Kulon Progo, Proliman News – Pasar tradisional di Kulon Progo harus tetap menjadi destinasi ekonomi, yakni pusat perdagangan yang sehat harga bersaing tetapi sekaligus tujuan rekreatif yang mengasyikkan.
Demikian ujar Agung Setyawan, Calon Bupati Kulon Progo Nomor Urut 1, dalam dialog pagi dengan tema pasar tradisional dan perekonomian wilayah, Senin ( 14/10/2024).
Di Kulon Progo sendiri terdapat tidak kurang dari 32 pasar tradisional, yang masih lumayan orisinal meski sudah banyak sentuhan pembangunan fisik yang membuat lokasi pasar nilai wisatanya berkurang.
“Menilik riwayat pasar tradisional itu sejak dahulu kala memang destinasi ekonomi yakni pusat perdagangan tetapi di sisi lain juga menjadi tujuan melancong, pusat interaksi sosial yang nyaman, atau bahkan tujuan rekreatif yang mengasyikkan,” paparnya.
Sehingga dahulu di pasar tradisional itu ada tukang pande besi tempat para petani kumpul bercanda sembari reparasi alat-lat pertanian, ada warung teh nasgitel dengan jajanan sederhana, ada tempat nongkrong asyik.
Maka ke depan seluruh pasar tradisional di Kulon Progo itu baiknya memang dikembalikan pada fungsinya, yakni fungsi pusat perdagangan yang sehat dan ramah sekaligus tempat tujuan wisata dan hiling.
Sehingga pasar tradisional konsepnya tidak tertutup beton tembok tinggi atau dikitari baik ruko-ruko atau semi pasar modern atau mall seperti yang kini banyak terjadi di berbagai tempat, termasuk di Kulon Progo.
“Pasar tradisional baiknya kembali sebagai tempat perdagangan terbuka, agar lebih bagus ditata sedemikian rupa bersih, rapi, sehat, dan menjadi pusat belanja yang ramah bagi semua kelas,” ujarnya.
Lalu ada lapak-lapak kuliner kelas rakyat yang mengasyikkan sebagai tempat tujuan minum teh, ngopi, tempat nongkrong, ngerumpi yang sehat. Karena di situ menjadi pusat interaksi sosial juga. Selain menikmati kuliner khas, murah, sebagai identitas lokal.
“Sehingga keberadaan pasar tradisional harus terlihat terang benderang dari jalanan, nampak ramainya, ramahnya, sendau guraunya pengunjung serta menarik untuk setiap orang untuk sejenak singgah meski sekedar menikmati teh nasgitel atau secangkir kopi dan singkong goreng,” paparnya.
Fungsi pasar tradisional harus begitu. Pasar tradisional bukan tempat bisnis yang menegangkan, berkerut-kerut membuat semua pelaku perdagangan stres tidak happy. Bukan sejarahnya.
“Seperti dalam berbagai cerita rakyat, buku – buku komik, atau legenda, pasar itu ya menjadi tempat singgah sejenak melepas dahaga, makan, dan berinteraksi. Meski di sana ada kegiatan perdagangan,” ungkapnya.
Kenapa pasar tradisional menjadi terlihat sangar, angker, menurut Agung Setyawan karena semua orang berwajah tegang, karena 90 persen isi kepala mereka berburu untung besar, terlilit banyak tagihan kredit, dan sejenisnya kan, lanjutnya.
Faktor itulah yang perlahan-lahan menggeser peran pasar tradisional menjadi bursa komoditi yang seram, sehingga fungsi sosialnya mulai luntur dan fungsi pasar tradisional sebagai tempat tujuan rekreatif hilang.
“Maka sebaiknya pasar tradisinal tetap sebagaimana fitrahnya, jangan sampai bergeser menjadi pusat perdagangan modern yang menakutkan, agar peran sebagai destinasi ekonomi itu utuh,” ungkapnya.
Di Kulon Progo sendiri sedikitnya ada 32 pasar tradisional yang pantas dipertahankan fungsinya. Sedang beberapa pasar sudah berubah menjadi semi mall karena pembangunan ruko-ruko, mini market dan penataan lingkungannya tidak lagi bikin riang gembira.
“Yang ini ke depan butuh dikonsep ulang peruntukannya, karena sudah dibangun sedemikian rupa tapi tidak efektif dan ada yang setengah terbengkelai,” tutupnya.
Liputan : Rendy Satrio Prabowo



