Temanggung, Proliman News — Dalam rangka menyambut Hari Raya Waisak, Vihara Vajra Bumi Satya Dharma Wirya di Dusun Lamuk, Desa Kalimanggis, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, menyalurkan sebanyak 1.250 paket sembako kepada warga sekitar. Kegiatan bakti sosial yang menyasar kepala keluarga di Dusun Lamuk dan sekitarnya tersebut menjadi wujud nyata kepedulian sosial dan semangat welas asih yang diajarkan dalam Buddha Dharma.
Bakti sosial yang digelar bekerja sama dengan Lotus Light Charity Society (LLCS) itu diberikan secara inklusif kepada masyarakat tanpa memandang latar belakang agama. Selain membantu meringankan beban ekonomi warga, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan Waisak yang diikuti lebih dari 1.700 umat.
Kepala Vihara Satya Dharma Wirya, Pandita Suyamto, mengatakan bahwa peringatan Waisak tidak hanya diwujudkan melalui ritual keagamaan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang membawa manfaat bagi sesama.
“Ritual ini bukan sekadar rutinitas, melainkan implementasi ajaran Buddha Dharma untuk menjalin keharmonisan dan mengembangkan cinta kasih (budicita) kepada sesama,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan dipimpin langsung oleh Acharya Lian Yang, Kepala Vihara Vajra Bumi Patma Suci Cengkareng, Jakarta Barat, yang hadir khusus di Temanggung.
Pada pagi hari, umat mengikuti upacara Trimula Puja Mahadevi Yaochi yang diisi dengan persembahan besar, doa pertobatan untuk mengikis karma buruk, serta permohonan agar berkah dan kebijaksanaan terus bertambah. Upacara tersebut juga menjadi momen pelimpahan jasa bagi Mahaguru Dharmaraja Liansheng yang tahun ini berusia 82 tahun, dengan doa agar beliau senantiasa diberikan kesehatan dan umur panjang.
Memasuki siang hari sekitar pukul 14.00 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan ritual Pandian Rupang atau pemandian patung Buddha. Acarya Lian Yang menjelaskan bahwa ritual tersebut memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat.
“Pemandian rupang ini bukan sekadar membersihkan patung Buddha secara fisik, tetapi simbol nyata bahwa kita sedang menyucikan tubuh, ucapan, dan pikiran kita sendiri,” jelasnya.
Menurutnya, penggunaan air amerta dalam ritual tersebut melambangkan upaya membersihkan karma buruk sekaligus memohon perlindungan dan berkah dari Triratna.
Melalui rangkaian kegiatan keagamaan dan bakti sosial tersebut, umat Buddha tidak hanya memperingati Hari Raya Waisak secara spiritual, tetapi juga meneguhkan nilai-nilai kemanusiaan, kepedulian sosial, dan persaudaraan lintas agama. Umat turut memanjatkan doa agar dunia senantiasa diliputi kedamaian serta dijauhkan dari peperangan dan berbagai musibah.
Liputan : Bagus Anies



