Nilai Tukar Rupiah Jatuh Diangka Rp 17.730/ Dolar AS Pagi Ini atau Terburuk Sepanjang Sejarah

Merujuk data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan di level Rp17.730/US$ atau melemah 0,20%. (foto/ist)

Yogyakarta, Proliman News – Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (20/5/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan di level Rp17.730/US$ atau melemah 0,20%.

Kondisi ini melanjutkan tekanan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya Selasa (19/5/2026), rupiah ditutup melemah 0,31% ke level Rp17.695/US$.

Posisi tersebut menjadi level penutupan terlemah terbaru rupiah sepanjang sejarah.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat.

Per pukul 09.00 WIB, DXY naik 0,07% ke posisi 99,398.

Kementerian Keuangan mencatat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit Rp164,4 triliun atau 0,64% terhadap produk domestik bruto (PDB) per 30 April 2026.

Defisit tersebut lebih rendah dibandingkan posisi Maret 2026 yang mencapai Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93% terhadap PDB.

Penurunan defisit ini ditopang oleh penerimaan perpajakan yang masih tumbuh dua digit.

“Kemarin waktu Maret 0,93%, sekarang kalau 0,64% bulan April. Kalau dikali empat setahun kira-kira 1,8%, tapi kalau cara analis gak gitu. Ini belum nari-nari,” kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi APBN Kita, Selasa (19/5/2026

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berdampak langsung pada pasar sayuran melalui lonjakan biaya produksi akibat mahalnya harga pupuk dan benih impor.

Hal ini akan memicu inflasi impor, menekan daya beli masyarakat yang berujung pada perubahan pola konsumsi, serta membatasi ragam sayuran yang dibeli.

BACA JUGA  Ketua IBGL : Semua Balon Bupati Harus Bisa Menjawab, Kenapa Seluruh Akses Jalan di Kita Dibiarkan Hancur ?

Mayoritas sarana produksi pertanian modern, seperti traktor, dan alat-alat pertanian canggih lainnya juga masih impor, bahkan kita tahu benih unggul dan pupuk nonsubsidi, sangat bergantung pada impor.

Pelemahan rupiah juga membuat biaya operasional petani melonjak drastis. Akibat semakin melonjaknya harga BBM serta mahalnya berbagai obat pertanian.

Untuk menutupi biaya produksi yang tinggi, pedagang dan pengepul terpaksa menaikkan harga sayuran di pasar tradisional maupun swalayan. Itu pasti.

Saat harga sayuran naik, daya beli masyarakat menurun.

Konsumen biasanya memprioritaskan makanan pokok yang murah dan mengesampingkan variasi sayuran bernutrisi tinggi atau buah-buahan.

Pelaku usaha kuliner dan pedagang sayur harus memutar otak untuk menyiasati margin keuntungan yang menipis.

Beberapa pedagang mengurangi porsi atau memilih sayuran lokal dengan harga yang lebih stabil untuk menekan pengeluaran.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian memang terus memantau stabilitas rantai pasok dan menjaga agar ketersediaan pangan domestik tetap mencukupi di tengah ketidakpastian nilai tukar.

Melemahnya rupiah bisa memicu kenaikan harga kebutuhan pokok, transportasi dan energi.

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *