Kulon Progo, Proliman News — Perbukitan Kulon Progo (Kompleks Pegunungan Menoreh) menyimpan jejak sejarah geologi pulau Jawa yang amat kompleks dan bernilai tinggi. Departemen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengulas berbagai fitur geologi utama di kawasan ini, yang memperlihatkan transisi lingkungan vulkanik purba menuju pengendapan batu gamping dangkal.
Secara struktur, kawasan Kulon Progo terbentuk sebagai kubah (domal structure) akibat pengangkatan tektonik, yang dikelilingi oleh dataran aluvial di sisi utara, timur, dan selatannya.
Fitur Utama Geologi Kulon Progo
- Gunung Api Purba (Old Andesite Formation): Perbukitan ini dipengaruhi oleh aktivitas vulkanisme purba berumur Kala Oligosen hingga Miosen Awal. Sisa-sisa gunung api purba seperti Gunung Gajah, Gunung Ijo, dan Gunung Menoreh meninggalkan batuan breksi vulkanik, lava andesit, serta tuf yang mendominasi struktur pegunungan.
- Karst Formasi Jonggrangan & Sentolo: Pada Kala Miosen Tengah, kawasan ini sempat tenggelam di bawah permukaan laut dangkal, memicu pertumbuhan terumbu karang. Proses ini membentuk Formasi Jonggrangan dan Sentolo yang kaya akan batu gamping, ditandai dengan ditemukannya gua-gua alam, batuan berfosil, dan lanskap topografi karst.
- Struktur Tektonik dan Patahan: Kawasan ini dipotong oleh sejumlah sesar (patahan) aktif dan pasif yang membentuk lembah-lembah terjal, jurang, serta bentang alam yang curam di sepanjang perbatasan DIY dan Jawa Tengah.
Potensi Geoheritage dan Mitigasi Bencana
Keberagaman fitur geologi ini menjadikan Perbukitan Kulon Progo sebagai laboratorium alam utama untuk riset kebumian serta kawasan berpotensi tinggi sebagai geoheritage (warisan geologi) dan geoturisme.
Namun, tingginya kemiringan lereng dan kondisi batuan terlapuk di kawasan gunung api purba ini juga menyimpan potensi ancaman gerakan tanah (tanah longsor). Oleh karena itu, pemahaman aspek geologi lokal menjadi krusial dalam mendukung penataan ruang berbasis mitigasi bencana di Kabupaten Kulon Progo.
Liputan: Galang Andika Pratama



