Honor Guru PAUD di Kulon Progo Tergerus Pemotongan Dana Desa, dari Rp 500 Ribu Jadi Rp 350 Ribu

Honor Guru PAUD di Kulon Progo Tergerus Pemotongan Dana Desa, dari Rp 500 Ribu Jadi Rp 350 Ribu (foto/dok)

Kulon Progo, Proliman News – Nasib guru PAUD di Kulon Progo semakin memprihatinkan setelah honor mereka dipotong akibat pengurangan Dana Desa hingga 70 persen. Kisah Yuni Rahayu dan Titin Rahayu menggambarkan perjuangan guru PAUD yang tetap mengabdi meski dengan pendapatan yang sangat minim.

​Kondisi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di berbagai daerah kian memprihatinkan. Kebijakan pemerintah pusat yang memotong Dana Desa hingga 70 persen berimbas pada terganggunya berbagai program desa, termasuk keberlangsungan operasional PAUD. Dampak paling nyata dari kebijakan ini langsung dirasakan oleh para guru berupa penurunan kesejahteraan, padahal selama ini mereka sudah mengabdi dengan honor yang relatif kecil.

​Salah satu potret nyata dari dampak pemangkasan ini dialami oleh Yuni Rahayu, seorang guru yang mengajar di TK dan PAUD Pertiwi, Kalurahan Pengasih, Kapanewon Pengasih, Kulon Progo.

​Berikut adalah beberapa poin penting terkait pengabdian Yuni Rahayu:

  • ​Perjalanan Karier: Ia mulai menekuni profesi sebagai guru PAUD sejak tahun 2019 dan resmi bergabung di TK/PAUD Pertiwi pada tahun 2023.
  • ​Penurunan Honor: Akibat adanya pemangkasan Dana Desa, honor bulanan Yuni yang semula Rp 500 ribu kini merosot menjadi Rp 350 ribu.
  • ​Dedikasi Berbasis Ilmu: Sebagai lulusan S1 Psikologi, Yuni memilih bertahan karena merasa ilmu yang dimilikinya sejalan dengan profesi ini, terutama dalam menerapkan psikologi anak pada proses belajar-mengajar.
  • ​Kenyamanan Batin: Baginya, kebahagiaan saat berinteraksi dengan anak-anak menjadi alasan utama untuk tetap mengabdi. Kenyamanan batin ini diakuinya tidak ia dapatkan saat dulu bekerja di perusahaan swasta.
  • ​Harapan Guru: Di balik ketulusannya, Yuni berharap pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan guru PAUD. Ia merasa sedih karena pemotongan honor dipicu oleh pengalihan anggaran untuk program pusat. Yuni menekankan pentingnya keselarasan antara beban kerja yang mencakup mengajar sekaligus mengurus administrasi sekolah dengan upah yang layak. Menurutnya, jika tugas administrasi memang berat, idealnya ada perekrutan tenaga khusus dengan upah yang sesuai.
BACA JUGA  Polres Kulonprogo Ungkap Kasus Pencurian Spesialis Gabah Asal Temon

​Kepala TK dan PAUD Pertiwi, Titin Rahayu, turut menyuarakan kekecewaannya terhadap kondisi yang berkembang:

  • ​Beban Kian Berat: Pemotongan honor ini dinilai semakin menyulitkan hidup guru PAUD yang sejak awal sudah bekerja dengan pendapatan minim.
  • ​Insentif Tambahan yang Minim: Selain honor dari Dana Desa, para guru PAUD hanya menerima insentif tambahan sebesar Rp 50 ribu per bulan dari Pemerintah Kabupaten Kulon Progo. Jumlah tersebut tentu jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, apalagi mereka masih dibebani kewajiban iuran sosial di lingkungan masyarakat.
  • ​Apresiasi Dedikasi: Meski terpukul secara finansial, Titin memberikan apresiasi tinggi kepada para guru yang tetap menunjukkan dedikasi luar biasa dan berkomitmen penuh mendidik anak-anak usia dini.

​Fenomena ini menjadi potret buram bagaimana pentingnya peran guru PAUD dalam membentuk pondasi karakter generasi bangsa belum dihargai secara layak. Mereka bukan sekadar pengajar, melainkan pendidik yang menanamkan nilai-nilai dasar kehidupan sejak dini.

​Pemangkasan ini menjadi alarm serius bagi keberlangsungan PAUD di tingkat desa. Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa solusi, dikhawatirkan minat masyarakat untuk menjadi guru PAUD akan menurun drastis. Pemerintah diharapkan segera mencari solusi nyata guna menjamin kesejahteraan guru agar kualitas pendidikan usia dini tidak terabaikan.

Liputan: Galang Andika Pratama

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *