Warga Jogja Tolak Pembatasan Pertalite Desil 9 & 10: “Gaji Pas UMK, Tapi Dianggap Mampu”

Warga Jogja Tolak Pembatasan Pertalite Desil 9 & 10: "Gaji Pas UMK, Tapi Dianggap Mampu".(Foto/Dok)

Yogyakarta, Proliman News – ​Rencana pemerintah membatasi akses BBM bersubsidi jenis Pertalite bagi masyarakat kategori Desil 9 dan 10 memicu gelombang penolakan keras di Kota Yogyakarta. Warga menilai indikator penetapan kesejahteraan pemerintah sangat tidak akurat dan tidak mencerminkan kondisi ekonomi riil di lapangan.

​Indikator Dinilai Mengabaikan Beban Hidup Riil

​Keluhan keras salah satunya disampaikan oleh Wahdan, warga Kemantren Umbulharjo. Ia menilai kebijakan pembatasan BBM berdasarkan data desil yang bermasalah berpotensi merugikan masyarakat kecil.

​”Untuk menguji akses kebutuhan dasar seperti BBM bersubsidi, tidak bisa dibatasi sepihak dengan data yang keliru. Kalau tetap diterapkan, ini kebijakan yang zalim,” tegas Wahdan, Jumat (21/8/2026).

​Beberapa kelemahan skema pendataan yang disorot warga antara lain:

​Hanya Berfokus pada Aset Fisik: Survei dianggap sekadar melihat kepemilikan aset atau agunan yang kasat mata.

​Mengabaikan Pengeluaran Harian: Pendataan tidak menghitung beban pengeluaran pokok yang harus ditanggung warga setiap bulan.

​Risiko Kebijakan: Regulasi yang dipaksakan tanpa ketelitian data berujung pada kekacauan eksekusi di lapangan dan membebani masyarakat.

​Gaji Pas UMK dan Tanpa Mobil, Malah Masuk Desil 9

​Ketidakakuratan data ini dirasakan langsung oleh Nurwanto, karyawan swasta asal Kemantren Wirobrajan. Kendati dicap masuk Desil 9—kelompok yang dikategorikan mampu—realita ekonominya justru pas-pasan.

​Penghasilan Sangat Terbatas: Gaji bulanan yang diterimanya hanya berada sedikit di atas Upah Minimum Kota (UMK) Yogyakarta.

BACA JUGA  Bersih Punden Sumur Blandung, Warga Ngabean Temanggung Lestarikan Tradisi 1 Suro

​Aset Terikat Warisan: Rumah yang ditinggali merupakan warisan keluarga, dan ia hanya memiliki satu unit sepeda motor untuk bekerja.

​Ancaman Lonjakan Biaya Operasional: Sebagai pekerja lapangan dengan mobilitas tinggi, larangan membeli Pertalite memaksanya beralih ke Pertamax, yang dipastikan membengkakkan pengeluaran harian.

​Selain lonjakan pengeluaran BBM, warga khawatir ketidakakuratan data desil ini memicu efek domino, seperti penyesuaian beban pajak yang salah sasaran hingga hilangnya hak warga atas program bantuan sosial lainnya.

​Bagaimana dengan kondisi di sekitar Anda? Apakah penetapan data desil di wilayah Anda sudah mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya?

Liputan: Galang Andika Pratama

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *