Ritual Wiwitan Tandai Awal Musim Tanam Tembakau di Lereng Sumbing Temanggung 2026

Prosesi ritual Wiwitan masa tanam tembakau tahun 2026 digelar di kawasan lereng Gunung Sumbing, Kabupaten Temanggung, Jumat (24/4/2026). (foto/dok)

Temanggung, Proliman News – Prosesi ritual Wiwitan masa tanam tembakau tahun 2026 digelar di kawasan lereng Gunung Sumbing, Kabupaten Temanggung, Jumat (24/4/2026).

Tradisi ini menjadi pembuka rangkaian panjang yang nantinya akan berlanjut dalam gelaran Nyadran Ageng Bhumi Phala.

Iring-iringan bibit unggul varietas Tembakau Kemloko beserta tumpeng Sego Gono yang dibawa oleh ibu- ibu menjadi pembuka dimulai Ritual Wiwitan.

Prosesi ini dihadiri langsung oleh Bupati Temanggung Agus Setyawan, Pimpinan DPRD Temanggung, jajaran Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP), hingga manajemen pusat PT Djarum Kudus serta para grader (penilai kualitas tembakau).

Bupati Temanggung Agus Setyawan menilai pentingnya peran pabrikan dalam menjaga stabilitas ekonomi petani.

Ia berharap pihak pabrikan melakukan penghitungan biaya produksi petani secara menyeluruh.

“Harapan kami, pihak pabrikan menghitung biaya dari olah lahan sampai dengan pascapanen untuk menentukan harga per grade dengan perhitungan yang tidak merugikan petani. Kita harus menyadari bahwa saat ini harga semua bahan pertanian sedang mahal,” ujar Bupati Agus.

Lebih lanjut, Bupati juga mendorong terciptanya sistem pembelian yang lebih terbuka bagi semua kalangan untuk menolong petani mandiri.

Ia meminta agar petani yang saat ini belum mengikuti program kemitraan dapat terakomodasi secara perlahan agar hasil panen mereka tetap terserap oleh pabrikan.

“Perlu ada sistem pembelian yang menolong petani. Contohnya, bagaimana petani yang tidak mengikuti kemitraan bisa terakomodasi pelan-pelan untuk dibeli produknya, seperti sistem kemitraan, tentunya dengan tetap memenuhi syarat dan standar yang ditentukan pihak pabrikan,” imbuhnya.

BACA JUGA  AMPB Tetap Kritik Bupati Sudewo Saat Gelar Aksi Kawal Persidangan Kedua Botoh dan Teguh di PN Pati

Sementara itu, Senior Manager Tobacco Purchasing PT Djarum Kudus, Dawam, mengungkapkan bahwa pada musim ini pihaknya telah merangkul 1.057 petani kemitraan dengan total luasan lahan mencapai 850 hektare di Temanggung.

Pihaknya terus menekankan penerapan Good Agriculture Practices (GAP) dan tanpa campuran gula.

“Kami menekankan penggunaan varietas yang benar, yakni tembakau Jawa asli  serta mengedukasi petani untuk menghindari penggunaan gula dalam proses pengolahan agar memenuhi standar kualitas industri,” tegas Dawam.

Petani setempat, Yamuhadi, mengakui tantangan biaya produksi dan cuaca memang menjadi beban berat.

Ia berharap aspirasi Bupati terkait penyesuaian harga dapat diwujudkan pabrikan. Mengingat harga tertinggi varietas Kemloko tahun lalu mampu menyentuh Rp85.000 per kilogram untuk Grade E, sementara Grade C dan D berada di kisaran Rp55.000 per kilogram.

Rangkaian acara Wiwitan di lereng Sumbing ditutup dengan sarasehan dan tradisi kembul bujana nasi Gono. Kegiatan ini menjadi simbol syukur sekaligus doa bersama agar “tetanen” di Bumi Phala membawa kesejahteraan bagi seluruh petani di Temanggung.

Liputan : Bagus Kiswanto

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *