Temanggung, Proliman News – Kirab tiga gunungan berisi hasil bumi mengawali tradisi merti desa di Dusun Sejeruk, Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Ratusan warga mengikuti tradisi warisan leluhur tersebut dengan antusias sebagai ungkapan syukur atas hasil pertanian sekaligus memanjatkan doa agar hujan segera turun.
Kirab dimulai dari tengah dusun dengan membawa tiga gunungan berisi berbagai hasil bumi. Warga juga membawa aneka makanan dan ingkung ayam yang diarak bersama menuju makam Kyai Santri dan Nyai Santri, yang dikenal sebagai pendiri desa.
Sepanjang perjalanan, warga mengikuti kirab dengan membawa hasil pertanian sebagai simbol kemakmuran dan ungkapan rasa syukur. Suasana semakin meriah ketika warga berebut berbagai hasil bumi yang disusun dalam gunungan setelah rangkaian kirab berlangsung.
Berbagai komoditas pertanian, mulai dari sayuran hingga hasil bumi lainnya, menjadi rebutan warga. Tradisi tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal yang terus dipertahankan sekaligus menjadi sarana mempererat kebersamaan masyarakat.
Salah seorang warga, Suti, mengaku mendapatkan cabai dan terong dari gunungan yang diperebutkan. Hasil bumi tersebut rencananya akan dimasak untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Alhamdulillah, saya mendapatkan cabai dan terong yang nanti akan saya masak. Semoga melalui tradisi merti desa ini, kami semua mendapatkan keberkahan,” ungkap Suti.
Warisan Leluhur dan Ungkapan Syukur Petani
Sesepuh desa, Soni Kurniawan, mengatakan tradisi merti desa merupakan warisan nenek moyang yang terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat. Kegiatan tersebut menjadi bentuk rasa syukur atas hasil bumi sekaligus momentum untuk mempererat kebersamaan warga.
Selain mengungkapkan rasa syukur, masyarakat juga memanjatkan doa agar hujan segera turun. Harapan tersebut menjadi perhatian penting bagi warga yang sebagian besar menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian.
“Merti desa ini merupakan warisan nenek moyang yang terus kami jaga sampai sekarang. Ini sebagai bentuk rasa syukur kami atas hasil bumi yang melimpah. Kami juga berdoa semoga segera diberikan hujan,” kata Soni.
Ia berharap tradisi tersebut tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga terus diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas dan kebudayaan masyarakat desa.
Melestarikan Tradisi dan Mempererat Kebersamaan
Tradisi merti desa menjadi salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Dusun Sejeruk dalam menghormati leluhur, mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan, serta memperkuat ikatan sosial antarwarga.
Melalui tradisi ini, masyarakat juga memohon keselamatan, kelancaran dalam bertani, dan hasil panen yang baik. Nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong yang terkandung di dalamnya menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan sosial masyarakat pedesaan.
Bagi warga Dusun Sejeruk, merti desa bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan upaya menjaga warisan leluhur di tengah tantangan pertanian yang bergantung pada kondisi cuaca. Warga berharap hujan segera turun agar tanaman memperoleh pasokan air yang cukup dan aktivitas pertanian dapat berjalan dengan baik.
Liputan: Nadhifa Zara



