Yogyakarta, Proliman News – Pagi ini rupiah kembali melemah di angka Rp 17.800 per satu dolar AS. Atau nyaris menembus angka Rp 18.000 per dolar AS.
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dinilai berdampak langsung pada kenaikan harga barang yang dikonsumsi masyarakat.
Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Rijadh Djatu Winardi, menjelaskan bahwa dalam kajian ekonomi, fenomena tersebut dikenal sebagai inflasi impor.
Di mana melemahnya rupiah menyebabkan kenaikan biaya barang impor dalam denominasi rupiah.
Menurutnya, perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi peningkatan biaya produksi.
Meski masih memiliki stok lama, penyesuaian harga pada akhirnya sulit dihindari dan umumnya mulai diteruskan kepada konsumen dalam rentang waktu satu hingga beberapa bulan setelahnya.
“Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak,” ujarnya.
Mewlemahnya nilai tukar rupiah dinilai memberi tekanan besar terhadap sejumlah pos dalam anggaran negara, terutama pada belanja yang sensitif terhadap pergerakan kurs.
Rijadh menyebut subsidi energi sebagai salah satu sektor yang paling terdampak, mengingat ketergantungan pada komponen impor yang membuat beban subsidi meningkat saat rupiah melemah.
Disamping itu, beban utang luar negeri juga menjadi faktor signifikan karena nilai pembayaran pokok dan bunga dalam rupiah ikut membengkak meskipun kewajiban dalam dolar tidak berubah.
“Ketika ruang fiskal terserap untuk subsidi dan utang, maka fleksibilitas pemerintah untuk membiayai sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, atau perlindungan sosial menjadi terbatas,” jelasnya.
Rijadh menjelaskan upaya dalam meredam gejolak nilai tukar rupiah dinilai menempatkan Bank Indonesia pada posisi dilematis, antara menjaga stabilitas dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi.
Rijadh menilai bahwa di satu sisi menjaga suku bunga tetap relatif rendah penting untuk mendukung aktivitas ekonomi dan menjaga biaya kredit tetap terjangkau, sementara di sisi lain stabilitas nilai tukar juga harus dijaga.
Menurutnya, pendekatan yang dapat diambil bersifat kombinasi, mulai dari intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga volatilitas rupiah hingga pemanfaatan instrumen keuangan seperti surat berharga guna menarik aliran modal.
“Pendekatan ini menurut saya cukup rasional, karena mencoba menjaga keseimbangan antara stabilitas makro dan momentum pertumbuhan ekonomi domestik,” katanya
Rijadh menekankan pentingnya menjaga kredibilitas fiskal melalui disiplin belanja negara dan memperkuat sektor domestik untuk mengurangi ketergantungan impor, terutama pada pangan dan energi.
Ia menilai momentum pelemahan rupiah saat ini justru bisa dimanfaatkan untuk mendorong ekspor.
“Yang tidak kalah penting menurut saya adalah menjaga daya tahan masyarakat rentan. Program perlindungan sosial harus tetap kuat dan adaptif, karena kelompok inilah yang biasanya paling cepat merasakan dampak dari kenaikan harga,” tutupnya.
Liputan : Suyono Sugondo / Humas UGM



