Musim Petani Wilayah Petit Meluapkan Emosinya Karena Tidak Kebagian Air, Nasib Wardoyo: Ini Problem Puluhan Tahun !

“Jika memang tidak ada lagi jalan keluar membagi air dengan adil dan baik, banyak usulan dari berbagai wilayah yang kerap tidak terjangkau air irigasi itu dengan pompanisasi dan subsidi BBM untuk mesin pompa yang ada di petani,” tegasnya. (foto/dok)

Kulon Progo, Proliman News – Problem air irigasi ternyata tidak pernah usai dan segera mendapat solusi yang baik memalui managemen tata kelo irigasi.

Petani di wilayah bawah, yang jauh dari sumber air masih mengeluh tidak kebagian air irigasi akibat tata kelola (pembagian air irigasi) tidak profesional dan jauh dari harapan.

Maka problemnya adalah banyak lahan sawah tidak menghasilkan pangan atau fuso dan amarah atau emosi petani meledak-ledak setiap kali diajak bicara tentang tata kelola air irigasi.

“Musim kering seperti sekarang ini, musim dimana para petani di wilayah petit itu merasa menjadi anak tiri dan ini terus berlangsung selama puluhan tahun,” kata anggota Komisi 2 DPRD Kulon Progo Nasib Wardoyo, Rabu (24 Juni 2026).

Ia menyatakan prihatin, karena tata kelola irigasi di Kulon Progo puluhan tahun tidak pernah beres.

“Kalau ditilik dari kritik dan uneg-uneg para petani serta P3A di berbagai wilayah itu masih sama dengan keluhan mereka 40 tahun lalu. Artinya selama itu tidak pernah ada perbaikan tata kelola irigasi yang membuat wilayah petit bisa menikmati air irigasi dengan baik, meski terus dibahas. Apa yang salah ?” katanya.

Bahkan ia menegaskan, orang yang terlibat dalam diskusi-diskusi tata kelola air irigasi itu sejak 40 tahun lalu sampai sekaranag relatif sama.

Pemerhati irigasi, aktivis P3A atau GP3A serta siapa yang sering vokal mengkritisi tata kelola air irigasi itu relative sama.

BACA JUGA  Festival Kopi Kulon Progo 2025 Melounching Brand Kopi Menoreh untuk Pemenuhan Pasar Internasional

“Aktivisnya ya itu – itu saja, orangnya relative sama. Ini saya alamai sejak saya masih muda sekali hingga umur hampir 60 tahun sekarang,” ujarnya mengintakan.

Ini memprihatinkan problem tidak pernah ada solusi, tata kelola air irigasi masih kacau tetapi yang selalu bicara lantang soal irigasi aktivisnya masih muka-muka lama.

“Mereka yang terus menerus mengkritisi tata kelola air irigasi dan memberi masukan kepada Dinas PU Kulon Progo, belum banyak berubah. Ya hanya itu – itu saja. Kenapa tidak segera mendapatkan rumusan yang baik dan berkeadilan soal bagi membagi air untuk pertanian lahan sawah ini,” katanya dalam acara Sosialisasi Perda Irigasi Tahun 2011 di rumahnya.

Nasib Wardoyo kembali menekankan, kalau tata kelola irigasi tidak bisa diselesaikan dengan baik dan terus menyisakan masalah menahun, bagimana wilayah ini akan mencapai ketahanan pangan yang maksimal.

“Bahwa Program Ketahanan Pangan yang kini dicanangkan pemerintah Prabowo – Gibran harus disukseskan, dengan tata kelola irigasi yang menyeluruh dan terkoordinasi,” tegasnya.

Ia mengajak semua pihak bicara dengan dingin dan detail hingga merumuskan tata kelola air irigasi yang profesional dan berkeadilan. Sehingga tahun depan dan depannya lagi tidsak ada lagi problem wilayah petit atau ujung tidak kebagian air irigasi sementara sumber air melimpah dan terbuang ke sungai.

Ia meminta pemerintah, GP3A, P3A, harus terkonsolidasi agar tidak ada persoalan terkait tata kelola air, distribusi air, dan masalah rumit di air irigasi untuk lahan sawah di Kulon Progo.

BACA JUGA  Pembagian Order Pengadaan Batik Binangun Kertoraharjo Melalui Satu Pintu Asosiasi Dinilai Bakal Runyam

Sedang tentang penyelesaian lahan pertanian padi di Kapanewon Temon, Kulon Progo ia mendesak kepada Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO) sebagai pengelola Waduk Sermo meningkatkan secara suplai debit air untuk wilayah  Pengasih Barat menjadi 1.500 hingga 2000 meter kubik per detik, bukan hanya 750 sampai 8000.

“Ini salah satu solusinya, agar wilayah Kapanewon Temon tidak gagal Panen. Soal ada proyek di bawah Sermo, ada trobel saluran irigasi terseumbat pohon roboh itu hal kecil yang segera bisa teratasi. Tetapi bagaimana menciptakan managemen tata kelola air irigasi yang baik, profesional dan berkeadilan itu utamanya,” katanya.

Maka harus ada upaya ekstensifikasi pengelolaan sumber daya air di wilayah petit atau hilir agar dapat mengurangi persoalan air di wilayah hilir.

“Jika memang tidak ada lagi jalan keluar membagi air dengan adil dan baik, banyak usulan wilayah yang kerap tidak terjangkau air irigasi itu dengan pompanisasi dan subsidi BBM untuk mesin pompa yang ada di petani,” tegasnya.

Seperti usulan di Dusun Pasir Mendit, Pasir Kadilangu, wilayah Kulon Progo yang tidak pernah tersentuh program irigasi atau pembangunan tersier atau sekunder karena berada di sebelah barat Sungai Bogowondo dan masuk kawasan Purworejo Jawa Tengah.

Mereka meminta agar Dinas PU Bagian Irigasi melihat langsung bagaimana cara petani di sana memenuhi kebuhuhan air untuk pertanian. Yakni dengan pengerahan pompa.

BACA JUGA  Perkuat Sistem Keselamatan Objek Vital, Dandim Kulon Progo Hadiri Rakor Tanggap Darurat di Bandara YIA

Dalam kondisi BBM mahal seperti sekarang ini mereka meminta ada program pompanisasi dan subsidi BBM untuk wilayah yang tersisih ini.

Kedua wilayah pesisir, selatan mulai dari Trisik Banaran hingga Congot yang selama ini setiap hari butuh air tetapi mereka tidak mengandalkan suplai air irigasi, mereka cukup membuat sumur bor dan menyedot air dengan pompa.

“Para petani di wilayah ini juga menjadi pernyangga pangan nasional, tidak mengandalkan air irigasi, tetapi mereka butuh perhatian seperti jaringan listrik petani, atau ada subsidi BBM untuk pompa air,” paparnya.

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *