Kulon Progo, Proliman News – Aksesibilitas di Kabupaten Kulon Progo bakal semakin merata. Pemerintah pusat melalui program kerja sama dengan TNI bersiap membangun 34 titik Jembatan Garuda secara bertahap selama setahun ke depan di wilayah Bumi Binangun. Program ini dirancang khusus untuk meningkatkan konektivitas wilayah serta mendongkrak perekonomian masyarakat pedesaan.
Komandan Kodim (Dandim) 0731/Kulon Progo, Letkol Inf Dyan Niti Sukma, menyampaikan bahwa seluruh anggaran pembangunan jembatan ini sepenuhnya bersumber dari pemerintah pusat.
”Di Kulon Progo ada 34 titik yang nantinya dibangun bertahap selama setahun. Nilai anggaran per jembatan mulai dari Rp100 juta hingga Rp400 juta, disesuaikan dengan jenis jembatan yang hendak dibangun,” ujar Letkol Inf Dyan, Jumat (3/4/2026).
Letkol Inf Dyan menambahkan, pengerjaan fisik setiap unit Jembatan Garuda ditargetkan memakan waktu relatif singkat, yakni sekitar satu hingga tiga bulan. Untuk memastikan program ini tepat sasaran, Kodim 0731/Kulon Progo telah melakukan survei lapangan dan inventarisasi kebutuhan riil masyarakat terlebih dahulu.
Penentuan spesifikasi jembatan—apakah akan menggunakan struktur beton atau jembatan gantung—diputuskan berdasarkan hasil musyawarah bersama antara TNI, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo, pihak kalurahan, serta tokoh masyarakat setempat. Selama setahun ke depan, Kodim 0731/Kulon Progo akan mengawal ketat jalannya aktivitas pembangunan tersebut.
Dari puluhan titik yang direncanakan, salah satu proyek yang kini sudah mulai berjalan adalah pembangunan Jembatan Garuda Jatisarono, yang terletak di Kalurahan Jatisarono, Kapanewon Nanggulan.
Spesifikasi teknis jembatan tersebut meliputi:
- Desain: Menggunakan tipe jembatan gantung dengan pondasi cakar ayam.
- Kapasitas: Dirancang khusus untuk dapat dilalui kendaraan roda dua (sepeda motor).
- Dimensi: Memiliki panjang jembatan 25 meter dan lebar 1,25 meter. Jembatan ini membentang di atas sungai dengan lebar 10 meter dan ketinggian 1 meter.
Lurah Jatisarono, Arif Budi Santoso, mengungkapkan bahwa kehadiran jembatan ini disambut dengan antusiasme luar biasa oleh warga. Pasalnya, jembatan ini menjadi solusi konkret yang menghubungkan dua padukuhan yang selama ini terisolasi, yaitu Padukuhan Jatingarang Lor dan Padukuhan Bejaten.
Arif membeberkan bahwa perencanaan pembangunan jembatan konektivitas ini sebenarnya sudah dibahas sejak tahun 2015. Namun, rencana tersebut terus tertunda akibat keterbatasan finansial pemerintah kalurahan. Harapan sempat muncul pada tahun 2022 lalu, namun proyek kembali mandek karena adanya pandemi COVID-19.
”Sebab, selama ini masyarakat harus memutar sejauh 1,5 kilometer hanya untuk menuju padukuhan tetangga. Dengan adanya jembatan ini, akses perjalanan warga menjadi jauh lebih lancar,” kata Arif Budi Santoso.
Selain memangkas jarak tempuh warga, keberadaan Jembatan Garuda Jatisarono juga diproyeksikan menjadi sarana prasarana vital dalam mendukung ketahanan pangan. Infrastruktur ini akan mempermudah mobilitas para petani setempat dalam mengangkut hasil panen serta mengurus kegiatan pertanian di sekitar aliran sungai.
Liputan: Galang Andika Pratama



