Agung Setyawan: Masyarakat Tidak Perlu Khawatir Rencana Reaktivasi Bandara Adisutjipto Yogyakarta

Tantangannya adalah menemukan titik keseimbangan antara kebutuhan mobilitas masyarakat, efektivitas layanan penerbangan(foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News —Wacana reaktivasi Bandara Adisutjipto untuk kembali melayani penerbangan komersial memunculkan beragam tanggapan.

Sejumlah pihak menilai langkah tersebut dapat memperluas pilihan layanan transportasi udara bagi masyarakat.

Namun, sebagian lain mengkhawatirkan dampaknya terhadap perkembangan kawasan sekitar Yogyakarta International Airport (YIA) di Kabupaten Kulon Progo.

Perbedaan tersebut tidak lepas dari posisi YIA yang selama beberapa tahun terakhir menjadi gerbang utama penerbangan di DIY sekaligus salah satu pengungkit pertumbuhan ekonomi di wilayah barat Yogyakarta.

Kehadiran bandara itu mendorong tumbuhnya investasi di sektor perhotelan, perdagangan, transportasi, logistik, hingga pariwisata.

Bupati Kulon Progo Agung Setyawan, saat ditemui pada Minggu (7/6/2026), menilai masyarakat tidak perlu terlalu khawatir terhadap wacana tersebut.

Menurutnya, karakter operasional Adisutjipto dan YIA berbeda sehingga keduanya berpeluang berjalan berdampingan.

YIA, tetap menjadi pusat layanan penerbangan bagi pesawat berbadan besar dan rute-rute utama.

Sementara Adisutjipto diperkirakan akan lebih banyak melayani pesawat berkapasitas lebih kecil atau penerbangan tertentu sebagaimana konsep operasional sebelumnya.

Pada hari yang sama, General Manager Yogyakarta International Airport (YIA), Thamrin, menyatakan pihaknya akan mengikuti setiap kebijakan dan arahan resmi pemerintah terkait pengelolaan operasional bandara.

Saat ini Bandara Adisutjipto masih beroperasi untuk melayani penerbangan domestik terbatas menggunakan pesawat propeler.

YIA, tetap menjadi pusat layanan penerbangan bagi pesawat berbadan besar dan rute-rute utama.

BACA JUGA  Ratusan Guru RA/TK Kulon Progo Ikuti Pelatihan AI

Sementara Adisutjipto diperkirakan akan lebih banyak melayani pesawat berkapasitas lebih kecil atau penerbangan tertentu sebagaimana konsep operasional sebelumnya, lanjut Thamrin.

Keputusan yang akan diambil pemerintah nantinya akan menjadi penentu arah pengembangan transportasi udara DIY dalam beberapa tahun ke depan.

Tantangannya adalah menemukan titik keseimbangan antara kebutuhan mobilitas masyarakat, efektivitas layanan penerbangan.Liputan : Anung Marganto

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *