Jakarta, Proliman News – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan pagi hari ini.
Merujuk data Refinitiv, seperti di lansir CNBC mata uang Garuda pada perdagangan Senin (18/5/2026) dibuka di zona merah.
Rupiah melemah tajam hingga 0,97% dan terdepresiasi ke level Rp17.630/US$.
Kemungkinan terbaik pemerintah diminta melakukan evaluasi terhadap harga minyak (BBM) baik subsidi maupun non subsidi.
Terutama untuk BBM subsidi, tidak baik jika dibiarkan dengan patokan harga tertentu selama puluhan tahun.
Seperti Gas Elpiji, kemudian BBM jenis pertalite dan pertamax yang selama ini disubsidi sebaiknya dilakukan akselesari terkait perkembangan harga minyak dunia yang terus merangkak naik akibat perang Iran – AS.
Sejumlah analis mengatakan jika tidak ada tindakan akselerasi di harga BBM subsidi maka ini dinilai akan menjadi beban berat APBN.
Ini butuh keberanian karena ini merupakan salah satu tindakan konkrit pemerintah untuk menahan laju dolar AS hingga tidak berada di angka Rp 20.000 per dolar.
Jika rupoiah terus melemah terhadap dolar AS maka semua sektor perekonomian akan mengalami syock luar biasa.
Karena semua sektor perekonomian Indonesia masih masih tergantung pada komponen impor. Mulai dari sektor obat-obat pertanian, hingga minyak dan suku cadang kendaraan.
Jangan dikira orang desa tidak akan mengalami pukulan jika rupiah terus melemah.
Karena harga sayur mayor akan terus melonjak tinggi karena harga angkutan makin mahal dan suku cadang kendaraan juga mengalami lonjakan.
Sementara di lahan pertanian, harga obat-obat pertanian sebagai penopang produksi pertanian juka akan mengalami lonjakan akibat kenaikan dolar AS.
Liputan : Suyono Sugondo



