Dua Dekade Setengah Festival Lima Gunung: Pameran Peradaban Batin dan Ilmu Pengetahuan Desa

(Foto/Hari Atmoko)

Magelang, Proliman News — Festival Lima Gunung (FLG) kembali digelar untuk yang ke-25 kalinya. Budayawan Magelang, Sutanto Mendut, menegaskan bahwa konsistensi festival ini selama seperempat abad bukan sekadar urusan pementasan seni, melainkan sebuah sumbangan nyata bagi ilmu pengetahuan mengenai peradaban batin masyarakat desa.

Komunitas Lima Gunung (KLG) yang digerakkan oleh para seniman petani ini terus merawat tradisi secara mandiri. “Nilainya apa selama 25 tahun ini? Festival Lima Gunung telah menjadi pameran ilmu pengetahuan desa,” kata Sutanto selaku perintis komunitas dalam jumpa pers, Minggu (5/7/2026).

Pada penyelenggaraan perak tahun ini, Dusun Warangan di Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang—yang terletak di kawasan lereng Gunung Merbabu—kembali didapuk sebagai tuan rumah. Acara puncaknya sendiri dijadwalkan berlangsung pada 10 hingga 12 Juli 2026. Bagi Dusun Warangan, ini merupakan kali keempat mereka menjadi pusat lokasi FLG, setelah sebelumnya sukses menjadi tuan rumah pada tahun 2002, 2003, dan 2014.

Salah satu keunikan yang tetap dipertahankan dari Festival Lima Gunung adalah prinsip kemandiriannya yang mutlak. Sepanjang sejarahnya, perhelatan besar ini tidak pernah menggunakan dana sponsor, baik dari pemerintah maupun sektor swasta.

Menurut Sutanto, esensi nilai, ketulusan hati, dan rasa cinta warga desa terhadap kebudayaan adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan materi. “Justru kalau disponsori, festival ini tidak akan jalan. Ini festival tentang nilai-nilai dan ilmu pengetahuan yang tidak bisa begitu saja dipahami secara instan,” tambahnya.

BACA JUGA  Liburan Sekolah di Candi BorobudurHadirkan Pengalaman Penuh Makna melalui Wisata Edukasi & Budaya

Menariknya, FLG XXV tahun ini mengusung tema yang menggelitik sekaligus filosofis:

“Makin Goblok Bareng”. Tema ini sengaja diangkat sebagai respons terhadap realitas kehidupan modern di era digital. Makna di baliknya adalah ajakan untuk tetap memiliki sikap tawaduk (rendah hati), terus merasa bodoh agar mau mendidik diri, serta konsisten belajar bersama demi mewariskan peradaban yang luhur bagi generasi masa depan.

Sinergi dan ketangguhan komunitas ini dibuktikan lewat persiapan fisik di lapangan. Sejak pertengahan Juni, warga Dusun Warangan yang terdiri dari 186 kepala keluarga saling bahu-membahu membangun panggung pertunjukan dua tingkat seluas 80 meter persegi dan 32 meter persegi di atas tanah bengkok desa. Panggung tersebut dihias menggunakan instalasi seni berbahan dasar hasil alam dan pertanian lokal.

Ketua KLG, Sujono, menjelaskan bahwa anyaman jejaring sosial antar-kelompok kesenian dan masyarakat inilah yang membuat nilai-nilai pedesaan dan kearifan lokal tetap hidup. Semangat bekerja tanpa pamrih serta persaudaraan tetap menjadi modal utama dalam menghadapi dinamika zaman, termasuk saat komunitas ini tetap konsisten beraktivitas sewaktu pandemi beberapa tahun lalu.

Nantinya, sekitar 85 grup kesenian yang melibatkan sedikitnya 1.274 penampil akan meramaikan festival. Berbagai agenda kebudayaan telah disiapkan, mulai dari pertunjukan tari tradisional, kontemporer, musik, teater, pameran seni rupa, pembacaan puisi, kirab budaya, pidato kebudayaan, hingga penganugerahan Lima Gunung Award. Para penampil tidak hanya berasal dari internal komunitas yang berbasis di kawasan lima gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh), tetapi juga dari berbagai jaringan seni luar kota.

BACA JUGA  Presiden Emmanuel Macron Anugerahkan Grand Croix de la Légion d’Honneur Kepada Presiden Prabowo Subianto

Liputan: Galang Andika Pratama

 

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *