Tradisi Manten Lurah Traji di Lereng Gunung Sindoro Temanggung Warga Berebut Gunungan Malam 1 Suro

Di barisan warga, terlihat Kepala Desa Traji beserta sang istri yang menjadi pusat perhatian. Keduanya dirias megah bak sepasang pengantin, diikuti oleh barisan perangkat desa dan sesepuh adat yang menggotong gunungan palawija serta 57 macam sesaji.(foto/anies)

Temanggung, Proliman News — Menyambut malam 1 Suro atau 1 Muharam, masyarakat Desa Traji, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, gelar tradisi  “Manten Lurah Traji” pada Senin (15/6/2026).

Ritual unik masyarakat di lereng Gunung Sindoro ini diakhiri dengan aksi ribuan warga saling berebut gunungan hasil bumi dan air sendang yang diyakini membawa berkah.

Prosesi ritual ini dimulai selepas ibadah salat magrib. Ratusan warga yang mengenakan pakaian adat Jawa tampak berarak-arakan mengular dari Balai Desa menuju Sendang Sidhukun, sebuah mata air yang disakralkan oleh masyarakat setempat.

Di barisan warga, terlihat Kepala Desa Traji beserta sang istri yang menjadi pusat perhatian.

Keduanya dirias megah bak sepasang pengantin, diikuti oleh barisan perangkat desa dan sesepuh adat yang menggotong gunungan palawija serta 57 macam sesaji.

Pemangku adat sekaligus juru kunci Sendang Sidhukun, Suwarno, menjelaskan bahwa ritual ini merupakan simbol penghormatan terhadap alam terutama sumber mata air sendang Sidhukun sekaligus tradisi tahunan yang sudah berusia ratusan tahun.

“Keunikannya memang setiap Suro Pejabat Kepala Desa Traji bersama istrinya didandani layaknya pengantin. Pengantin ini lalu diarak oleh warga menuju mata air utama yang bernama Sendhang Sidukun yang merupakan sumber air warga setempat dan beberapa desa di bawahnya,” ujar Suwarno di lokasi lokasi ritual.

Sesampainya di Sendang Sidhukun, suasana berubah khidmat saat peserta ritual duduk bersila mendengarkan tembang geguritan yang berisi syair nasihat kehidupan.

BACA JUGA  Jangan Menyedu Kopi Dengan Air Panas Mendidih Ini Resikonya Buat Anda Para Pecandu Kopi

Setelah itu, Kepala Desa bersama istri melakukan prosesi kacar-kucur, dilanjutkan dengan jamasan (pencucian) wayang kulit, dan ditutup dengan doa bersama.

Begitu doa usai dan rombongan inti meninggalkan area, suasana sakral langsung berubah menjadi riuh.

Ribuan warga yang sudah memadati area sendang langsung merangsek maju untuk memperebutkan gunungan berisi sayuran dan buah-buahan.

Bahkan, belasan remaja nekat menceburkan diri ke dalam kolam sendang untuk memperebutkan sesaji yang dilemparkan ke dalam air.

Menurut Suwarno, antusiasme warga yang luar biasa ini tak lepas dari kepercayaan spiritual yang melekat pada tradisi tersebut.

“Ritual ini puncaknya adalah berebut gunungan hasil pertanian. Jika peserta ada yang mendapat bagian, itu perlambang akan mendapat berkah,” tambah Suwarno.

Berkah ini pula yang dicari oleh Suratiyah (42), seorang pengunjung asal Semarang.

Ia mengaku sengaja datang jauh-jauh bersama suaminya demi bisa merasakan langsung suasana sakral malam satu Suro di Desa Traji.

“Sengaja datang bersama suami untuk mengikuti ritual malam satu Suro di Traji dengan harapan mendapat berkah. Alhamdulillah, ini tadi berhasil mendapat pisang dan timun,” kata Suratiyah dengan wajah sumringah.

Tidak hanya gunungan dan sesaji, setelah area grebeg steril, ratusan warga langsung mengantre rapi dengan membawa jeriken, botol, hingga tumbler.

Mereka rela mengantre demi mendapatkan air langsung dari mata air Sendang Sidhukun yang dipercaya menyimpan khasiat dan berkah tersendiri.

BACA JUGA  Suara Jalanan Dihapus, Mural Kritik Korupsi Stadion Mandala Krida Diblok Hitam!

Bagi masyarakat lereng Gunung Sindoro, ritual Manten Lurah Traji ini bukan sekadar tontonan budaya, melainkan sebuah simbol pengingat akan pentingnya menjaga kedekatan manusia dengan alam sekitar, khususnya mata air yang menjadi urat nadi kehidupan sehari-hari mereka.

Liputan : Bagus Anies

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *