Investasi Sleman Tembus Rp1,15 Triliun di Triwulan I 2026, Melonjak 16,6 Persen

Investasi Sleman Tembus Rp1,15 Triliun di Triwulan I 2026, Melonjak 16,6 Persen (foto/dok)

Sleman, Proliman News — Realisasi investasi di Kabupaten Sleman berhasil menembus angka Rp1,15 triliun pada Triwulan I 2026. Capaian ini mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 16,60% secara tahunan (year-on-year) dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang bernilai Rp987,19 miliar. Lonjakan signifikan ini mempertegas tren positif iklim investasi di Sleman yang kian kompetitif.

​Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sleman, Triana Wahyuningsih, mengungkapkan bahwa Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) masih menjadi motor penggerak utama sebagai kontributor terbesar.

​”Realisasi untuk PMA (Penanaman Modal Asing) mencapai Rp512 miliar, sementara PMDN menyumbang sebesar Rp639 miliar,” ujar Triana saat dihubungi, Senin (27/4/2026).

​Jika ditinjau secara kuartalan (quarter-on-quarter), pertumbuhan investasi di Sleman melesat luar biasa hingga 93,29% dibanding Triwulan IV 2025 yang kala itu tertahan di angka Rp595,53 miliar.

​5 Sektor Utama Penyumbang Investasi

​Triana merinci terdapat lima sektor utama yang menjadi penopang terbesar dalam realisasi investasi di Kabupaten Sleman sepanjang awal tahun ini:

​Sektor industri lainnya: Rp449,88 miliar

​Sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi: Rp175,11 miliar

  • ​Sektor hotel dan restoran: Rp138,07 miliar
  • ​Sektor jasa lainnya: Rp129,94 miliar
  • ​Sektor perdagangan dan reparasi: Rp124,06 miliar

​Sementara itu, untuk penanaman modal asing (PMA), aliran investasi terbesar yang masuk ke Kabupaten Sleman tercatat berasal dari negara Kepulauan Virgin Inggris, Singapura, Belanda, Australia, dan Siprus.

​Untuk menjaga momentum pertumbuhan ini, DPMPTSP Sleman terus menggalakkan sejumlah langkah strategis. Mulai dari penyederhanaan standar operasional prosedur (SOP) perizinan, pemberian insentif, hingga percepatan penyusunan serta integrasi Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).

​”Kami juga perlu meningkatkan indeks daya saing daerah. Hal ini mencakup penyediaan infrastruktur pendukung investasi, kesiapan sumber daya manusia (SDM), serta melakukan pengkajian berkala terhadap potensi investasi yang siap jual (Investment Project Ready to Offer/IPRO),” tambah Triana.

​Saat ini, sejumlah proyek investasi kakap tengah disiapkan. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah rencana pembangunan kereta gantung di Kapanewon Prambanan dengan nilai investasi tak kurang dari Rp200 miliar.

​Proyek infrastruktur wisata ini direncanakan memanfaatkan Tanah Kas Desa (TKD) di dua wilayah, yakni Kalurahan Bokoharjo seluas 7,9 hektare dan Kalurahan Sambirejo seluas 1 hektare. Saat ini, proses perizinan pemanfaatan lahan tersebut masih terus berlangsung.

​Menanggapi masifnya arus investasi yang masuk, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) DIY, Danang Setiadi, memberikan catatan penting. Ia mengingatkan agar setiap investor dan pemerintah daerah tidak mengabaikan regulasi yang berlaku.

​Danang menekankan bahwa seluruh rencana pembangunan fisik, termasuk mega proyek kereta gantung Prambanan, wajib hukumnya mematuhi dan menyelaraskan diri dengan kesesuaian tata ruang daerah. Langkah preventif ini dinilai krusial demi menjaga keberlanjutan lingkungan hidup serta menghindari potensi kerugian hukum maupun finansial bagi pihak-pihak terkait di masa depan.

Liputan: Galang Andika Pratama

Deskripsi Banner
BACA JUGA  Pengurus PW ISMI DIY Dilantik, Sarjana Melayu Didorong Jadi Pusat Gagasan Menuju Indonesia Emas 2045

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *