Tuding Ada Praktik Riswah dan Tekanan, Kiai Asep Minta Pemilihan AHWA Muktamar NU Diulang

Tuding Ada Praktik Riswah dan Tekanan, Kiai Asep Minta Pemilihan AHWA Muktamar NU Diulang. (Foto/Dok)

Jombang, Proliman News – KH Asep Saifuddin Chalim, Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya, mengguncang suasana Muktamar ke-35 NU dengan tudingan serius melalui sebuah video yang beredar luas. Ia menuding Ketua Panitia Muktamar Saifullah Yusuf alias Gus Ipul dan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar sebagai pelaku di balik praktik riswah (suap) dan penyekapan dalam proses pengumpulan suara kotak untuk pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Kiai Asep menuntut agar suara yang sudah masuk ke dalam kotak suara AHWA segera dimusnahkan. Menurutnya, suara-suara tersebut tidak sah karena dihasilkan melalui praktik transaksional dan tekanan terhadap para pemilik suara, khususnya para Rais Syuriah dari berbagai wilayah. Ia mengklaim memiliki bukti kuat berupa video kesaksian dari seorang Rais Syuriah asal Sumatera Selatan yang mengungkap secara detail skenario di balik proses tersebut.

Dalam video yang disebut-sebut sebagai bukti, seorang Rais Syuriah dari Sumatera Selatan menceritakan bahwa para Rais Syuriah tingkat wilayah dan cabang diminta untuk menulis nama-nama calon anggota AHWA tertentu. Mereka yang tidak membawa stempel justru difasilitasi dengan pembuatan stempel di tempat. Proses ini disebut berlangsung di Hotel Santika dan Arista Palembang, di mana dokumen usulan AHWA sudah disiapkan dan tinggal ditandatangani dengan stempel.

Lebih mencengangkan lagi, setelah menuliskan nama-nama tersebut, para Rais Syuriah dan Katib dipanggil satu per satu ke dalam kamar. Di dalam kamar, mereka diduga menerima uang dalam jumlah yang fantastis: Rp50 juta untuk Rais Syuriah dan Rp25 juta untuk Katib. Kiai Asep menegaskan bahwa uang tersebut bukanlah uang transportasi sebagaimana yang coba dibenarkan oleh sebagian pihak, melainkan suap yang jelas-jelas diharamkan dalam ajaran Islam.

“Orang yang menghalalkan sesuatu yang diharamkan adalah murtad,” tegasnya dengan nada tinggi.

Kiai Asep juga menyebut dua nama yang disebut mengawasi proses di lapangan: Sulaiman Tanjung, yang disebut sebagai orang kepercayaan Gus Ipul, dan tim dari Kiai Miftah.

“Di sana sudah ditunggu oleh orangnya Gus Ipul, yaitu Sulaiman Tanjung, dan orangnya Kyai Miftah,” ujar Kiai Asep dalam video tersebut.

Ia juga menyoroti bahwa dalam video yang beredar, ada upaya untuk membenarkan uang tersebut dengan dalih “transport”, yang menurutnya adalah pembenaran atas sesuatu yang haram dan termasuk tindakan yang sangat serius.

Tudingan ini tidak hanya menyasar praktik riswah, tetapi juga menyinggung proses penyekapan terhadap para Rais Syuriah. Mereka disebut dipaksa untuk menuliskan nama-nama tertentu tanpa kebebasan memilih sesuai hati nurani. Akibatnya, Kiai Asep menilai proses pemilihan AHWA yang berlangsung telah menyingkirkan ulama-ulama besar yang menjadi kekayaan intelektual dan moral NU, seperti KH Ma’ruf Amin dan KH Mustofa Bisri.

“Ini adalah pengkhianatan terhadap Nahdlatul Ulama,” ujarnya.

Kiai Asep menuntut agar suara yang sudah masuk kotak dimusnahkan dan pemilihan dilakukan ulang secara terbuka, bebas tekanan, dan tanpa iming-iming.

“Hendaknya kemudian suara-suara untuk AHWA itu ditulis di tempat, dengan terlebih dahulu diarahkan untuk bebas menuliskannya, jangan ada pengaruh dari riswah dan penyekapan-penyekapan, kemudian dimasukkan ke dalam kotak. Setelah itu, di tempat itu pula dibuka bersama, dibacakan bersama,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Gus Ipul, Kiai Miftah, atau panitia Muktamar terkait tudingan serius ini. Publik dan para peserta Muktamar menanti klarifikasi dan langkah tegas dari panitia untuk menjaga marwah organisasi dan proses demokrasi di tubuh NU.

Liputan: Galang Andika Pratama

Deskripsi Banner
BACA JUGA  Sambut Waisak, Vihara Satya Dharma Wirya Bagikan 1.250 Paket Sembako untuk Warga

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *