Saptono Tanjung Kritik 7500 Obor Perayaan HUT ke-75 Kulon Progo, Minta Dampak Lingkungan Diperhitungkan

Saptono Tanjung Kritik 7500 Obor Perayaan HUT ke-75 Kulon Progo, Minta Dampak Lingkungan Diperhitungkan. (Foto/Dok)

Kulon Progo, Proliman News – Perayaan Hari Jadi ke-75 Kabupaten Kulon Progo tidak cukup hanya menonjolkan kemeriahan dan simbol budaya.

Dampak kegiatan terhadap lingkungan, termasuk potensi emisi karbon dari penggunaan obor dan aktivitas yang melibatkan ribuan orang, perlu menjadi pertimbangan pemerintah daerah.

Hal itu disampaikan Direktur Yayasan Damar Alam Lestari sekaligus peraih penghargaan Kalpataru, Saptono Tanjung menanggapi rencana Pentas Seni Kolosal – Nggugah Budaya Menoreh “Nyawiji Anjayeng Bawana” yang akan digelar dengan membawa 7500 obor.

Saptono Tanjung menilai setiap kegiatan publik berskala besar semestinya mempertimbangkan jejak lingkungan. Menurut dia, perayaan hari jadi daerah justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian terhadap alam melalui aksi nyata.

“Kalau acara itu dihadiri 7.500 orang dan ditambah beberapa undangan, sebenarnya berapa CO₂ yang dilepaskan? Kemudian, berapa emisi yang ditimbulkan oleh obor yang digunakan?” ujar Saptono kandidat Kalpataru Lestari 2026 Rabu , (14/10/2026).

Ia menegaskan, persoalan tersebut perlu menjadi bahan evaluasi agar penyelenggaraan kegiatan daerah tidak berhenti pada aspek seremonial. Meski demikian, besaran emisi dari kegiatan tersebut perlu dihitung berdasarkan data penggunaan bahan bakar, jumlah obor, serta aktivitas pendukung lainnya.

Saptono juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan di tengah ancaman perubahan iklim. Menurut dia, perlindungan alam, ketersediaan air, dan keberlanjutan ekosistem perlu diterjemahkan dalam kebijakan serta kegiatan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

BACA JUGA  Diresmikan atau Tidak Jembatan Pandansimo Pertengahan September 2025 Mendatang Dibuka Untuk Umum

Merti Sendang Lebih Konkret

Terkait gagasan penggunaan air kendi sebagai simbol perayaan, Saptono menyatakan sepakat dengan upaya mengangkat nilai budaya dan penghormatan terhadap air. Namun, ia mengusulkan agar tradisi tersebut dikembangkan menjadi gerakan konservasi yang lebih luas dan terukur.

Salah satu alternatif yang ditawarkan adalah menghidupkan kembali tradisi Merti Sendang atau Merti Belik, yakni kegiatan merawat sumber air yang selama ini tumbuh di tengah masyarakat.

“Pada saat ini, dengan HUT Kulon Progo, gerakan Merti Blik 1.000 belik atau 1.000 sendang itu lebih baik. Gerakan-gerakan itu perlu dikembangkan,” katanya.

Menurut Saptono, pelestarian sumber air akan memberikan manfaat jangka panjang apabila disertai pemeliharaan lingkungan di sekitarnya. Gerakan tersebut juga dapat menjadi sarana menguatkan kembali keterlibatan masyarakat dalam menjaga sumber kehidupan.

Ia mengusulkan kegiatan membawa air menggunakan wadah bekas air mineral yang kemudian dikumpulkan untuk menyiram tanaman yang membutuhkan air. Sasaran kegiatan bisa diarahkan ke taman kota maupun tanaman penghijauan di tepi jalan yang rawan kekeringan.

Sejumlah tanaman di sepanjang Jalan Pahlawan dan ruas jalan lainnya, menurut dia, dapat menjadi sasaran penyiraman.

“Dengan begitu, simbol penghormatan terhadap air tidak hanya ditampilkan dalam prosesi, tetapi juga diwujudkan dalam aksi konservasi,” tandas Tanjung yang merupakan peraih Kalpataru 2017 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atas jasanya dalam menjaga kelestarian lingkungan dan ekosistem pesisir.

BACA JUGA  Kakek MU (81) Meninggal Dunia Setelah Tertabrak Truck Box di Jalan Nagung - Brosot Lendah Kulon Progo

Sampah Plastik Jangan Berakhir Jadi Limbah

Saptono turut menyoroti peluang pemanfaatan wadah bekas air mineral agar tidak sekadar menjadi sampah setelah kegiatan selesai. Ia menilai, pengelolaan wadah tersebut dapat melibatkan bank sampah, pengepul, serta kelompok masyarakat yang mengembangkan keterampilan daur ulang.

“Galon-galon mineral itu bisa dimanfaatkan oleh para pengepul atau bank sampah untuk menjadi masukan bagi mereka, atau didaur ulang maupun digunakan kembali menjadi produk yang lebih bermanfaat,” ujarnya.

Ia mencontohkan kemungkinan pengembangan produk kreatif dari bahan bekas, termasuk pemanfaatan galon plastik sebagai bahan kerajinan. Inovasi semacam itu, menurut dia, berpeluang memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus mengurangi timbulan sampah.

Namun, pemanfaatan kembali plastik tetap perlu memperhatikan keamanan bahan, kelayakan proses pengolahan, dan jenis produk yang dihasilkan agar tidak menimbulkan persoalan lingkungan baru.

Lingkungan Menjadi Wajah Daerah

Lebih jauh, Saptono mengingatkan bahwa kondisi lingkungan mencerminkan keseriusan pemerintah dan masyarakat dalam merawat daerahnya. Karena itu, pembangunan maupun penyelenggaraan kegiatan publik semestinya tidak mengabaikan keberlanjutan alam.

“Lingkungan itu adalah wajah kabupaten kita. Begitu lingkungan jelek, kabupaten kita juga terlihat jelek,” tegasnya.

Ia berharap kritik terhadap konsep perayaan Hari Jadi ke-75 Kulon Progo dapat menjadi masukan untuk penyelenggaraan kegiatan serupa pada masa mendatang. Menurut dia, perencanaan acara perlu melibatkan berbagai pihak, bukan hanya penyelenggara dan unsur pemerintahan.

BACA JUGA  Bukan Sekadar Mainan Anak, Lomba Ketapel di Pasar Kliwon Solo Jadi Ajang Jaring Atlet Potensial

“Sebagai masukan, kegiatan-kegiatan itu sebaiknya dimusyawarahkan atau dikonsultasikan dengan penggiat lingkungan, penggiat adat, dan sebagainya, sehingga bisa merefleksikan budaya kita yang sesungguhnya,” katanya.

Saptono menilai, pelibatan komunitas lingkungan dan pelaku adat penting agar nilai budaya yang diangkat tidak terlepas dari praktik pelestarian alam. Dengan demikian, perayaan hari jadi daerah dapat menjadi ruang untuk memperkuat tradisi sekaligus menjawab persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat.

Evaluasi tersebut juga dapat menjadi kesempatan bagi Pemkab Kulon Progo untuk menetapkan indikator yang lebih jelas, mulai dari penghitungan emisi, pengurangan sampah, hingga dampak nyata kegiatan terhadap konservasi air dan penghijauan.

“Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan perayaan tidak hanya diukur dari jumlah peserta atau kemeriahan acara, tetapi juga dari manfaat yang ditinggalkan bagi lingkungan dan masyarakat,” pungkasnya.

Liputan: W Maryanti

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *