berupaya tenang, berzikir, dan berteriak minta tolong ketika mendengar suara evakuasi dari luar.
Rosi akhirnya berhasil dievakuasi oleh tim SAR pada hari Rabu (1/10/2025), setelah evakuasi korban selamat lainnya, yakni Alfatih dan Haikal.
Ia adalah salah satu korban selamat terakhir yang dikeluarkan dalam kondisi hidup.
Saat ditemukan, kondisi Rosi sangat lemah dan mengalami luka parah pada bagian kaki dan tangan.
Mirip dengan Nur Ahmad, untuk menyelamatkan nyawanya, Rosi harus merelakan anggota tubuhnya. Telapak kaki kanannya terpaksa diamputasi karena sudah mengalami nekrosis (pembusukan) akibat terlalu lama terjepit beton.
Kisah Rosi yang paling menyentuh adalah ketika ia siuman dan mulai bisa berkomunikasi dengan keluarganya.
Meskipun harus menerima kenyataan pahit kehilangan kaki, semangat hidupnya tidak padam. Dengan polos dan nada lirih, Rosi sempat melontarkan pertanyaan yang membuat orang tuanya haru.
“Kapan saya punya kaki baru?”
Pertanyaan ini menunjukkan keremajaan, kepolosan, dan semangat juang Rosi yang luar biasa untuk kembali menjalani kehidupan normal.
Orang tua Rosi, yang mendampingi di rumah sakit, bersaksi atas ketahanan putranya. Mereka menyebut Rosi sebagai anak yang sangat kuat karena mampu bertahan hidup selama tiga hari tanpa asupan apa pun.
Rosi kemudian mendapatkan perawatan intensif untuk memulihkan kondisi fisiknya dan kini ia menjadi simbol harapan bagi korban selamat lainnya.
Rosi, bersama dengan korban selamat lainnya, mendapat perhatian khusus dari tokoh nasional yang berjanji akan menanggung pendidikannya hingga jenjang perguruan tinggi, memastikan masa depannya tetap cerah.
Liputan : Reinaldy Dwi



