Trans Jateng Jekuti Diharap Pangkas Kepadatan Lalin Pantura Timur

MODA TERJANGKAU: Trans Jateng Jekuti diharap bisa menjadi moda transportasi terjangkau bagi semua kalangan.  (Foto/Dok)

Semarang, Proliman News – Sekretaris Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jawa Tengah Anastasia Yulianti mengungkapkan, kehadiran trayek baru Trans Jateng Jepara Kudus Pati (Jekuti) diharap bisa memangkas kepadatan lalu lintas Pantura Timur. Karena itulah MTI Jateng mendukung upaya Pemda Jateng membuka trayek baru Trans Jateng Jepara Kudus Pati.

Dalam pernyataan kepada wartawan di Semarang, Sabtu (18/7), MTI menilai, Kabupaten Jepara, Kudus, dan Pati merupakan wilayah yang memiliki kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sangat signifikan di Provinsi Jawa Tengah, terutama pada sektor industri pengolahan, perdagangan, dan jasa. Namun perputaran ekonomi yang besar dari sektor manufaktur dan perdagangan di Jekuti belum diimbangi penyediaan sarana angkutan massal yang modern dan memadai.

Pada 2025, PDRB Kabupaten Kudus tercatat Rp 132.316,91 miliar, menjadikannya sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di Jawa Tengah setelah Kota Semarang. Meski secara geografis Kudus merupakan kabupaten terkecil di provinsi ini dengan luas wilayah hanya sekitar 42.516 hektare, nilai ekonominya mampu melonjak tinggi karena ditopang sektor industri pengolahan, khususnya industri hasil tembakau atau rokok yang menyumbang hingga 76 persen dari total PDRB daerah tersebut.

Sementara, Kabupaten Jepara berdiri kokoh sebagai magnet industri manufaktur yang sukses memadukan kerajinan ukir tradisional berskala ekspor dengan industri manufaktur modern berskala besar. Sektor industri pengolahan mebel, garmen, dan tekstil di Jepara tumbuh subur di kecamatan-kecamatan strategis seperti Pecangaan, Kalinyamatan, dan Mayong.

BACA JUGA  Up Date Pencarian Korban Longsor Cibeunying Majenang Cilacap Sabtu (15/11/ 2025) 6 Korban Ditemukan

Di sisi timur, Kabupaten Pati menempati posisi strategis sebagai penopang ketahanan pangan regional sekaligus generator industri berbasis agro perkebunan dan ekonomi biru di lintas Pantura Timur. Kekuatan utama Pati terletak pada keberhasilannya mengintegrasikan sektor primer, seperti pertanian, perikanan tangkap, dan perkebunan tebu ke dalam industri pengolahan hilir meliputi manufaktur makanan, industri ekspor laut, hingga pergaraman.

Potensi ini mengukuhkan Pati sebagai benteng pangan sekaligus koridor logistik vital di Jawa Tengah, dengan skala ekonomi yang bersaing ketat di papan tengah-atas, dan masuk dalam jajaran 15 besar kabupaten kota dengan output ekonomi tertinggi.

Dalam pola pergerakan wilayah Jekuti, Kabupaten Kudus bertindak sebagai magnet pergerakan utama. Data menunjukkan arus komuter dari Jepara ke Kudus mencapai 72 persen dari total pergerakan keluar Jepara, sedangkan arus dari Pati ke Kudus menyentuh angka 73 persen dari total pergerakan keluar Pati.

Tingginya konsentrasi arus komuter menuju Kudus didorong daya tarik masif dari sektor manufaktur perkotaan (industri rokok skala nasional dan industri kertas) serta tingginya angka tarikan perjalanan kota karena kelengkapan sarana industri padat karya, pusat perbelanjaan, fasilitas kesehatan regional, hingga lembaga pendidikan tinggi.

Namun, output ekonomi yang besar dari sektor manufaktur dan perdagangan di Jekuti belum diimbangi oleh penyediaan sarana angkutan massal yang modern dan memadai. Layanan angkutan umum eksisting di wilayah ini tengah berada dalam fase kritis dan mengalami penurunan performa yang signifikan.

BACA JUGA  KDKMP Campurejo Dibangun di Lokasi Strategis, Tepat di Gerbang Basecamp Pendakian Gunung Prahu

Armada kurang layak serta jadwal keberangkatan yang tidak pasti memaksa 74 persen hingga 89 persen pergerakan harian masyarakat beralih menggunakan kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor.

Kondisi tersebut berdampak buruk pada lalu lintas jalan raya. Tingginya volume roda dua yang bercampur dengan angkutan logistik barang industri memicu kemacetan parah pada jam sibuk, terutama di koridor Mayong–Kalinyamatan.

Beban berat ini tercermin dari angka Volume to Capacity Ratio (V/C Ratio) jalan nasional yang telah melampaui batas kritis keselamatan, seperti di ruas Batas Demak, Jepara, Margoyoso yang mencapai V/C 1,16 dan Jalan Lingkar Juwana yang menembus V/C 1,83.

Krisis ini diperparah penurunan jumlah armada transportasi publik secara sistemik. Dalam kurun lima tahun terakhir, total angkutan umum (bus AKDP, angkot, dan angkudes) di kawasan Jekuti menyusut drastis hingga 15 persen, dengan penurunan paling tajam terjadi di Kabupaten Kudus yang kehilangan 30 persen dari total armadanya.

Di Terminal Bangsri, Pecangaan, dan Juwana, angkot dan angkudes bahkan telah kehilangan fungsi regulernya dan lebih banyak dimanfaatkan sebagai angkutan carteran borongan oleh para pedagang pasar.

Guna menjawab kebutuhan mobilitas pekerja komuter lintas kabupaten ini, wilayah Jekuti membutuhkan reformasi total melalui penyediaan transportasi massal perkotaan yang modern, aman, dan terintegrasi. Kehadiran layanan angkutan aglomerasi Trans Jateng menjadi kebutuhan krusial untuk menyinergikan mobilitas pekerja dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi koridor, seperti Mayong, Kalinyamatan, Jekulo, dan Margorejo.

BACA JUGA  Ibu-ibu Antusias Periksa Payudara di Mapolsek Semarang Tengah

Keberadaan Trans Jateng akan bertindak sebagai instrumen perpindahan moda yang efektif untuk memindahkan pengguna kendaraan pribadi ke angkutan massal, sekaligus memangkas kepadatan volume kendaraan harian di jalur Pantura Timur.

Oleh karena itu, realisasi rute Trans Jateng di koridor Jekuti menjadi langkah strategis yang tidak dapat ditunda lagi. Pengoperasian segera layanan ini akan menjadi instrumen vital untuk memutus siklus kemunduran layanan transportasi darat, menjamin efisiensi pergerakan komuter padat karya, serta mengamankan roda produktivitas ekonomi di wilayah aglomerasi Jekuti.

Liputan: Lawu Budiarjo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *