Bapak Saya Kalau Kirim Wesel Selalu Lebih, Gus Baha: Lebihnya Itu Buat Jajan Dengan Teman-temanmu !

Alumni SMA Bosa lintas angkatan gelar aksi berbagai takjil di kawasan Kotabaru, Kota Yogyakarta.(foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News – Gus Bahaudin Nursalim, atau Gus Baha tentu bukan seorang guru alim yang asing bagi masyarakat kita di Indonesia.

Dalam satu mejelis, Gus Baha bercerita, dulu saat ia masih mondok atau nyantri setiap kali mendapatkan kiriman uang dari ayahnya selalu dilebihi.

“Bapak saya itu kalau kirim wesel ( dulu pengiriman uang dengan wesel.red). Kalau kirim Rp 500 ribu pasti dilebihi Rp 100 ribu,” katanya.

Dengan pesan yang sangat teramat mendalam, dan membuat Gus Baha menghayatinya hingga tua sekarang sekarang ini.

“Itu yang Rp 100 ribu buat jajan dengan teman-temanmu, yang Rp 500 ribu buat keperluan hidupnya selama sebulan di pondok,” kata bapaknya.

Suatu ketika Gus Baha bertanya kepada bapaknya, kenapa bapak sangat menghormati teman-temannya ?

“Karena saya tidak mampu menghidupimu selama sebulan penuh di pondok,” jawab bapaknya.

Baru tahu sekarang, ternyata benar bahwa yang Rp 500 ribu itu memang tak cukup untuk hidupnya sebulan di pondok. Paling banter hanya cukup untuk dua kinggu atau seminggu.

“Ternyata bapak paham benar bahwa dua minggu uang wesel bapak saya habis, dan sampai akhir bulan saya masih bisa hidup. Dari mana ? Sokongan banyak teman-teman,” katanya.

Maka wesel lebih Rp 100 ribu itu menjadi bagian sodakoh bapaknya kepada teman-teman Gus Baha karena mereka telah memperpanjang hidup Gus Baha selama sebulan penuh di pondok.

BACA JUGA  Hari Ini Pencarian Korban Runtuhnya Pospes Al Khoziny Dihentikan Jumlah Korban Meninggal 54 Orang

Atau anak kuliahan lah, pasti kiriman uang dari orang tuanya pasti tidak cukup untuk biaya hidup sebulan. Ada yang ekstrem kiriman orang tua bahkan habis hanya dalam satiu minggu, atau hanya beberapa hari.

Lalu setelah kiriman habis makan apa? Kenapa selama sebulan kita masih bisa hidup ? Ya karena ada banyak teman yang saling memberi mengisi dan berbagi.

“Itu pentingnya memahami, atau memiliki ilmu tentang sodakoh, karena semuanya ada sebab musababnya dan itu penting,” kata Gus Baha.

Sekarang barulah Gus Baha mengerti, ternyata uang Rp 100 ribu yang selalu diamanahkan untuk jajan dengan teman-temannya itu adalah bagian dari pentingnya bersodakoh.

Pertama, karena kita tidak pernah tahu dari mana uang yang datang kepada kita hingga bisa hidup sampai sejauh ini? Adakah uang yang kita makan selalu bersih? Atau seberapa uang bersih yang selalu menghidupi kita?

Kedua, kapan atau dalam waktu apa (siang, malam, sunyi, sepi) mendapatkan uang untuk hidup hingga bisa hidup sampai sekarang ini.

Maka bersodakohlah sebagaimana konsep Sayidina Ali, yakni membagi harta yang kau punya menjadi empat bagian.

“Sayidina Ali jika ingin bersodakoh maka berapapun dibagi empat. Jika kita ingin sodakoh Rp 1000 maka, bagi empat dulu yakni masing-masing Rp 250,” katanya.

Amalan ini lalukan meski sekali seumur hidup, sehingga suatu ketika kita siap untuk menghadapi hisab atas sodakoh yang kita lalukan, katanya.

BACA JUGA  Maskapai Garuda dan Saudi Airlines Ditetapkan Sebagai Pengangkut Jamaah Haji 2026/1447 Hijriah

Pertama, lakukan sodakoh secara jahron atau sodakoh alamiah, terbuka dan terlihat oleh umum. Lalu sodakoh siron, atau yang dilakukan dalam keheningan.

Kemudian, sodakoh lailan malam hari dan sodakoh disaat naharon di siang hari.

Kepada siapa, sodakoh kita berikan, tentu pada masing-masing waktu ada yang berhak dan membutuhkan.

Penulis : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *