Bangkitkan Kembali Pos Kesehatan di Pondok Pesantren, Ini Pernah Dibangun Menkes Siti Fadilah

Sudah saatnya pondok-pondok pesantren seluruh Indonesia ikut kembali aktif melayani kesehatan rakyat sekitarnya. (foto/buleg)

Jakarta, Proliman News – Sudah saatnya pondok-pondok pesantren seluruh Indonesia ikut kembali aktif melayani kesehatan rakyat sekitarnya.

Hal ini pernah didorong oleh Menteri Kesehatan 2004-2009 Dr. dr. Siti Fadilah, Sp.JP(K) pada tahun 2006 sampai 2009.

Demikian Miftahiyah dari Fatayat Nahlatul Ulama (NU) di Jawa Timur menegaskan tugas pondok-pondok pesantren NU di tengah masyarakat.

“Dulu saya masih inget, di semua pondok pesantren berdiri Pos Kesehatan Pesantren yang ramai dikunjungi masyarakat desa sekitar pesantren,” ujar Miftahiyah di Jakarta, Senin (12/10).

Apalagi saat ini menurutnya, masyarakat di desa-desa pelosok sulit mendapatkan layanan kesehatan.

Menurut Miftahiyah, membangun fasilitas kesehatan semacam puskesmas apalagi rumah-rumah sakit di desa-desa seluruh Indonesia, perlu biaya besar.

Namun Menkes Siti Fadilah saat itu memberikan terobosan jalan keluar yang sangat strategis dengan mendirikan Poskestren di setiap pondok pesantren.

“Sayangnya setelah Menkes Siti Fadilah tidak lagi menjabat, program Poskestren berhenti di pondok-pondok itu. Padahal persoalan kesehatan semakin kompleks dan pemerintah tidak bisa jalan sendiri mengatasi persoalan,” ujar Miftahiyah.

Ia mengatakan bahwa masalah kesehatan bukan hanya tanggung jawab pemerintah tapi seluruh rakyat Indonesia.

Inilah yang menurut Miftahiyah, pentingnya menggerakkan kembali perjuangan Menkes Siti Fadilah dengan memberdayakan dan membangkitkan masyarakat terlibat salam pelayanan kesehatan.

Miftahiyah mengingatkan, selain Poskestren, Siti Fadilah juga mendorong berdirinya Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) dan program Desa Siaga. Semuanya berorintasi pada pemerataan layanan kesehatan untuk rseluruh rakyat.

BACA JUGA  Tanggap Kekeringan, Ribuan Liter Air Bersih Disalurkan di Kapanewon Pengasih dan Kokap

“Sayangnya setelah para menteri yang mengantikan Siti Fadilah, tidak paham bagaimana melayani 200 an juta rakyat Indonesia. Akibatnya ya seperti hari ini. Orang kaya memilih berobat di luar negeri, orang miskin hanya bisa menunggu nasib,” kata Miftahiyah.

Ia mengatakan dari semua program Siti Fadilah, hanya DKR yang tersisa tetap mendampingi dan memperjuangkan hak kesehatan rakyat yang sakit.

Miftahiyah berharap Poskestren bisa dibangkitkan kembali untuk ikut melayani rakyat.

“Bukan hanya pesantren, bahkan mesjid dan rumah-rumah ibadah lainnya, gereja, vihara dan klenteng harus didorong menjadi pusat-pusat layanan kesehatan masyarakat. Agar meringankan beban di Puskesmas dan rumah sakit

Sehingga masyarakat.tidak kesulitan untuk berobat gratis,” tegas Miftahiyah.

Pesantren pernah berperan penting dalam melayani kesehatan masyarakat di desa-desa lewat layanan di Poskestren.

Program ini menjadi penting saat Siti Fadilah memimpin Departemen Kesehatan RI.

Hal ini diungkapkan Achmad Mundzir, pengelola Balai Pengobatan Sayid Abdurrahman, Jombang kepada pers di Jakarta, Senin (12/10).

“Saya dan ibu punya misi memeratakan kesehatan rakyat lewat pesantren. Karena tidak mungkin Ibu bikin rumah-rumah sakit yang biayanya besar banget. Maka saya usul pendirian pos kesehatan pesantren (poskestren).

Mundzir menjelaskan, bangunannya dari Menteri Kesehatan, peralatan dan dokter dari Dinas Kesehatan,  yang direkomendasikan oleh Menteri Kesehatan.

“Sehingga setiap pesantren besar kecil di seluruh Indonesia punya Poskestren dan ikut serta melayani kesehatan masyarakat,” jelasnya.

BACA JUGA  Kapal Cepat Rombongan Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda saat Liputan Gunung Anak Krakatau

Tugas Poskestren menurut Mundzir memastikan kesehatan di lingkungan dalam pesantren termasuk kesehatan santri dan kyai. Sehingga menurunkan angka TBC dan menekan resiko penyakit lainnya.

Pelatihan kesehatan juga diberikan oleh dinas kesehatan setempat agar para santri bisa ikut menjaga kesehatan desa-desa sekitar pesantren.

“Rakyat kalau sakit tidak susah mencari tempat berobat gratis karena di pesantren disediakan dokter dan obat-obatan,” jelas Mundzir.

Ia menceritakan betapa cintanya pemerintah RI pada NU saat itu. Padahal Menkes RI adalah orang Muhammadiyah.

“Tapi, setelah kunjungan ke Jombang itu, Ibu hadir  di beberapa pondok pesantren lain, seingati saya ada 30 an pondok pesantren besar dan kecil di Jawa Timur,” katanya.

Kunjungan selalu dilakukan setiap hari Sabtu. Antara lain Pondok Pesantren Darul Ulum, Pondok Pesantren Tebuireng, Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Pondok Pesantren Langitan, Pondok Pesantren Genggong, dan banyak lagi.

Liputan : Budi Legowo Santoso

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *