Pembagian Order Pengadaan Batik Binangun Kertoraharjo Melalui Satu Pintu Asosiasi Dinilai Bakal Runyam

“Batik motif Binangun Kertoraharjo itu memang untuk seragam pegawai, seragan sekolah, karang taruna dan sebagainya. Tinggal nanti menyesuaikan warnanya, ujar Joko Mursito. (foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News – Wacana pembagian order produksi seragam batik motif Binangun Kertoraharjo untuk seragam pegawai negeri dan swasta di Kulon Progo melalui satu pintu yakni Asosiasi Perajin Pedagang Batik Kulon Progo (APPBK), dinilai bakal runyam.

Alasannya, tidak semua perajin batik di Kulon Progo masuk menjadi anggota asosiasi APPBK sehingga dikawatirkan akan muncul situasi dimana perajin yang dikenal dan dekat dengan pengurus asosiasilah yang mendapatkan order.

“Atau setidaknya, jika order pembuatan batik seragam pegawai lewat satu pintu yakni asosiasi maka order hanya akan dibagi kepada kalangan tertentu yang dikenal atau ada komunikasi baik dengan Ketua Asosiasi Perajin dan Pedagang Batik Kulon Progo,” kata Wicaksono Pemilik Batik Bunga Kecil Kulon Progo.

Karena sejatinya asosiasi perajin batik yakni APPBK tidak memiliki pengurus yang aktif dan solid sehingga dikawatirkan yang bermain membagi order hanya salah satu orang yang kini menjadi ketua asosiasi.

“Asosiasi perajin batik Kulon Progo itu kan dalam tanda kutip tidak ada, tidak memiliki anggota yang terkonsolidasi dan tidak memiliki pengutus yang nyata,” katanya Jumat (20/6/2025).

Ia mengatakan, sebenarnya asosiasi itu tidak pernah ada kecuali hanya sering disebut oleh beberapa orang yang memiliki kepentingan pada kesempatan mengambil untung seperti pembagian order pengerjaan batik seragam seperti sekarang ini.

Atau istilah paling populer asosiasi batik Kulon Progo itu tidak pernah berjalan sebagaimana organisasi profesi lainnya.

BACA JUGA  Banyak Warga Kulon Progo Jadi Korban Bisnis Online dan Investasi Bodong, Nasib Wardoyo: Kami Turunkan Tim !

“Asosiasi ini dulu didirkan tahun 2009, kami paham benar perjalanan organisasi itu. Dimulai dari nol, sebelum perajin di Kulon Progo tumbuh pesat dengan merek dagangnya masing-masing,” ujarnya.

Karena saat itu asosiasi dibuat seadanya, sekenanya, dengan Ketua Umbuk Haryanto, yang kini dikenal sebagai pemilik Batik Faras, dan dimotori oleh Suyono Sugondo journalis Metro TV saat itu, yang mengambil posisi sebagai Wakil Ketua.

Asosiasi saat itu didrikan untuk membangun industri batik di Kulon Progo. Pendiri saat itu yakni Suyono Sugondo seorang journalis dengan mengumpulkan 14 orang calon perajin batik di Kulon Progo.

Dengan kegigihannya, APPBK dua kali melakukan bazar batik, dan melakukan penguatan kepada perajin yang sedang muncul atau sedang tumbuh, lalu tiba-tiba ganti pengurus tanpa prosedur yang benar.

Ia menjelaskan, di tahun 2015 tiba-tiba asosiasi berganti pengurus tanpa melibatkan semua komponen perajin batik di Kulon Progo, dengan ketua Joko Mursito, yang kini menjadi Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo.

Perjalanan asosiasi tidak pernah terdengar, tidak ada kontribusi kepada perkembangan dan pembinaan terhadap perajin batik di Kulon Progo selama itu. Karena memang pengurus dan anggotanya juga tidak jelas.

“Kemudian tiba-tiba sekarang semua order batik Binangun Kertoraharjo akan dilewatkan satu pintu asosiasi. Kira-kira akan seperti apa pembagian order 12 ribu lembar kain batik Binangun Kertoraharjo, itu melalui satu pintu asosiasi,” katanya.

BACA JUGA  Gunung Merapi Kembali Luncurkan Awan Panas Guguran Sejauh 2 Kilometer

Maka sebaiknya Pemda Kulon Progo tidak gegabah untuk membagi order pembuatan batik seragam pegawai kepada satu pintu asosiasi, agar tidak menimbulkan masalah di lapangan.

Wicaksono mengatakan, sebaiknya para perajin dibiarkan mendekati semua dinas dan isntansi yang ada di Pemda Kulon Progo menawarkan desainnya lalu menjalin kontrak pembuatan batik seragam untuk pegawai.

“Sebaiknya dibiarkan para perajin yang kini sudah dewasa, pinter-pinter dan punya brand untuk berhubungan langsung kepada dinas-dinas. Biarkan mereka lebih dewasa dan dinas akan mendapatkan barang sesuai dengan keinginan mereka, tanpa prosedur penunjukan langsung (PL). Ini juga bahaya nanti,” ujarnya.

Sementara ketika diminta konfirmasinya salah satu perajin batik di Lendah Kulon Progo, yakni Zudanto Hermawan mengatakan, bahwa pembagian order batik seragam satu pintu itu usualan dalam sosialisasi motif batu di Pemda Kulon Progo, Jum’at (20/6/2025).

“Itu usulan dan belum semua perajin sepakat soal pembagian order satu pintu. Pertimbangannya banyak. Kita lihat saja nanti seperti apa,” kata Pemilik Batik Rina Sidorejo Lendah Kulon Progo, itu.

Liputan : Winarto / Rendy Satrio Prabowo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *