Menyemai Harapan di Lendah: Sekolah Rakyat Kulon Progo Bersiap Putus Rantai Kemiskinan

Menteri Sosial RI Gus Ipulmenyebut pembangunan gedung telah mencapai lebih dari 90 persen dan ditargetkan siap digunakan dalam dua minggu ke depan. (Foto/Dok)

Kulon Progo, Proliman News – Sebuah babak baru bagi masa depan anak-anak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) segera dimulai. Berdiri di Dusun Wonolopo, Kalurahan Gulurejo, Kapanewon Lendah, Sekolah Rakyat Kulon Progo bersiap menyambut langkah pertama para siswanya pada Juli 2026 ini. Bukan sekadar bangunan fisik, sekolah ini membawa misi kemanusiaan yang mendalam: membuka akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera sekaligus memutus rantai kemiskinan.

​Menteri Sosial RI, Gus Ipul, menyampaikan bahwa pembangunan gedung permanen ini sudah berjalan sangat cepat, mencapai lebih dari 90 persen, dan ditargetkan siap digunakan sepenuhnya dalam dua minggu ke depan. Gedung ini dirancang dengan kapasitas besar yang mampu menampung hingga 1.000 siswa, menjadikannya salah satu dari 104 Sekolah Rakyat permanen yang dibangun pemerintah di seluruh Indonesia sepanjang tahun 2026.

Sebagai bentuk sentuhan khusus bagi anak-anak terpilih, pada tahap awal ini sebanyak 314 siswa dari seluruh wilayah DIY akan mulai menuntut ilmu di Sekolah Rakyat. Kulon Progo sendiri menjadi daerah asal siswa terbanyak dengan meloloskan 187 anak, yang terdiri atas 7 siswa Sekolah Dasar (SD), 90 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan 90 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA).

Sistem rekrutmen sekolah ini sengaja tidak dibuka melalui pendaftaran umum. Pemerintah bersama pendamping sosial menyisir langsung data keluarga miskin yang telah terverifikasi, memastikan bahwa kesempatan emas ini benar-benar jatuh ke tangan anak-anak yang paling membutuhkan.

BACA JUGA  Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati Sebut UNY di Kulon Progo Harus Dipertahankan

​Menyadari bahwa setiap anak membutuhkan waktu untuk tumbuh, Sekolah Rakyat menerapkan sistem adaptasi yang berbeda dari sekolah reguler. Proses belajar akan diawali dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama 2 minggu, disusul dengan program matrikulasi selama 3 bulan. Program ini dirancang khusus agar siswa dan guru dapat saling mengenal dan beradaptasi dengan sistem pembelajaran baru tanpa merasa tertekan.

​Tak hanya akademis, pembentukan karakter juga menjadi pilar utama. Karakter kedisiplinan dan kemandirian siswa akan dibentuk dengan melibatkan Taruna Akmil dan Akpol yang siap mendampingi mereka dalam pembiasaan sehari-hari.

​”Fasilitasnya sangat lengkap, mulai dari laboratorium, perpustakaan, hingga sarana olahraga. Kami sangat tidak sabar untuk mulai belajar di sini.” — Ungkapan antusiasme dari beberapa calon siswa.

​Dukungan penuh juga mengalir dari pemerintah daerah. Wakil Bupati Kulon Progo, Ambar Purwoko, menegaskan kesiapan Pemkab untuk menyokong operasional sekolah. Agar keberadaan sekolah ini membawa berkah yang lebih luas, beliau mengusulkan agar tenaga pendukung seperti petugas keamanan dan kebersihan direkrut langsung dari warga sekitar. Langkah ini diharapkan mampu menggerakkan roda perekonomian lokal.

​Dari sudut Lendah, secercah cahaya terang sedang dinyalakan. Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, melainkan sebuah jembatan harapan untuk mencetak generasi unggul yang siap mengubah nasib keluarga mereka di masa depan.

Liputan: Galang Andika Pratama

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *