RUMAKET 2026 Berakhir, Dari Warisan Budaya Menjadi Bagian Hidup Masyarakat

RUMAKET 2026 Berakhir, Dari Warisan Budaya Menjadi Bagian Hidup Masyarakat. (Foto/Dok)

Yogyakarta, Proliman News — Rangkaian Ruang Masyarakat Ketemu (RUMAKET) 2026 bertajuk “Hageganti” berakhir pada Sabtu (10/10/2026) di Taman Pintar Yogyakarta. Pada hari ketujuh, pengunjung diajak mengenal kekayaan budaya Yogyakarta melalui talkshow kebudayaan, dongeng pewayangan, dan pertunjukan seni tradisional.

Pameran “Hageganti: Transformasi Wayang Jogja” dan bazar kuliner tetap dibuka di area Taman Pintar dan Pythagoras Hall. Penampilan Kanca Kenthel band turut memeriahkan hari terakhir penyelenggaraan RUMAKET 2026.

Talkshow Bahas Nilai di Balik Keistimewaan Yogyakarta

Talkshow bertajuk “Merayakan Kebudayaan Indonesia Melalui Warisan Budaya Yogyakarta” menghadirkan Anggota DPD RI Daerah Pemilihan DIY Dr. Ir. Ahmad Syauqi Soeratno, M.M.; Wali Kota Yogyakarta Dr. (H.C.) dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K); serta pelaku seni dan budaya Annisa Hertami. Diskusi dipandu oleh Fajar Wijanarko.

Dalam diskusi tersebut, Hasto Wardoyo mengingatkan pentingnya mempertahankan nilai-nilai takbenda (intangible) yang hidup dalam masyarakat Yogyakarta. Kekayaan budaya, menurut dia, tidak hanya berupa benda atau peninggalan fisik, tetapi juga nilai dan filosofi yang mewarnai kehidupan masyarakat.

“Meskipun itu sesuatu yang bersifat intangible, tidak bisa dilihat, tapi ayolah Jogja ini kita pertahankan ada nilai-nilai yang tidak kelihatan. Ini bagian dari kekayaan nonbenda yang mewarnai setiap insan yang tinggal di Yogyakarta,” kata Hasto.

Ia juga mengungkapkan ungkapan yang menggambarkan hubungan masyarakat dengan Yogyakarta, “Jogja itu nek ditinggal ngangeni.”

BACA JUGA  Tingginya Aksi Klitih di DIY, JPW Meminta Polisi Lakukan Patroli Ketat Pada Malam Pergantian Tahun

Menurut Hasto, nilai-nilai takbenda tersebut menjadi bagian dari kekayaan Yogyakarta yang perlu dijaga. Ia juga mengingatkan filosofi Jawa, “Ojo rumongso bisa, ning bisa rumongso,” yang berarti jangan merasa paling bisa, tetapi belajarlah memahami keadaan dan menempatkan diri dengan bijaksana.

Kisah Srikandi Mengajak Anak Belajar Berproses

Pada saat yang sama, ruang Science Theater dipenuhi ratusan anak yang antusias mengikuti sesi “RUMAKET Bercerita: Srikandi Hari Ini”. Kegiatan ini menghadirkan R.A. Yashinta Sekarwangi Mega, S.I.P., M.Si., sebagai pendongeng, dengan dukungan Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Kota Yogyakarta.

Peserta kegiatan terdiri atas siswa SD Negeri Serayu Kota Yogyakarta, siswa Pelatihan Dalang, dan talenta Kompetisi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta.

Melalui kisah Srikandi, Yashinta mengenalkan tokoh perempuan dalam pewayangan yang dikenal tekun berlatih dan memiliki kemampuan memanah. Kisah tersebut menjadi sarana untuk mengajak anak-anak memahami arti perjuangan, ketekunan, dan keberanian dalam mencapai cita-cita.

Pada akhir sesi, Yashinta berpesan agar anak-anak tidak takut belajar dan mencoba hal baru.

“Jangan takut untuk belajar dan mencoba, karena dari cerita Srikandi tadi dia tidak langsung menjadi pemanah yang hebat. Semua perlu berproses, tidak ada yang instan, jadi jangan mudah menyerah,” ujarnya.

Melalui pendekatan mendongeng, cerita pewayangan dihadirkan secara lebih dekat dengan dunia anak. Tokoh dan kisah tradisional tidak hanya diperkenalkan sebagai bagian dari warisan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran nilai-nilai kehidupan.

BACA JUGA  Sebanyak 97 Personel Polres Klaten Jateng Gelar Aksi Sujud Syukur Naik Pangkat Tepat di Akhir Tahun 2024

Jathilan Menutup Rangkaian Hageganti

Pertunjukan Jathilan Klasik Satrio Mudho Budoyo di halaman Taman Pintar menjadi salah satu sajian seni pada hari terakhir RUMAKET 2026. Pertunjukan ini memperkenalkan jathilan sebagai bagian dari kekayaan seni tradisional Yogyakarta.

Selama tujuh hari, RUMAKET 2026 “Hageganti” menghadirkan beragam kegiatan yang mempertemukan masyarakat dengan kebudayaan, mulai dari pameran, diskusi, cerita, hingga pertunjukan seni. Berbagai agenda tersebut membuka ruang bagi masyarakat untuk menikmati sekaligus mengenal lebih dekat warisan budaya Yogyakarta.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, mengatakan bahwa RUMAKET menjadi ruang bagi masyarakat untuk berinteraksi dan mengalami kebudayaan secara langsung.

“RUMAKET menjadi ruang bagi masyarakat untuk bertemu, berinteraksi, dan mengalami kebudayaan secara langsung. Kami ingin kebudayaan tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena kebudayaan akan terus hidup jika masyarakat mengenal, mencintai, dan ikut merawatnya,” ujar Yetti.

Melalui RUMAKET, kebudayaan dihadirkan sebagai pengalaman bersama yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Ruang perjumpaan semacam ini diharapkan dapat memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menjaga dan meneruskan kebudayaan Yogyakarta kepada generasi berikutnya.

Liputan: W Maryanti

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *