Kenapa Hari Raya Idul Fitri Juga Disebut Sebagai Perayaan Lebaran ? Bukankah Lebaran Tradisi Hindu ?

Polres Kulon Progo menggelar acara buka bersama warga Panti Asuhan Ibnu Fattah yang terletak di Karangtengah Kidul, Margosari, Pengasih, Kulon Progo, Jumat (7/3/2025).(foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News – Masyarakat Indonesia juga menyebut hari raya Idul Fitri sebagai perayaan Lebaran.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Lebaran didefinisikan sebagai hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Mengapa masyarakat Indonesia menyebut hari raya Idul Fitri dan Idul Adha sebagai perayaan Lebaran ? Sejak kapan istilah perayaan Lebaran digunakan?

Sejumlah literatur menyebut, Lebaran semula dipakai dalam tradisi Hindu, yang berarati usai.

Istilah ini tetap dipertahankan oleh para Wali, agar mereka yang baru saja masuk Islam masih tetap familier dengan budaya lamanya.

Lebaran dalam bahasa Betawi berarti luas , atau dalam bahasa Jawa disebut sebagai usai.

Kapan mulai dipakainya istilah perayaan Lebaran, untuk Idul Fitri, tidak jelas benar.

Yang pasti Lebaran tidak dikenal dalam bahasa Arab. Lebaran hanya ada dalam bahasa Betawi, dan Jawa.

Hari Raya Idul Fitri adalah perayaan besar yang menjadi momen kemenangan bagi seluruh umat muslim.

Momen kemenangan ini dicapai setelah umat muslim menjalankan ibadah puasa dan berjuang mengendalikan nafsu serta keburukan di bulan Ramadan.

Selain itu, Hari Raya Idul Fitri juga menjadi momen bagi umat muslim untuk saling bermaafan.

Sejarah Hari Raya Idul Fitri berkaitan erat dengan dua peristiwa dalam sejarah Islam, yaitu Perang Badar dan Hari Raya masyarakat Jahiliyah.

BACA JUGA  Bela Trans 7 Stevanus Rinaldy Seorang Youtuber Jember Didatangi Barisan Ansor Sebaguna (Banser)

Perayaan Idul Fitri pertama kali digelar pada tahun ke-2 Hijriah, yaitu bertepatan dengan kemenangan kaum Muslimin pada Perang Badar.

Usai perang, secara tidak langsung umat muslim merayakan kemenangan dengan penuh rasa syukur dan gembira.

Bukan hanya kemenangan dalam perang, tetapi juga kemenangan karena berhasil berpuasa selama satu bulan di saat itu.

Kemudian hal ini menjadi tradisi dan ibadah yang dilakukan umat muslim hingga saat ini.

Sebelum agama Islam datang, kaum Arab Jahiliyah merayakan dua hari raya yang sangat meriah.

Disebutkan dalam hadist bahwa Idul Fitri yang kini dirayakan setiap tahun, tak lepas dari sejarah tradisi masyarakat Jahiliyah yakni kebiasaan khusus bermain dalam dua hari.

Kemudian, setelah Rasulullah mendapat perintah untuk menyebarkan Islam dan jalan kebenaran yang berasal dari Allah, tradisi tersebut berubah.

Dalam hal ini, Rasulullah mengganti hari raya masyarakat jahiliyah dahulu menjadi perayaan yang lebih baik, yaitu Idul Fitri.

“Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda, kaum jahiliyah dalam setiap tahunnya memiliki dua hari yang digunakan untuk bermain, ketika Nabi Muhammad datang ke Madinah, Rasulullah bersabda: kalian memiliki dua hari yang biasa digunakan bermain, sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan hari yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR Abu Dawud & an-Nasa’i)

Di zaman jahiliah dua hari tersebut, diisi oleh perayaan pesta pora, dengan tradisi mabuk-mabukan dan menari.

BACA JUGA  Disambut Ribuan Santri, Gus Kikin Bawa Tongkat Mbah Hasyim Usai Terpilih Ketum PBNU

Konon, ini merupakan pengaruh budaya dari orang Persia kuno. Kemudian setelah turun kewajiban puasa Ramadan, Rasulullah mengganti perayaan tersebut menjadi Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha yang diperingati setiap tahun, hingga saat ini.

Dijelaskan bahwa Allah menjadikan tiga hari raya di dunia bagi orang-orang yang beriman, yaitu Hari Raya Jumat, Hari Raya Idul Fitri, dan Hari Raya Idul Adha.

Artinya, umat muslim yang menjalankan ibadah puasa dan amalan sunah lain di bulan Ramadan, diharapkan dapat meningkatkan kualitas diri dan iman dengan menjalankan ibadah yang lebih baik usai Ramadan.

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *