SPPG Karangwuni: Penyebab Keracunan SMP 3 Wates Bukan Karena MBG, Minta Kantin Sekolah Diinvestigasi

BGN Hentikan Sementara Operasional SPPG Karangwuni Imbas Kasus Keracunan MBG di Kulon Progo. (Foto/Dok)

Kulon Progo, Proliman News – Kasus keracunan di SMP 3 Wates Kulon Progo berbuntut panjang.

Karena meyakini paket MBG yang dikirim ke SMP 3 wates tidak bermasalah, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangwuni meminta aparat menginvestigasi kantin sekolah itu.

Alasan utamanya, karena Paket MBG dari SPPG Karangwuni dikirim pada pukul 09.30 dan disantap pada pukul 11.30 WIB, dan paket serupa juga disuplai ke sejumlah kelompok masayarakat dan sekolah lain tetapi tidak ada kasus keracunan di sejumlah tempat tersebut.

Asisten Lapangan SPPG Karangwuni, Fajar Pramono menilai keracunan makanan belum tentu disebabkan oleh Makan Bergizi Gratis (MBG).

Klaim ini didasarkan pada keterangan dari wali pelajar hingga guru dari sekolah selain SMPN 3 Wates.

“Ada wali dari SMPN 3 Wates dan guru dari sekolah lain yang meminta untuk dilakukan investigasi pada kantin di SMPN 3 Wates,” kata Fajar kepada Tribunnews Yogyakarta Jumat (24/07/2026).

Ia beralasan ada kejanggalan lantaran kasus keracunan makanan paling banyak terjadi pada pelajar di SMPN 3 Wates.

Padahal SPPG Karangwuni juga melayani 37 sekolah lain dan 6 Posyandu, yang artinya mereka menerima menu yang sama.

Menurut Fajar, ada beberapa relawan SPPG dan guru sekolah lain yang mengonsumsi menu MBG yang sama pada sore harinya.

Namun mereka tidak mengalami keracunan makanan setelahnya.

“Kami mempertanyakan kebersihan dari kantin sekolah karena posisinya dekat dengan toilet, sehingga perlu ada investigasi,” ujarnya.

BACA JUGA  Inovasi Pendidikan Jadi Magnet Pengunjung, Stand Dikpora Kulon Progo Ramai Padat di Manunggal Fair 2026

Keracunan makanan diduga berasal dari menu MBG yang diberikan pada Senin (20/07/2026).

Saat itu menunya berupa nasi, ayam saus barbekyu, tahu goreng bawang, sayur tumis, dan buah anggur.

Fajar mengatakan bahwa makanan diantar ke SMPN 3 Wates sekitar pukul 09.30 WIB, Senin lalu dan baru dikonsumsi sekitar pukul 11.15 WIB.

Ia mengatakan jam pengantaran sesuai permintaan pihak sekolah, berbeda dari prosedur pengantaran mulai pukul 08.30 WIB.

“Pihak sekolah beralasan agar pelajar jajan dulu di kantin saat jam istirahat di pukul 09.00 WIB, sehingga makanan MBG minta diantar lebih siang,” jelasnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo, Susilaningsih mengaku sulit untuk menjadikan kantin SMPN 3 Wates sebagai salah satu penyebab keracunan.

Sebab meski korban terbanyak dari sekolah tersebut, keracunan makanan juga dialami oleh ibu hamil dan menyusui.

Data Dinkes Kulon Progo menyebut ada 105 korban keracunan makanan pada Selasa lalu, mengacu pada verifikasi dan validasi data ulang. 98 korban adalah pelajar, lalu ada 4 tenaga kependidikan (tendik), 2 ibu menyusui, dan 1 ibu hamil.

“Ibu hamil dan ibu menyusuinya kan tidak jajan di kantin sekolah, jadi sementara ini kantin tidak ikut kami periksa,” kata Susilaningsih.

Para ibu hamil dan menyusui tersebut menerima jatah MBG melalui Posyandu terdekat.

Mereka turut mengalami gejala nyeri perut bahkan muntah-muntah setelah mengonsumsi MBG.

BACA JUGA  Saparan Mantran Wetan Tetap Meriah di Tengah Lesunya Panen Sayuran, Warga Rogoh Jutaan Rupiah Demi Lestarikan Tradisi

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kulon Progo ketika diminta keterangannya tentang tuduhan Kantin Sekolah sebagai penyebab keracunan, justru keheranan.

“Ini aneh kenapa menyalahkan pihak lain ? Tetapi ini ranah Dinas Kesehatan, silahkan dilakukan,” ujar Kepala Dikpora Kulon Progo Nur Wahyudi, Sabtu ( 25/7/2026).

Liputan : Suyono Sugondo

 

 

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *