Kesiapan Industri Suku Cadang Lokal Dukung Mobil Nasional Prabowo dan Tantangan Pasar China

Ilustrasi aktivitas produksi di dalam pabrik manufaktur komponen otomotif. Industri suku cadang dalam negeri menyatakan kesiapannya untuk memasok kebutuhan komponen lokal guna mendukung penuh realisasi program Mobil Nasional.(foto/dok)

​Jakarta, Proliman News – Rencana Pemerintah Pusat untuk mendorong kembali gagasan mobil nasional (mobnas) di era pemerintahan Prabowo mendapat respons positif dari pelaku industri otomotif dalam negeri. Dalam sebuah wawancara bersama CNBC Indonesia, perwakilan pengusaha suku cadang memaparkan kesiapan serta peta jalan industri komponen lokal dalam menghadapi program tersebut sekaligus bersaing di pasar global.

​Industri komponen dalam negeri menyatakan sangat siap mendukung penuh realisasi gagasan mobil nasional. Kualitas produk lokal dinilai tidak perlu diragukan karena selama ini sudah berhasil memasok kebutuhan berbagai merek global dan menembus pasar ekspor. Terkait Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), pelaku industri menyebutkan bahwa capaian 100% mungkin belum bisa langsung terwujud di awal karena masih ada beberapa suku cadang spesifik yang harus diimpor sesuai spesifikasi mobil yang ditentukan.

​Kendala terbesar yang dihadapi industri suku cadang domestik saat ini adalah persaingan harga yang ketat dengan produk asal Republik Rakyat Tiongkok (RRT). China memiliki keunggulan masif pada skala volume produksi yang mencapai kisaran 30 juta unit mobil per tahun, berbanding jauh dengan Indonesia yang berada di level sekitar 1,3 juta unit. Perbedaan volume yang sangat timpang ini membuat komponen dari China menjadi sangat kompetitif secara harga dengan kualitas yang tetap terjaga.

​Meskipun pasar mobil saat ini masih didominasi kendaraan konvensional (ICE) dan hybrid sebesar 85%, porsi mobil listrik murni (EV) terus tumbuh dan kini menyentuh angka 15%. Produsen komponen lokal pun mulai beradaptasi dengan memasok komponen umum berukuran besar (bulky) seperti ban, pelek, dan kaca untuk pabrikan EV China yang beroperasi di Indonesia guna menekan biaya pengiriman. Pemerintah juga sedang mengupayakan kemandirian rantai pasok dengan rencana peresmian pabrik baterai lokal (CATL) untuk menyuplai kebutuhan inti kendaraan listrik.

BACA JUGA  PT Pos Indonesia Dilanda Isu Kecurangan Pegawai, Potensi Kerugian Tembus Rp37 Miliar

​Sesuai dengan regulasi pemerintah, peta jalan lokalisasi komponen EV ditargetkan terus meningkat secara bertahap [06:37]. Kewajiban TKDN yang saat ini berada di angka 40% diproyeksikan naik menjadi 60% pada tahun 2027, dan ditargetkan mampu menyentuh angka 80% pada tahun 2030.

​Rekomendasi Kebijakan untuk Pemerintah

​Guna memperkuat daya saing industri komponen nasional, pelaku usaha menitipkan beberapa saran penting bagi pemerintah:

​Stabilitas Pasar: Menjaga stabilitas dan memperluas jangkauan pasar, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.

​Kemudahan Birokrasi: Menciptakan iklim usaha yang kondusif melalui penyederhanaan jalur birokrasi.

​Efisiensi Energi: Menyediakan harga energi yang murah karena komponen biaya energi sangat memengaruhi total biaya produksi suku cadang.

​Insentif & Kebijakan Ekspor: Memberikan fasilitas insentif fiskal bagi eksportir serta memperbanyak perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) dengan negara-negara tujuan ekspor untuk memangkas bea masuk yang tinggi.

Liputan: Galang Andika Pratama

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *